The Lying (bag 1)

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Shunink

CemerlangMedia.Com — “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah Swt sebagai orang yang jujur.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Bunda, aku mau dompet kayak Kak She,” teriak Ayya sambil berlari membawa dompet berwarna merah blink-blink lengkap dengan gambar Princess Sofia, salah satu tokoh film kartun.

“Hemm… Emang Ayya tau, apa manfaat dompet kecil begitu?” tanya Bunda dengan santai.

“Tau-lah, Bun. Buat simpan duit koin, kan?” jawab Ayya, adik She yang berusia enam tahun.

“Kembalikan! Kalau mau pinjam itu izin dulu, jangan main rebut aja! Enggak sopan!” tegur She dengan nada kesal pada Ayya.

“Pelit!” teriak Ayya.

“She, pinjami sebentar. Insyaallah, tidak akan rusak, Bunda yang akan tanggung jawab jika dompet itu rusak oleh Ayya,” pinta Bunda.

“Enggak, ah. Kalau enggak rusak, pasti hilang. Karena Dik Ayya enggak amanah, Bun?” elak She.

“Kakak su’udzan!” sahut Ayya.

“Sudah, sudah!” celetuk Bunda yang berusaha menenangkan suasana.

“She, di mana kamu beli dompet itu dan berapa harganya?” tanya Bunda.

“She tidak beli, Bun. Ini nemu di jalan dekat lapangan futsal.” Setelah menjawab pertanyaan Bunda, She pun berlalu begitu saja dan masuk ke kamar tidur.

Tiba-tiba Ayya meraih tangan Bunda dan berbisik, “Bun, Kak She bohong! Dia beli dompet itu di warung Bu Bulan, di depan sekolah Ayya.”

“Ayya yakin?” tanya Bunda heran.

“Iya, dia beli bareng Kak Dina, dompetnya sama, cuma beda warna aja,” jelas Ayya.

Mendengar kesaksian Ayya, Bunda hanya tersenyum, meskipun hatinya mulai berperang antara percaya dan tidak terhadap kabar tersebut.

Keesokannya…

“She, ternyata Bu Bulan juga jual dompet seperti milikmu.” Bunda mencoba membuka pembicaraan dengan She.

“Iya, dompet ini memang lagi trend, Bunda,” respons She sambil menunjukan dompet berbentuk semi kotak dan ada blink-blink yang bisa berubah warna jika disentuh.

“Bunda jadi kepikiran… gimana kalau yang punya dompet ini sedang mencari dompetnya. Kan, She memungut dompet ini di jalan yang dilalui oleh anak-anak SD Kartini,” kata Bunda yang ingin mengulik kebenaran ucapan Ayya.

“Kan tidak apa, Bun. Ini termasuk barang temuan? Sah-sah saja, kan? Kalau She menemukan dan sekarang jadi milik She, juga,” protes She dengan lugas.

“Hanya saja dalam Islam, ada aturannya, Nak. Setidaknya harus dicari tahu dulu siapa yang pemiliknya. Minimal, She menulis di sebuah kertas dengan tulisan, ‘Siapa yang merasa kehilangan dompet, bisa hubungi aku,’gitu,” saran Bunda.

“Ih, ribet amat, Bun. Pasti banyak yang ngakulah, siapa yang enggak mau dengan dompet ini,” elak She atas saran Bunda.

“Iya, tapi kan, mereka harus sebutkan ciri-ciri dompetnya. Jika ada yang betul, nah… bisa jadi, dialah pemiliknya,” kata Bunda sambil tersenyum tipis.

“Biar aja, deh. Dah jadi milik She, kok,” ucap She yang enggan menerima dan mendengar saran dari Bunda.

Bunda She mulai was-was dengan effort anaknya yang menolak solusi Islam terkait barang temuan.

“Lagian, Bun. Ini udah berapa hari… enggak mungkin ada yang cari,” celetuk She.

Bunda She hanya diam, beliau mulai gereget dengan semua kalimat yang keluar dari lisan anaknya.

“She, ada yang bilang sama Bunda bahwa kamu mendapatkan dompet itu dengan cara membelinya di toko Bu Bulan. Bukan menemukan di jalan dekat lapangan futsal. Coba jujur sama Bunda, mana yang benar?” tanya Bunda dengan segenap rasa cemas akan reaksi anaknya.

Mendengar hal itu, She terdiam beberapa saat.

Lalu, She pun bertanya, “Siapa yang bilang begitu? Tahu apa dia bilang begitu?”

“Bunda hanya bertanya, mana yang benar?” tegas Bunda.

“Bunda tidak percaya dengan ceritaku, tentang dompet ini?” tanya She.

Sejenak Bunda She terdiam, beliau mulai merasakan bahwa ada yang beda dalam diri She.

“Harga dompet itu, dua puluh lima ribu rupiah,” ucap Bunda.

She menatap mata Bundanya yang tiba-tiba memerah karena menahan air mata. She hanya diam dengan wajah gugup. Lalu, Bunda menarik napas panjang dan tersenyum sambil mengelus pundak anaknya.

“Maafkan, Bunda. She sudah baligh, sudah remaja. Apa pun yang kamu lakukan sudah jatuh hukum syariat. Pesan Bunda, jangan pernah melanggar larangan Allah, ya Nak?” kata Bunda yang hendak berdiri meninggalkan She.

Dengan sigap, She meraih tangan Bundanya dan berkata, “Maaf, Bunda. She memang beli dompet ini di toko Bu Bulan, memakai uang belanja Bunda. She ambil dari dalam dompet Bunda tanpa izin. Maaf….”

Bunda yang mendengar pengakuan She menjadi sedih, beliau memeluk She dan melepaskan tangisnya dalam lirih.

Hati Bunda terasa terpukul, She telah berani mengambil yang bukan haknya.

“Apa yang terlewat aku sampaikan padanya, Ya Allah…” gumam Bunda She dalam hati.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 36

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *