Problematika Kehidupan Ketika Keuangan Menjerit

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

30HMBCM

Oleh: Cokorda Dewi

CemerlangMedia.Com — Hidup dalam naungan sistem sekuler kapitalisme telah menghantarkan kebanyakan orang menjadi konsumtif, fomo, dan bergaya hidup hedon. Apalagi ketika akan menjumpai momen lebaran, tekanan sosial dan beban ekonomi keluarga makin terasa menghimpit. Menghadirkan problematika kehidupan yang tak berkesudahan, ketika keuangan keluarga kian menjerit.

Dilansir di berbagai media massa, terjadi tekanan daya beli masyarakat menjelang lebaran. Akibat dari membengkaknya kebutuhan lebaran di tengah melambatnya pertumbuhan upah dan adanya inflasi yang menanjak (kompas.id, 22-03-2026).

Fenomena tahunan menjelang lebaran ini menunjukkan rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia. Hal ini berimbas pada kelas menengah yang makin bergantung pada utang jangka pendek (inilah.com, 14-03-2026).

Pemenuhan kebutuhan yang meningkat menjelang lebaran, memicu seseorang mendapatkan dana cepat dari pinjaman, baik itu ke perbankan, lembaga gadai, pinjaman online (pinjol) atau pinjaman daring (pindar) yang saat ini sedang marak terjadi (validnews.id, 18-03-2026).

Kondisi tekanan daya beli masyarakat menjelang lebaran selalu berulang tiap tahunnya. Disebabkan adanya inflasi, lonjakan harga-harga barang dan jasa makin melambung tinggi, serta tanpa disertai pertumbuhan upah sehingga masyarakat harus merogoh kocek makin dalam, demi memenuhi kebutuhan rutin maupun semi rutin dan juga demi euforia berlebaran.

Stimulus fiskal yang dilakukan pemerintah, berupa bantuan sosial yang masih bocor, tunjangan hari raya (THR) yang menyusut akibat terpotong pajak, diskon tiket transportasi yang harganya tetap terasa berat, dan pasar murah, tidak mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sebab, jangkauan dan manfaatnya terbatas serta tidak merata pada seluruh masyarakat.

Di tengah rapuhnya daya beli masyarakat, kebanyakan orang kelas menengah, menempuh jalur cepat dalam memperoleh tambahan dana. Sudah menjadi rahasia umum, dengan tingginya tekanan sosial dan gaya hidup, turut mendorong kebanyakan para pemudik terpaksa berutang dan negara memfasilitasi rakyat dalam membantu perputaran ekonomi melalui utang untuk memenuhi kebutuhan rutin dan semi rutin, termasuk demi euforia berlebaran. Padahal tidak ada pertumbuhan upah.

Bahkan, era digitalisasi telah membawa alternatif solusi, yaitu berupa pinjol dan pindar. Melonjaknya transaksi pinjol dan pindar menjelang lebaran, dipicu oleh kebutuhan konsumtif sebagai akibat dari budaya fomo dan gaya hidup hedon yang kini banyak dijumpai di masyarakat, demi euforia berlebaran.

Alternatif pinjol dan pindar ini justru makin membahayakan ekonomi keluarga. Sebab, tanpa disadari, membuat keluarga makin terjerat utang ribawi pasca lebaran. Pendapatan yang tidak bertambah, sementara kebutuhan keluarga harus tetap terpenuhi. Ditambah lagi dengan beban utang yang menjerat leher.

Hal ini dapat menimbulkan masalah baru, yaitu pengembalian pinjaman yang bermasalah alias kredit macet. Berdampak pada beban psikoligis keluarga jika tidak dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditentukan. Tentu saja beban pertanggungjawaban kelak di akhirat yang tak ringan. Riba dalam Islam adalah termasuk maksiat. Dosa riba bukanlah dosa kecil, kecuali hanya dengan bertobat yang sungguh-sungguh. Insyaallah.

Masyarakat membutuhkan sistem ekonomi yang dapat menyejahterakan, bukan sekadar ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata pada masyarakat bukan hanya sebatas pada pemilik modal saja.

Masyarakat membutuhkan sistem ekonomi yang stabil, baik dari harga barang, jasa, maupun nilai mata uang. Juga membutuhkan lapangan pekerjaan dengan upah yang layak agar dapat memenuhi kebutuhannya sehingga bisa terhindar dari jeratan utang ribawi, bukan dengan memfasilitasi utang.

Hal ini hanya bisa dilakukan melalui sistem ekonomi Islam yang harus sejalan atau sepakat dengan sistem politik Islam. Sebab, butuh kekuatan politik agar negara terbebas dari arus globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga sistem ekonomi Islam dapat diterapkan untuk meningkatkan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Penerapan politik dan ekonomi Islam, sebagaimana yang disyariatkan oleh Allah Swt., dengan sendirinya akan dapat meningkatkan ketakwaan. Tidak hanya pada masing individu saja, tetapi juga masyarakat dan sistem negara.
Wallahu a’lam bisshawwab.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 29

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *