Hijrah yang Tertunda: Dari Luka Palestina Menuju Peradaban Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Bunda Rini Sulistiawati
Ibu, Pendongeng Muslimah, Penyeru Kesadaran Umat

Satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan di Palestina dan belahan bumi lainnya adalah dengan kembali kepada aturan Allah secara kafah. Umat Islam membutuhkan negara sebagai institusi politik yang menyatukan negeri-negeri muslim, membela yang lemah, dan menebarkan rahmat ke seluruh dunia, yakni Khil4f4h.

CemerlangMedia.Com — Tahun Baru Islam 1447 H kembali hadir. Muharam bukan hanya momentum pergantian tahun dalam kalender Hijriah, melainkan juga titik tolak sejarah peradaban Islam. Di bulan inilah Rasulullah saw. bersama para sahabat berhijrah. Bukan demi keselamatan pribadi, melainkan demi menegakkan sistem hidup yang berpijak pada wahyu, yaitu Daulah Islam.

Namun, apa yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya. Tahun baru datang dengan luka yang makin menganga. Palestina terus digempur. Gaza menjadi tanah perburuan terbuka, darah tumpah di jalan-jalan, anak-anak dibantai, dan dunia menutup mata. Di balik layar, penguasa-penguasa negeri muslim justru sibuk bertransaksi politik, bukan menyelamatkan nyawa saudaranya.

Berbagai media telah mengangkat peringatan Muharam. Antaranews (21-6-2025) memberitakan pentingnya ibadah sunah, seperti puasa Tasua dan Asyura. Liputan6 (20-6-2025) menampilkan naskah khutbah Jumat yang mengajak umat untuk introspeksi menjelang tahun baru Hijriah. Akan tetapi, persoalannya bukan hanya bagaimana mengisi Muharam dengan ritual, melainkan bagaimana mengembalikan semangat hijrah sebagai titik awal perubahan total umat ini.

Genosida dan Wajah Gelap Dunia Islam Hari Ini

Tahun baru ini datang di tengah derita umat yang kian dalam. Genosida di Palestina menjadi gambaran telanjang dari kemunduran umat Islam. Bukannya dibela, rakyat Palestina justru dikhianati oleh para pemimpin negeri-negeri muslim sendiri. Lebih menyayat hati, saat rakyat biasa mengumpulkan donasi, para penguasa malah bernegosiasi dengan penjajah.

Sementara itu, serangan Iran ke arah entitas Zi*nis dan kepentingan Barat mengguncang perhatian dunia. Namun perlu dipahami, serangan Iran bukanlah solusi sistemik. Ia hanya menunjukkan betapa sistem dunia saat ini rapuh dan tidak adil, tetapi tetap belum menyentuh inti masalah, yaitu kekosongan kepemimpinan tunggal umat Islam yang sejati.

Iran, seperti negara lain, tetap berdiri dalam batas nasionalisme dan agenda politik sempit. Tidak ada satu pun dari mereka yang membawa visi untuk menyatukan seluruh kaum muslim di bawah satu bendera, satu komando, satu syariat. Mereka adalah negara. Sementara yang dibutuhkan adalah peradaban.

Negara bisa hadir tanpa arah, tetapi peradaban lahir dari keyakinan dan keberanian memikul amanah sejarah. Negara hanya menjaga batas tanah, tetapi peradaban menjaga martabat umat manusia. Negara bisa berkhianat, tetapi peradaban Islam hadir untuk menebus harga diri umat dengan darah dan kehormatan.

Saatnya Umat Menyadari Akar Masalah

Tahun baru Islam seharusnya menjadi momen muhasabah besar-besaran bagi umat Islam. Jika dahulu hijrah menjadi awal lahirnya Daulah Islam yang menyatukan umat, menyebarkan Islam, dan menegakkan keadilan, maka hari ini umat Islam justru tercerai berai, lemah, dan terjajah secara ideologi, ekonomi, dan militer.

Mengapa bisa demikian? Ini karena umat telah jauh dari aturan Allah. Firman-Nya dalam QS Thaha: 124, “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Hal ini mengingatkan bahwa siapa pun yang berpaling dari peringatan-Nya akan menjalani kehidupan yang sempit, penuh ketakutan, dan kehilangan arah.

Umat Islam hari ini hidup di bawah sistem sekuler yang menyingkirkan Islam dari ranah kehidupan publik. Sistem itu melegalkan riba, memaksa umat tunduk pada hukum buatan manusia, dan membungkam siapa saja yang menyerukan perubahan hakiki.

Kembali Menjadi Umat Terbaik

Satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan ini adalah kembali kepada aturan Allah secara kafah. Umat Islam membutuhkan negara sebagai institusi politik yang menyatukan negeri-negeri muslim, membela yang lemah, dan menebarkan rahmat ke seluruh dunia, yakni Khil4f4h.

Khil4f4h bukan hanya solusi untuk Palestina, tetapi juga untuk seluruh umat yang tertindas di berbagai penjuru dunia. Ia adalah junnah (perisai) yang melindungi darah, kehormatan, dan harta kaum muslim. Ia adalah bentuk nyata dari sabda Nabi Muhammad saw. tentang pemimpin yang melindungi umat dan memimpin mereka dengan hukum Allah.

Tentu perjuangan ini tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran kolektif umat yang ditanamkan oleh jemaah dakwah yang tulus dan istikamah, tidak tergiur harta dan tahta, tidak lelah mengedukasi umat tentang Islam kafah dan pentingnya Khil4f4h.

Jangan Sekadar Menangis

Muharam bukan sekadar bulan sejarah. Ia adalah bulan peringatan dan seruan perubahan. Umat Islam tidak boleh hanya menangis menyaksikan genosida di Palestina atau bersorak saat rudal Iran meluncur. Itu semua tidak akan mengubah peta kekuasaan dunia Islam jika kita tidak kembali pada peradaban Islam.

Saatnya berhijrah!
Bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sistem
Dari negara-negara lemah menuju satu peradaban kuat
Dari tangis menuju perjuangan
Dari keterpurukan menuju kemuliaan

[CM/Na]

Views: 42

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *