#30HMBCM
Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 3 Jejak Kaki di Jalan Virtual
Cemerlangmedia.Com — Lampu neon di kamar kos Rafki memancarkan cahaya dingin ke dinding. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari, menjelang Subuh. Seharusnya, ia sedang menikmati kekhusyukan qiyamul lail, tetapi ia justru terpekur di depan laptop, wajahnya dilingkupi rasa takut dan penyesalan.
Rafki, laki-laki berusia 28 tahun, adalah content creator bertema gaya hidup. Sejak tiga tahun lalu ia memutuskan untuk berhijrah, mengubah total image dan kontennya. Namun, malam ini, ia merasakan beban yang tak kasat mata. Jejak kaki di Jalan Virtual-nya dari masa lalu menuntut pertanggungjawaban.
Ia baru saja membuka arsip postingan lamanya. Foto-foto liburan hedonis yang ia unggah, semata-mata hanya untuk pamer. Kalimat-kalimat tajam yang dahulu ia anggap kritis, kini terasa sebagai ghibah yang tercetak permanen.
Paling menyesakkan adalah ia menemukan sebuah thread lama berisi tautan video dan komentar yang jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan, hingga kini terus beredar dan di-share berulang kali oleh followers-nya.
“Astaghfirullah,” bisiknya lirih, suaranya tercekat. “Setiap view yang bertambah adalah beban yang ditaruh di pundakku.”
Kini setelah hijrah, Rafki selalu berpegang pada konsep dosa jariyah, dosa yang terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal. Namun, ia baru menyadari betapa mengerikannya konsep itu di era digital. Dosa jariyah tidak hanya berlaku setelah mati, tetapi juga berlaku saat ini ketika ia berusaha memperbaiki diri.
Ia membayangkan hari hisab. Bukan hanya salat dan sedekahnya yang dipajang. Namun juga layar transparan dunia maya. Menampilkan riwayat browsing-nya, chat yang tidak penting, dan waktu-waktu yang ia sia-siakan untuk scrolling di saat seharusnya ia membaca Al-Qur’an.
Pada saat nanti, seluruh anggota tubuhnya akan bersaksi. Mulutnya terkunci, tetapi tangannya, jarinya, dan matanya akan berbicara di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya,
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin: 65).
Rafki ingat, ia pernah menginspirasi ratusan orang untuk meniru gaya hidupnya yang dulu lalai. Entah sudah berapa banyak dosa yang ia wariskan. Rafki kembali mengucap istigfar. Memohon ampun kepada Allah.
Kecemasan yang kini ia miliki bukan lagi tentang berapa banyak orang yang meniru gaya hidupnya. Akan tetapi, kecemasan keimanan, sebuah alarm keras yang menunjukkan bahwa kesalehan batin yang ia perjuangkan hari ini sedang terancam oleh jejak digital masa lalunya.
Rafki memutuskan harus ada jihad digital. Ia tidak bisa tidur sebelum membersihkan kekacauan yang ia ciptakan.
Dengan hati-hati, ia mulai operasi pembersihan. Rafki menghubungi platform media sosial lama, memohon penghapusan konten tertentu. Ia menggunakan fitur delete secara massal, menghapus ribuan tweet satu per satu. Ia mencari teman lamanya, meminta maaf secara pribadi atas ghibah yang pernah ia tulis.
Proses itu memakan waktu. Ada beberapa postingan yang tidak bisa dihapus karena sudah di-repost atau di-capture orang lain. Untuk ini, ia hanya bisa berserah dan memperbanyak istigfar, memohon ampunan secara terus-menerus, berharap ampunan Allah lebih besar daripada dampak dosa yang mengalir.
Saat azan Subuh berkumandang, Rafki tersungkur lemas, tetapi hatinya terasa damai. Ruangan itu terasa hening, tanpa notifikasi followers, hanya suara Allahu Akbar dari masjid.
Ia mengambil wudu, lalu berdiri di sajadah. Rafki mengangkat kedua tangannya. Ia tahu, perjuangannya tidak berakhir di sini. Setiap hari adalah pertarungan baru untuk memastikan bahwa jejak kaki di jalan virtual-nya hari ini adalah jejak yang bersih, bermanfaat, dan memberatkan timbangan kebaikannya kelak.
Sebab, di dunia ini hanya berjalan sebentar, tetapi jejak digital akan abadi, dan setiap jejak itu akan menjadi saksi. Rafki tidak mau, di akhirat nanti, amal kebaikannya terkuras karena dosa jariyah yang terus mengalir.
Ia hanya menginginkan sebanyak-banyaknya kebaikan, sebagaimana hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah, (1) Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan (2) Anak saleh yang ia tinggalkan (3) Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan (4) Masjid yang ia bangun (5) Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun (6) Sungai yang ia alirkan (7) Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.” [CM/Na]
Views: 37






















