Oleh: Yulweri Vovi Safitria
Bab 6 Jejak Kelam di Pasir Putih
CemerlangMedia.Com — Pantai Pasir Putih yang biasanya menjadi tempat paling damai di desa itu, kini berubah menjadi garis depan ketegangan yang mencekam. Sisa-sisa badai semalam meninggalkan gelombang yang masih berdebur keras, menghantam bibir pantai dengan buih-buih putih yang tampak seperti kemarahan laut yang belum tuntas. Namun, bukan itu yang membuat Mala terpaku pagi ini.
Di atas hamparan pasir yang biasanya bersih dan halus, kini terbentang jejak-jejak kelam yang merusak pemandangan. Garis-garis hitam pekat minyak mentah berceceran di sepanjang pesisir, bercampur dengan bangkai ikan-ikan kecil yang terdampar. Namun yang lebih mengerikan adalah jejak bot militer yang tumpang tindih dengan bekas ban kendaraan berat yang dipaksakan masuk ke area konservasi.
Mala berjalan perlahan, memegang kotak besi peninggalan Kakek Usman erat-erat di balik jaketnya. Maria mengikutinya dari belakang, kameranya tak henti-henti membidik bukti kerusakan lingkungan yang terjadi dalam semalam.
“Lihat ini, Mala,” Maria menunjuk ke sebuah area di mana pasir putihnya tampak digali secara kasar dan ditutup kembali dengan tergesa-gesa.
“Ini bukan sekadar tumpahan minyak. Ini pembuangan yang disengaja.”
Mala berlutut, menyentuh gundukan pasir itu. Bau kimia yang ia cium di mercusuar tempo hari, kini terasa sepuluh kali lebih kuat di sini. Saat ia menggali sedikit dengan tangannya, ia menemukan ujung sebuah jerigen plastik hitam yang sudah pecah, mengeluarkan cairan kental berwarna hijau gelap yang berbau busuk.
“Mereka mulai menanamnya,” bisik Mala dengan suara bergetar.
“Mereka tidak menunggu pelabuhan itu selesai. Mereka menggunakan kekacauan semalam saat semua orang fokus pada pengejaran Kakek Usman untuk membuang limbah ini ke sini.”
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang teratur terdengar dari balik rimbunnya pohon-pohon kelapa. Mala dan Maria segera bersembunyi di balik sebuah perahu nelayan yang terbalik dan rusak akibat hantaman tongkang kemarin.
Rombongan Miller muncul. Kali ini mereka tidak sendiri. Di samping Miller, berjalan seorang pria lokal paruh baya yang mengenakan batik rapi, tetapi wajahnya tampak tegang dan penuh keringat. Mala mengenali pria itu—Pak Kades, orang yang seharusnya melindungi mereka.
“Saya sudah katakan, Tuan Miller, warga mulai curiga dengan bau ini. Kita tidak bisa terus melakukannya di siang hari,” ucap Pak Kades dengan nada memohon.
Miller berhenti tepat di depan lubang yang tadi digali Mala. Ia melihat jejak tangan di pasir yang masih basah. Matanya yang biru menyapu sekeliling pantai dengan tajam.
“Siapa pun yang menggali ini, mereka masih ada di sekitar sini,” Miller berkata dingin. Ia memberi kode kepada anak buahnya untuk menyebar.
“Pak Kades, urusan kecurigaan warga adalah tugas Anda. Tugas saya adalah memastikan logistik dari Singapura ini masuk ke perut bumi Malaka sebelum tim inspeksi pusat datang minggu depan. Jika Anda gagal menenangkan warga, maka kesepakatan renovasi kantor desa dan dana pensiun Anda akan hangus.”
Pak Kades tertunduk lesu, tampak seperti kerupuk yang tersiram air.
“Baik, Tuan. Saya akan umumkan bahwa ini adalah fenomena alam, ‘red tide’ atau semacamnya.”
“Bagus. Pastikan juga guru perempuan itu, Mala, tidak banyak bicara lagi. Dia mulai menjadi duri yang mengganggu,” tambah Miller sambil menginjak tumpahan minyak di pasir dengan botnya, meninggalkan jejak kelam yang dalam.
Di balik perahu, Mala menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan amarah. Pengkhianatan Pak Kades adalah pukulan telak. Orang yang mereka percayai untuk memimpin, justru menjadi jembatan bagi kehancuran mereka sendiri.
Setelah rombongan Miller menjauh menuju barak mereka di ujung pantai, Mala dan Maria keluar dari persembunyian. Wajah Mala tampak keras, matanya yang biasanya lembut kini setajam sembilu.
“Kita tidak bisa hanya diam dan merekam, Maria,” ucap Mala.
“Jejak kelam di pasir ini akan menjadi saksi bisu kematian desa kita jika kita tidak bertindak sekarang. Kita harus membawa bukti fisik ini keluar dari pulau.”
“Tapi bagaimana? Seluruh akses dermaga dijaga ketat oleh kapal abu-abu itu,” ujar Maria ragu.
Mala teringat sandi Kakek Usman: 04-12. Arus balik.
“Ada satu jalan. Jalur tikus yang digunakan penyelundup zaman dahulu melalui celah karang di belakang mercusuar. Hanya perahu kecil tanpa mesin yang bisa lewat tanpa terdeteksi radar bawah laut mereka. Kita akan menggunakan sampan tua milik ayahku,” Mala memutuskan.
Mereka kembali ke desa dengan mengendap-endap. Di sepanjang jalan, Mala melihat wajah-wajah warga yang makin kusam. Beberapa nelayan duduk di depan rumah dengan jaring yang kering, tak berani melaut karena blokade kapal asing. Anak-anak yang biasanya berlarian, kini dikurung di dalam rumah oleh orang tua mereka yang ketakutan.
Sampainya di rumah, Mala melihat ayahnya sedang duduk di kursi kayu, menatap ke arah laut dengan pandangan yang sulit diartikan. Pak Hamid melihat tangan Mala yang kotor oleh minyak hijau.
“Kau melihatnya, kan?” tanya Pak Hamid pelan.
Mala mengangguk.
“Pak Kades terlibat, Pak. Mereka membuang racun di Pasir Putih.”
Pak Hamid berdiri, masuk ke dalam kamar, dan keluar membawa sebuah bungkusan kain tua. Di dalamnya terdapat sebuah kompas kuno dan sebilah keris warisan keluarga.
“Ayahmu ini sudah terlalu tua untuk bertarung di laut, Mala. Tapi ayah tahu, jalur air lebih baik dari radar-radar buatan manusia itu. Jika kau ingin pergi, pergilah malam ini saat bulan tertutup awan. Ayah akan mengalihkan perhatian para penjaga di gerbang masuk desa bersama Bang Jali.”
“Pak…” Mala memeluk ayahnya erat.
“Prahara ini bukan cuma milikmu, Nak. Ini soal napas kita semua. Jangan biarkan jejak kelam itu menutupi seluruh masa depan anak didikmu,” bisik Pak Hamid haru.
Malam itu, di bawah kegelapan yang pekat, Mala dan Maria membawa sampel tanah berminyak dan dokumen dari kotak besi Kakek Usman menuju perahu sampan. Mereka tidak menggunakan dayung kayu yang bisa menimbulkan suara kecipak air yang keras, melainkan potongan bambu yang dilapisi kain untuk meredam suara.
Saat mereka melewati batas pantai Pasir Putih, Mala menoleh ke belakang. Dalam kegelapan, ia melihat siluet mercusuar yang lampunya terus berputar, seolah sedang mengawasi setiap gerak-gerik di bawahnya. Jejak kelam di pasir mungkin tidak terlihat di malam hari, tetapi Mala merasakannya di bawah kaki-kakinya sebagai beban sejarah yang harus ia tuntaskan.
Perjalanan itu sunyi dan penuh teror. Setiap kali lampu sorot dari kapal patroli Blue Horizon menyapu permukaan air, mereka harus berhenti bernapas dan merapat ke dinding-dinding karang yang tajam. Mala merasa seolah-olah laut sendiri sedang membantu mereka, memberikan arus yang tenang dan mendorong mereka menjauh dari zona bahaya.
“Sedikit lagi, Maria. Setelah melewati karang ini, kita masuk ke jalur pelayaran internasional. Kita bisa meminta bantuan kapal kargo yang melintas,” bisik Mala.
Namun, di depan mereka, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik kabut. Bukan kapal kargo, melainkan sebuah kapal motor cepat milik anak buah Miller. Lampu sorotnya mendadak menyala, menghantam tepat ke arah sampan kecil mereka.
“Berhenti di sana! Atau kami tembak!” sebuah suara menggelegar dari pengeras suara.
Mala memegang erat kotak besi di pelukannya. Jejak kelam di pasir putih itu kini telah mengejarnya hingga ke tengah laut. Permainan kucing dan tikus ini telah berakhir, dan kini yang tersisa hanyalah keberanian untuk mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang sedang mereka bawa di atas sampan rapuh itu.
“Maria, bersiaplah,” Mala berbisik, matanya menatap tajam ke arah moncong kapal yang mendekat.
“Jika sesuatu terjadi, pastikan kartu memorimu sampai ke daratan utama. Biarlah aku yang menjadi penghalang bagi mereka.”
Di tengah Selat Malaka yang dingin, babak baru perjuangan Mala dimulai. Bukan lagi sebagai guru yang lembut, melainkan sebagai pejuang pesisir yang menolak menyerah pada jejak kelam yang ingin menghapus sejarah bangsanya.
(bersambung) [CM/Na]
Views: 1






















