#30HMBCM
Penulis: Titin Kartini
Bab 5 Santriwati
CemerlangMedia,Com — Selesai sudah jenjang pendidikan Tiara di Sekolah Dasar Islam Terpadu Al Kautsar. Seminggu setelah acara perpisahan kini tiba saatnya mempersiapkan kakak masuk pondok.
“Ibu jangan sedih gitu, dong, harus bahagia, kan Kakak mau nuntut ilmu.” Ucapnya sambil tersenyum manja.
“Entahlah, Kak, Ibu ragu-ragu, takut Kakak di sana kenapa-napa.” Jawabku.
“Hmm mulai lagi Ibu, tuh. Pondoknya kakak dekat Bu, ga jauh. Sebulan sekali kita nengok seminggu sekali putrimu telepon, jangan gitu, nanti anak gak tenang.” Timpal suami.
Jujur, pastinya berat melepas buah hati tercinta, meski untuk menuntut ilmu. Sunatullahnya seperti itu, aku rasa semua orang tua. Akhirnya aku pasrahkan semuanya jika ini memang yang terbaik menurut-Nya.
“Foto ini kakak bawa ya Bu, obat kangen keluarga,” katanya sambil menunjuk sebuah foto keluarga, lalu memasukkannya ke dalam tas. Aku jawab dengan sebuah anggukan kepala.
Seminggu dua minggu hingga tak terasa sudah satu bulan Tiaraku mondok, jangan ditanya bagaimana rasanya menahan rindu.
“Assalamualaikum Ibu, Ibu bagaimana kabarnya, Ibu sehat?” Suara lembut putriku lewat sambungan handphone, membuatku bahagia. Masya Allah, panjang kali lebar ia bercerita kegiatannya di pondok. Tak lupa ia pun bertanya kabar ayah, adik-adik, serta keluarga yang lainnya.
“Ibu jaga kesehatan, jangan terlalu capai, jangan tidur terlalu malam, doakan Kakak selalu. Kakak sayang Ibu karena Allah.” Selalu kalimat itu di akhir percakapan kami, baik telpon maupun ketika berjumpa langsung saat penjengukan.
“Kini aku santriwati.” Lanjutnya sambil tersenyum saat diizinkan pulang ke rumah.
Perubahan Tiara sangat kental, bagaimana ia bersikap sebagai wanita muslimah. Ia selalu menundukan pandangan dan memang itu sudah terbiasa ia lakukan sejak mengikuti kajian remaja pra baligh. Ia mencontohkan langsung bagaimana para remaja ideologis yang selalu membersamainya di setiap kajian remaja.
“Bu, tadi ayahnya Bilqis bilang gini, remaja yang paling sopan di daerah ini itu Kakak Caca, ayah mah suka banget sama sikap dan perilakunya, sopan banget, ga ayah temui pada remaja lainnya di sini,” Ucap seorang tetangga menceritakan kekaguman suaminya terhadap Tiaraku. Dan alhamdulilah, itu bukan terlontar dari satu tetangga saja, namun hampir semua tetangga mengatakan hal serupa, Tiara anak yang sangat sopan.
Waktu terus berjalan dengan semua cerita yang tentunya berbeda-beda. Begipun dengan kehidupan kami sekeluarga.
Tiara dengan ceritanya yang terkadang tidak seindah yang ia bayangkan. Namun disitulah aku dan suami membangun komunikasi dengannya, memberikan masukan bagaimana ia harus bersikap dan memberikan solusi atas permasalahan yang ia hadapi.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 16






















