#30HMBCM
Oleh: Hawilawati
CemerlangMedia.Com, PARENTING — Saat aku masih remaja, ada satu kebiasaan ibu yang selalu lekat dalam ingatan: memberikan air hasil rebusan beras yang dikenal dengan sebutan “Air Tajin” untuk adik bungsuku yang masih bayi. Jarak usia kami yang terpaut 11 tahun membuat kehadirannya begitu dinanti di tengah keluarga kami. Aku ingat betul betapa hangatnya momen-momen sore itu, saat aku duduk di samping ibu, membantu menyuapi adikku pelan-pelan dengan sendok kecil.
Dulu, aku hanya melihatnya sebagai kebiasaan turun-temurun orang tua yang sangat tradisional. Dalam benak remajaku, itu hanyalah air berwarna putih keruh yang sederhana. Namun, seiring waktu berjalan dan kedewasaan mulai menyapa, sebuah pertanyaan tumbuh di benak ini: Mengapa air tajin begitu istimewa hingga selalu hadir di botol susu kebanyakan bayi orang tua kita dulu? Mengapa warisan ini seolah tak lekang oleh zaman?
Jawabannya ternyata membuatku takjub. Masya Allah, di balik tampilannya yang sederhana dan sering kali dibiarkan begitu saja saat memasak nasi, air tajin menyimpan rahasia gizi yang luar biasa.
Air rebusan beras ini kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna, protein tipis, serta vitamin B dan zat besi. Teksturnya yang cair dan lembut adalah “jembatan” sempurna bagi sistem pencernaan bayi yang masih belajar mengenal jenis makanan yang agak padat.
Di masa transisi, perut mungil mereka membutuhkan sesuatu yang tidak mengejutkan, dan air tajin memberikan kelembutan itu.
Dalam ilmu gizi, ia adalah pendamping yang ringan, tetapi bertenaga, terutama di awal masa MPASI.
Menariknya, kearifan ini bukan milik budaya kita saja. Di berbagai belahan dunia, sari beras ini dihormati dengan nama yang berbeda. Di Jepang, ada okayu yang lembut untuk memulihkan raga. Di Korea ada juk dan di Tiongkok dikenal sebagai congee.
Bahkan dunia medis modern pun mengakuinya sebagai cairan alami yang sangat efektif untuk membantu pemulihan saat anak mengalami diare.
Ternyata, resep sederhana orang tua kita dulu selaras dengan praktik kesehatan dunia yang diakui secara medis.
Estafet kebaikan itu akhirnya sampai ke tanganku saat aku sendiri menjadi seorang ibu. Ketika anak pertamaku mulai belajar makan, air tajin menjadi salah satu “andalan” yang kusajikan dengan penuh rasa syukur. Tentu saja, ia tetap berdampingan dengan ASI dan pengenalan MPASI superfood lainnya sebagai pelengkap nutrisi.
Aku masih ingat aromanya saat mendidih di panci kecil, aroma yang menenangkan dan hangat. Bahkan saat si Kecil sempat berjuang melawan diare yang membuatnya lemas, segelas air tajin dengan sejumput garam menjadi ikhtiar yang memulihkan. Dengan izin Allah, frekuensi buang airnya kembali normal dan kondisinya membaik dengan cepat. Di sana aku melihat sendiri keajaiban dari sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.
Dari perjalanan panjang ini, aku belajar satu hal penting: Tidak semua yang sederhana itu sepele. Terkadang, hikmah terdalam dan manfaat terbesar justru tersimpan dalam warisan kecil yang kita terima dari orang tua. Air tajin mungkin terlihat biasa bagi mata yang hanya sekilas melihat. Namun, bagi seorang ibu, ia adalah wujud kasih sayang, perhatian, dan ikhtiar terbaik untuk kesehatan buah hatinya.
Tidak sulit sebenarnya menghadirkan minuman sederhana dengan gizi luar biasa ini. Ia tidak perlu bahan mahal yang menguras kantong, tidak butuh proses laboratorium yang rumit. Cukup dari dapur para ibu yang dikerjakan dengan ketelatenan, kesabaran, dan tentu saja selipan doa dalam setiap racikannya.
Dari tangan-tangan lembut yang penuh perhatian, tersaji asupan terbaik untuk si kecil. Karena sejatinya, pengasuhan bukan tentang seberapa mewah materi yang diberikan, tetapi seberapa tulus usaha seorang ibu dalam menyiapkan yang terbaik bagi masa depan anaknya.
Dari yang sederhana itulah, tumbuh kesehatan, kekuatan, dan cinta yang tidak ternilai harganya. Sebab sejatinya, hal yang sederhana jika dilakukan dengan cinta akan selalu menjadi luar biasa.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 13






















