Generasi Tanda Tanya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 10 Generasi yang Terlalu Cepat Dewasa

CemerlangMedia.Com — Andra seharusnya menikmati masa-masa pencarian identitasnya sebagai remaja muslim, menuntut ilmu, dan memahami akidahnya dengan benar. Namun, ia merasa beban di pundaknya jauh lebih berat dari yang seharusnya dipikul oleh usianya.

Andra selalu dituntut sempurna dalam segala hal, termasuk dalam agama. Di dunia maya, Andra harus tampil sebagai muslim yang berilmu dan tegas. Ia harus tahu semua isu fikih kontemporer, mampu berdebat tentang manhaj, dan selalu memiliki kutipan hadis yang tepat untuk setiap situasi.

Padahal di dunia nyata, ia hanyalah seorang pemuda yang kesulitan konsentrasi saat menghafal surah Al-Kahfi dan sering merasa kesepian. Ia tidak menikmati prosesnya menimba ilmu.

Kecepatan informasi menimbulkan masalah dalam kehidupan Andra. Ia mendapatkan ilmu agama dari video pendek, ringkasan e-book yang dipadatkan, dan quotes yang tersebar di media sosial. Andra menelan ilmu tanpa sempat mencernanya melalui bimbingan guru.

Kondisi ini menciptakan identitas yang rapuh. Andra yakin ia berilmu. Akan tetapi, ia selalu ragu dengan kebenaran ilmunya sendiri.

Selama ini ia berburu ilmu hanya sekadar memenuhi eksepektasi followers-nya. Andra takut jika suatu saat nanti followers-nya akan melihat kekurangan atau kesalahan kecil dalam dirinya.

Andra merasa tidak boleh salah. Harus selalu benar. Akhirnya ia pun kehilangan kenyamanan dalam beribadah.

Andra makin tertekan lagi ketika berhadapan dengan orang tuanya. Ayah dan ibunya yang melihat kesuksesan digital Andra, mendesaknya untuk segera menjadi dai muda. Ia pun dipaksa mengikuti event yang ada di televisi swasta.

Andra dipaksa melompat dari level murid ke level guru tanpa melalui tangga yang utuh. Tanpa melalui proses menuntut ilmu dengan guru yang jelas sanad keilmuannya.

Akibatnya, Andra mengalami goncangan. Ia takut dengan dosa riya’, tetapi ia lebih takut kehilangan image kesalehannya. Andra terjebak dalam lingkaran setan yang melumpuhkan batinnya.

Suatu sore, Andra berkunjung ke kebun milik kakeknya di pinggiran kota. Ia mengeluh tentang kelelahan batinnya. Kakeknya yang bijaksana hanya diam, lalu menunjuk pada pohon kurma yang baru ditanam.

“Andra, coba lihat pohon kurma ini. Pohon kurma tidak pernah diminta untuk berbuah lebat di tahun pertamanya. Ia butuh waktu untuk menurunkan akarnya ke dalam tanah yang dalam. Jika akarnya dangkal, ia mungkin cepat tinggi, tetapi satu kali badai datang, ia akan tumbang.”

Kakeknya melanjutkan, “Kamu adalah generasi yang terlalu cepat dewasa, Nak. Kamu ingin segera berbuah (menjadi alim, menjadi inspirasi), tetapi kamu melupakan proses menurunkan akar (belajar sanad yang benar, duduk lama di majelis, dan meluruskan niat).”

“Ketika kamu hanya belajar dari mencari jawaban di mesin pencari, ilmumu hanya menjadi ranting yang mudah patah. Kamu harus kembali menjadi murid yang sabar. Murid yang tidak malu bertanya, tidak malu salah, dan tidak terburu-buru mendapatkan gelar ‘alim’.”

Kata-kata kakeknya menampar Andra. Ia menyadari, hijrah sejati adalah tentang proses, bukan kecepatan. Ia harus membongkar indentitas yang diciptakannya sendiri.

Tidak lama kemudian, Andra kembali ke kota. Ia segera mengambil keputusan untuk mengurangi aktivitas di media sosial yang memicu perdebatan dan ekspektasi. Andra memilih untuk diam dalam majelis ilmu dan berguru pada sosok yang jelas ilmunya.

Andra pun mencari seorang ustaz yang mengajar dengan sabar dan metode bertahap. Ia duduk di kursi paling depan, menjadi murid yang haus akan ilmu, bukan sorotan. Ia mulai dari nol lagi, dari dasar-dasar akidah yang sering ia anggap remeh.

Kini, proses belajarnya menjadi lamban dan sunyi, tetapi penuh berkah. Ia tidak lagi khawatir tentang likes atau pujian. Setiap ilmu yang masuk terasa menenangkan. Sebab Andra tahu, ia berada di jalur yang benar dan di bawah bimbingan yang tepat.

Andra tersenyum. Kini ia fokus pada proses menurunkan akar iman yang kokoh, siap menghadapi badai kehidupan kapan pun ia datang. Salah satu nasihat yang familiar mengatakan, “Barang siapa yang tidak mempunyai guru dalam mempelajari ilmu, maka gurunya adalah setan.” [CM/Na]

Views: 32

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *