Oleh: Nur Rahmawati, S.H.
Chief Editor Cemerlang Media
CemerlangMedia.Com, EDITORIAL — Meningkatnya kasus HIV/AIDS tidak bisa lagi ditoleransi. Penyakit biadab yang kini menyerang kalangan generasi muda dan usia produktif, sudah berada di level mengkhawatirkan. Usia produktif yang merupakan bonus demografi sebagai peluang besar bagi Indonesia guna mencapai kemajuan ekonomi dan pembangunan lebih pesat, sudah terancam. Padahal, jumlah usia produktif yang lebih banyak dibanding usia nonproduktif yang dimiliki negeri ini bisa menjadi potensi sumber daya manusia yang besar. Sayangnya, penjagaan atas mereka belum berhasil.
Ancaman senyap HIV/AIDS tidak hanya berdampak pada krisis eksistensial saja, lebih parah lagi akan melahirkan krisis multidimensi. Akar persoalannya ada pada sistem sekuler kapitalisme yang menghalalkan banyak cara tanpa batas. Di satu sisi, sistem sekuler kapitalisme mempromosikan gaya hidup ekstrem melalui media sosial yang membuka peluang besar menormalisasi konsumsi tontonan pornografi, budaya pacaran dan yang serupa.
Sementara di sisi lain, ekonomi kapitalistik justru menciptakan peluang besar kemiskinan yang berdampak kesenjangan nyata. Ini yang menyebabkan tidak sedikit dari generasi menjual diri demi gaya hidup hedonisme. Lebih parah, adanya prilaku berisiko seks bebas, narkoba dengan jarum suntik yang digunakan bergantian menjadi peluang besar terinfeksi HIV/AIDS.
Solusi parsial yang ditawarkan sistem kapitalisme bisa dikatakan gagal total mengatasi persoalan tersebut. Pendekatan konvensional yang ditawarkan justru dianggap tidak menyentuh akar masalah. Terbukti dengan melihat fakta epidemiologi terkini, estimasi kasus total terdapat sekitar 34.641 kasus HIV dan 7.963 AIDS, dengan kasus tertinggi HIV terbanyak adalah usia produktif (24-44 tahun) di DKI Jakarta dan meluas di wilayah lainnya. Jika kasus HIV/AIDS terus meningkat, maka bonus demografi yang diharapkan menjadi kekuatan bangsa justru dapat berubah menjadi beban yang menghambat kemajuan negara.
Dalam perspektif Islam, solusi komprehensif yang ditawarkan terbukti berhasil mengatasi persoalan hingga ke akar. Tindakan pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Islam mengajarkan pentingnya menjaga diri (hifz an-nafs) dan menjaga keturunan (hifz an-nasl), yang merupakan bagian dari tujuan utama syariat (maqashid syariah). Oleh karena itu, pendidikan Islam membentuk individu-individu yang taat dan memiliki kepribadian Islam. Bahkan, sejak dini sudah diperkuat akhlak yang baik agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar tentang pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab.
Islam juga mendorong umatnya untuk menjauhi perbuatan zina sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32). Nilai ini dapat menjadi benteng moral untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang berpotensi menyebabkan penularan HIV.
Selain itu, keluarga memiliki peran penting sebagai madrasah pertama bagi anak. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pendidikan akhlak, serta menanamkan nilai-nilai agama agar anak mampu menghadapi berbagai tantangan pergaulan modern. Lingkungan masyarakat dan lembaga pendidikan juga perlu bersinergi dalam membentuk karakter generasi muda yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. Lebih penting lagi, negara akan menjadi benteng terbesar dan terkuat untuk menjaga generasi melalui aturan yang bersumber dari Islam sehingga pencegahan dan penanganan HIV/AIDS akan terealisasi dengan sempurna, sebab Islam tidak membuka celah sedikitpun untuk maksiat.
Pada akhirnya, bonus demografi hanya dapat menjadi kekuatan bangsa jika didukung oleh sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berakhlak mulia. Dengan menggabungkan upaya medis, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai Islam, Indonesia dapat menekan penyebaran HIV/AIDS sekaligus menjaga generasi produktif sebagai aset utama menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera yang semua ini hanya bisa terwujud dengan sistem berasaskan Islam.
Redaksi
Kokoh dalam Literasi, Cemerlang Menyajikan Peristiwa Terkini
[CM/Na]
Views: 22






















