Keberadaan negara yang menerapkan aturan Islam secara kafah dipandang sebagai sarana untuk menyatukan kekuatan umat di berbagai negeri. Mereka meyakini bahwa persatuan politik umat di bawah satu kepemimpinan akan memperkuat dukungan terhadap perjuangan Palestina dan mempererat ukhuah islamiah di seluruh dunia.
CemerlangMedia.Com — Penderitaan masyarakat Gaza makin berat, khususnya anak-anak yang kini harus menghadapi dampak konflik yang berkepanjangan. Mereka menyaksikan langsung kekerasan, kehancuran, dan kematian yang membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam. Derita yang mereka alami tidak selalu tampak dalam luka fisik, tetapi tersimpan dalam keheningan yang menyayat hati.
Dunia kembali dihadapkan pada kabar memprihatinkan tentang anak-anak di Gaza yang tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicara akibat perang. Psikoterapis anak asal Norwegia Katrin Glatz Brubakk yang menjalankan misi kemanusiaan bersama Médecins Sans Frontières (MSF) di Gaza menyatakan bahwa hampir tidak ada anak di wilayah tersebut yang luput dari trauma.
Menurutnya, lebih dari satu juta anak diperkirakan mengalami trauma berat karena konflik yang berlangsung dalam waktu lama. Bagi mereka, memilih untuk diam menjadi mekanisme bertahan agar tidak lagi berhubungan dengan dunia yang terus menghadirkan penderitaan. Selain itu, mereka juga kehilangan rasa aman yang sangat penting bagi tumbuh kembang (06-06-2026).
Pembunuhan dan penyerangan terus-menerus yang dilakukan oleh entitas Zionis ini merupakan bukti bahwa konflik di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga merusak kesehatan mental generasi masa depan. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan penuh harapan justru harus menjalani masa kecil yang dipenuhi trauma dan ketakutan. Hidup dalam kondisi yang penuh ketidakpastian telah menyebabkan mereka mengalami trauma yang mendalam.
Di tengah penderitaan tersebut, berbagai lembaga kemanusiaan terus berupaya memberikan bantuan. Namun, bantuan kemanusiaan saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar persoalan.
Dunia tidak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini. Sistem kapitalisme sekularisme telah membuat para penguasa muslim melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina.
Umat Islam kini kehilangan perisai yang melindungi dari semua kekerasan yang dilakukan oleh entitas Zionis. Penderitaan rakyat Palestina hanya dapat diakhiri melalui terwujudnya perdamaian yang adil, penghentian kekerasan, serta berakhirnya pendudukan dan konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup hanya direspons dengan bantuan kemanusiaan atau upaya pemulihan trauma semata. Negeri Palestina harus dibebaskan dari penjajahan Israel sehingga rakyat hidup aman, terutama anak-anak yang akan menjadi generasi muda yang kelak tumbuh tanpa bayang-bayang kekerasan dan penindasan.
Rakyat Palestina membutuhkan keadilan dan berhak dilindungi dari serangan entitas Zionis Israel. Satu-satunya cara hanya dengan jihad fii sabilillah, sebagaimana terdapat dalam QS Al-Baqarah (2): 190, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi jangan melampaui batas….”
Semua itu bisa dilakukan dengan adanya sebuah institusi, yakni negara yang menerapkan Islam secara kafah. Negara akan mengirimkan kekuatan militer untuk memberikan perlindungan nyata bagi rakyat Palestina serta mendukung pembebasan wilayah yang dianggap masih berada di bawah penjajahan.
Keberadaan negara Islam dipandang sebagai sarana untuk menyatukan kekuatan umat di berbagai negeri. Mereka meyakini bahwa persatuan politik umat di bawah satu kepemimpinan akan memperkuat dukungan terhadap perjuangan Palestina dan mempererat ukhuah islamiah di seluruh dunia.
Oleh karena itu, membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan umat dan penegakan sistem Islam dalam naungan Khil4f4h menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk mendukung pembebasan Palestina serta mewujudkan solidaritas kaum muslim secara global. Wallahu a’lam bishawwab
Elsa Nurraeni [CM/Na]
Views: 13






















