Gen Z, Krisis Mental, dan Urgensi Penerapan Islam Kafah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Sofie Ummu Farizahrie
Aktivis Muslimah

Peran umat hari ini adalah menyadarkan para pemuda untuk mengemban mabda (ideologi) Islam agar sikap kritis yang mereka miliki dapat diarahkan untuk mendobrak pemikiran masyarakat. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan agar kondisi umat menjadi lebih baik sehingga cita-cita generasi emas bukan hanya menjadi angan-angan, tetapi kelak mampu diwujudkan melalui penerapan syariat Islam.

CemerlangMedia.Com — Kesehatan mental remaja bukan lagi isu yang dapat dipandang sebelah mata. Meningkatnya perhatian terhadap persoalan ini mendorong berbagai pihak menghadirkan langkah edukatif, salah satunya dilakukan Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui peluncuran dua film pendek, Histeria Kolektif dan Di Balik Nilai Merah, serta Buku Saku Sehat Mental Remaja dan Orang Muda. Inisiatif tersebut menyoroti berbagai tekanan yang dihadapi remaja sekaligus mengajak mereka membangun pemahaman yang benar tentang kesehatan mental dan pentingnya mencari pertolongan yang tepat (SuaraJogja.id, 29-6-2026).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara global memprediksi satu dari tujuh anak atau 14,3 persen dari mereka yang berusia 10—19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Sementara itu, menurut data survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, tercatat 34,8 persen atau 15,5 juta remaja di negeri ini mengalami masalah kesehatan mental, 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental (Kompas.id, 18-6-2026).

Pemicu berbagai gangguan tersebut beragam, antara lain perubahan emosional yang terjadi pada masa pubertas dan tekanan sosial. Sementara bagi Gen Z yang sudah lebih dewasa, kekhawatiran akan masa depan dan tekanan finansial akibat lapangan kerja yang sempit dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan mental.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi menggejala secara global di seluruh dunia. Generasi Z yang terlahir sebagai digital native, justru memunculkan sikap skeptis menghadapi ketidakpastian karir karena masifnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di berbagai perusahaan. Pada akhirnya, keraguan mereka terhadap kemajuan teknologi, khususnya AI melahirkan resistansi yang diprediksi dapat menjadi titik balik bagi generasi ini untuk melawan dan membalikkan keadaan.

Potensi Gen Z bagi Perubahan

Bukan hanya berhadapan dengan ketidakpastian akan masa depan, Gen Z boleh dibilang adalah generasi yang lahir di tengah krisis multidimensi yang terjadi di dunia. Gejolak ekonomi, kondisi politik, hukum, sosial, keamanan, pendidikan, serta rusaknya moral, pada hari ini turut menjadi pemicu buruknya kesehatan mental anak zaman sekarang.

Padahal, para pemuda ini hakikatnya dilahirkan dengan memiliki beragam potensi besar yang apabila diarahkan dengan benar akan menghadirkan generasi yang dapat membawa perubahan besar pada dunia. Bagaimana tidak, sedari kecil mereka sudah akrab dengan kemajuan teknologi dan piawai pula memanfaatkannya. Mereka juga lahir dengan kecerdasan dan sikap kritis yang lebih dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Sekuler Kapitalistik sebagai Biang Kerok

Namun sayang, potensi tersebut justru dirusak oleh ideologi asing yang saat ini menguasai kehidupan mereka. Peradaban sekuler kapitalistik pelan-pelan tanpa disadari menjauhkan generasi ini dari pemahaman agama yang benar. Nilai-nilai kehidupan Barat telah merasuki pemikiran kaum muda melalui food, fun, fashion, dan film, menjadikannya sebuah pemahaman yang akhirnya tampak dari aktivitas sosial mereka.

Pemikiran ala Barat, di antaranya feminisme, hedonisme, materialisme, konsumerisme, inilah yang justru merusak generasi muda. Namun anehnya, mereka malah bangga menjadikan budaya Barat sebagai identitasnya. Padahal, inilah penyebab rusaknya potensi akal sehingga berada di titik yang rendah serta pemikiran dangkal. Sebab, mereka hanya fokus pada kesenangan dunia, jauh dari nilai-nilai agama, apalagi Islam.

Sementara itu, negara yang seharusnya merangkul generasi muda (terlebih Gen Z) dan membantu melejitkan potensi mereka justru abai dari peran ini. Alih-alih mengurus, penguasa pun bungkam terhadap stigma negatif yang diterima anak-anak muda ini dari generasi sebelumnya. Label-label seperti generasi rapuh, pemalas, maunya instan, sensitif, tidak loyal, dan berbagai sebutan lain disematkan kepada mereka.

Di satu sisi, Gen Z adalah generasi yang unik. Mereka dianggap rapuh dan kurang peka. Namun di sisi lain, ada keberanian yang tersimpan di balik sikap kritis terhadap situasi politik di negeri tempat tinggalnya. Paradoks memang, tetapi itulah Gen Z. Potensi inilah yang diharapkan dapat mengantarkan kepada kebangkitan menuju kondisi dunia yang lebih ideal.

Islam Solusi Terbaik

Jika mau berkaca kepada ideologi Islam, agama inilah satu-satunya yang ideal untuk dijadikan solusi dalam mengurus umat dan bernegara. Islam sebagai agama yang sempurna memiliki tata aturan yang berasal dari Allah Swt.. Oleh karena itu, tidak mungkin keliru apalagi salah.

Penerapan sistem Islam yang kafah tentunya akan menciptakan kondisi yang ideal bagi umat, sebab sifatnya rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam. Jika Islam diterapkan dalam setiap sendi kehidupan, diharapkan dapat mengikis, bahkan menghilangkan semua krisis multidimensi yang terjadi hari ini.

Para pemuda yang kebingungan akibat penerapan kapitalisme sekuler hari ini akan dirangkul dengan diterapkannya Islam. Lihatlah saat peradaban Islam berjaya, di balik itu ada para pemuda yang memiliki kepribadian Islam yang kuat dan tangguh. Mereka tidak hanya paham terhadap agamanya, tetapi juga piawai dalam berbagai bidang keilmuan.

Itu semua karena keimanannya dibina dan dijaga oleh negara. Para pemuda dididik agar terbentuk pola pikir dan pola sikap yang islami sehingga memiliki kepribadian Islam. Dengan hal itu, mentalnya tidak akan mudah terguncang menghadapi tantangan dunia yang ditemui.

Negara sebagai pe-riayah umat akan memastikan setiap kebutuhan rakyatnya terpenuhi dengan baik dan adil, baik kebutuhan individu maupun komunal. Alhasil, tidak akan ada rakyat yang kebingungan mencari pekerjaan ataupun sekadar untuk makan.

Setiap generasi akan dididik dengan pola pendidikan yang sama, sekalipun zamannya berbeda. Tidak ada gap antara anak muda dan angkatan tua. Dengan demikian, stigma-stigma negatif antar mereka pun dapat diminimalkan. Semuanya akan saling menghormati, menghargai, dan menyayangi.

Demikian pula peran umat hari ini, yakni menyadarkan para pemuda untuk mengemban mabda (ideologi) Islam agar sikap kritis yang mereka miliki dapat diarahkan untuk mendobrak pemikiran umat. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan agar kondisi umat menjadi lebih baik sehingga cita-cita generasi emas bukan hanya menjadi angan-angan belaka, tetapi kelak mampu diwujudkan melalui penerapan syariat Islam.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah An-nisa ayat 9, yang artinya,

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Wallahu a’lam bisshawab.

[CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *