Menanti Kehadiran Adik: Bukan Soal Mengajari, tetapi Menyiapkan Hati sang Kakak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Hawilawati

CemerlangMedia.Com, PARENTING — Pernah tidak sih, Bun, tiba-tiba merasa “deg-degan” saat melihat si sulung mulai menunjukkan gelagat yang berbeda?

Justru di saat usia kandungan kita makin besar dan tubuh mulai terasa cepat lelah, si sulung kecil mendadak berubah menjadi lebih rewel, manja, atau seolah-olah “menempel” tidak mau lepas. Rasanya mungkin campur aduk ya, Bun. Ada rasa lelah menghadapi tingkahnya.

Ya, memang sangat manusiawi jika anak pertama kita merasa cemburu hingga bersikap lebih manja. Bayangkan saja, selama ini dia adalah “pusat semesta” di rumah, lalu tiba-tiba ia mulai tahu perlahan akan ada sosok baru yang akan membagi perhatian bundanya. Rasa cemburu itu nyata, bahkan bisa muncul sejak adik masih ada di dalam kandungan.

Namun di balik itu semua, sebenarnya ada kesempatan emas yang bisa kita petik untuk menguatkan hatinya.

Alih-alih merasa pusing menghadapi perubahan sikapnya, aku justru mencoba melihat ini sebagai sinyal dari hatinya yang kecil. Si sulung kecil sebenarnya sedang bertanya-tanya, “Apakah setelah ada adik nanti, pelukan Bunda masih tetap milikku?” Karena itulah momen ketika dia minta terus dipeluk, minta disuapi, atau ingin semua urusannya dilayani secara eksklusif oleh bundanya, tidak aku anggap sebagai gangguan. Sebaliknya, aku memanfaatkan setiap detik itu sebagai waktu untuk memberikan afirmasi.

Sambil memeluknya erat-erat, aku sering membisikkan kalimat penenang. Aku katakan pada si sulung kecil bahwa “Bunda akan selalu sayang Kakak, juga adik bayi ini, Bunda sayang semuanya.”

Aku mulai menanamkan pengertian pelan-pelan bahwa kehadiran adik bayi nanti bukan untuk mengambil posisinya, melainkan untuk memberinya peran baru yang sangat seru. Aku ingin si sulung kecil merasa bahwa dia adalah “rekan tim” Bunda dalam menyayangi adik bayi nanti.

Ini bukan tentang trik pengasuhan yang hebat, melainkan sekadar berbagi pengalaman sederhana dari hati ke hati yang pernah aku lakukan di rumah:

Pertama, Mendekatkan Rasa Lewat Sentuhan Fisik yang Hangat

Dahulu, aku sangat menjaga agar perut yang makin membesar ini tidak menjadi pembatas fisik antara aku dan si sulung kecil. Aku tidak ingin dia merasa perut Bunda adalah penghalang untuknya bisa memelukku dengan nyaman. Jadi, setiap kali si sulung kecil sedang manja-manjanya, aku sering mengajaknya berinteraksi dengan adiknya yang masih di dalam kandungan.

Aku sering memanggilnya, “Kakak, coba deh sini… sepertinya adik di dalam perut Bunda, kangen sekali nih, ingin disapa Kakak yang ganteng.”

Awalnya, dia mungkin hanya melihat dengan tatapan heran atau sedikit ragu. Namun, ketika aku membiarkan dia menyentuh, merasakan gerakan lembut di dalam perut, hingga akhirnya dia berani mencium perutku, di situlah aku merasakan ada benih cinta yang mulai tumbuh. Tanpa perlu dipaksa, si sulung kecil mulai merasa bahwa di dalam sana ada teman barunya.

Kedua, Memberi “Jabatan Penting” Agar Ia Ikut Repot

Momen menyiapkan perlengkapan bayi sering kali menjadi saat yang rawan membuat anak pertama merasa jadi penonton saja. Bayangkan saja, dia melihat bundanya begitu asyik melipat baju-baju mungil dan menata popok sendirian. Untuk menghindari rasa cemburu itu, aku selalu melibatkan si sulung kecil secara aktif.

Aku panggil dia dengan penuh semangat, “Ayo, Kakak ke sini, bantu Bunda yuk! Bantu Bunda melipat baju bayi dan kaos kaki yang lucu ini.”

Meskipun aku tahu hasil lipatannya masih berantakan, bahkan terkadang jadi makin repot karena harus merapikan ulang, aku tidak peduli. Yang paling berharga adalah binaran di matanya. Di momen itu, si sulung kecil merasa sangat dibutuhkan. Dia merasa memiliki andil besar sehingga kehadiran adik dianggap sebagai tugas penting yang ia kerjakan bersama bundanya.

Ketiga, Mengganti Kata “Harus Mengalah” Menjadi Cerita Seru

Salah satu kalimat yang paling aku hindari adalah, “Nanti kalau adik lahir, Kakak harus mengalah, ya.” Menurutku, kata “mengalah” itu beban yang terlalu berat untuk pundak kecilnya. Aku lebih suka mengganti narasi itu dengan bisikan-bisikan manis sebelum si sulung kecil terlelap tidur.

Aku ceritakan betapa serunya mereka main bareng nanti. Aku ceritakan bahwa dia akan memiliki teman bermain seumur hidup, teman bercerita, dan betapa bangganya adik bayi nanti memiliki kakak sehebat dia. Aku ingin si sulung kecil tahu bahwa kehadiran adik tidak membagi perhatian Bunda, melainkan justru menambah teman baru dan kebahagiaan baru di rumah kita.

Dan itu terbukti keajaibannya ketika adik bayinya lahir…
Momen yang paling mengharukan adalah saat aku ingin memandikan adiknya. Tanpa perlu diminta lagi, si sulung kecil ikut repot menyiapkan bedak dan popok. Dia mondar-mandir memastikan perlengkapan adiknya siap. Begitu proses mandi selesai dan adik sudah terlihat bersih serta harum, si sulung kecil langsung mendekat.

Ia menciumi adiknya berkali-kali dengan mimik mulut yang sangat menggemaskan. Tangannya seolah tidak tahan ingin mencubit pipi kecil itu saking gemasnya. Sambil tertawa kecil, si sulung kecil berkomentar,

“Ih, bayik, lucu sekali… wangi… gemes…. gemes banget!”

Mendengar kalimat spontan itu keluar dari mulut mungilnya, rasanya segala perjuangan menyiapkan hatinya terbayar tuntas. Melihat sikap sulung kecil terhadap adiknya dengan cinta seperti itu sangat melegakan daripada sekadar melihat dia “menurut” karena terpaksa.

Semangat ya, Bunda-Bunda yang sama sedang berjuang di fase ini. Mari kita terus belajar untuk melebarkan hati si sulung kecil agar dia selalu tahu bahwa cinta Bunda tetap utuh untuknya. Rasa sayang ini tidak akan pernah berkurang, justru akan makin meluas seiring bertambahnya anggota keluarga.

Dan rasa itu pun akan terus berlanjut hingga anak-anak tumbuh dewasa nanti. Bahwa ibu menyayangi semuanya tanpa kecuali. Doa kita tentu selalu sama; semoga mereka akan terus rukun dan saling menyayangi dengan tulus, bahkan kelak ketika mereka sudah berkeluarga masing-masing.

****

“Saat cinta diteguhkan, kakak tak kehilangan apa pun, ia justru menemukan peran barunya.”

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 15

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *