Kenangan yang Dilarang Tinggal

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM2

Oleh: Fitri Sumantri

CemerlangMedia.Com, STORYTELLING — “Pada akhirnya aku mengerti bahwa ada kenangan yang tidak untuk disimpan dalam ingatan, apalagi di simpan terlalu dalam. Terkadang ia datang untuk mengajarkan kita tentang sesuatu, lalu pergi. Dan sebenarnya sesuatu yang tak ingin diingat kembali itu, bukan karena lukanya telah sembuh, tetapi sering kali setiap kali luka itu disentuh, ia selalu tahu bagaimana rasa sakit yang membuatnya hancur sehancur-hancurnya.”

Dahulu, aku pernah menyimpan sebuah kenangan, membiarkannya tumbuh. Kenangan itu sederhana, tentang percakapan panjang di bawah panasnya matahari sambil melihat ke langit yang berawan di ujung jembatan pingir sawah itu. Rasanya, ada tawa yang tertahan dan seseorang yang membuat dunia terasa sedikit lebih aneh dan jika dikenang, hal itu cukup mengelitik. Sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja, perlahan berubah menjadi asing. Sampai pada suatu hari, di mana dia memilih untuk pergi. Tanpa penjelasan yang cukup untuk dimengerti, tanpa perpisahan yang benar-benar selesai. Hanya keheningan yang menggantikan semua yang dahulu ada.

Atau sebuah memori di mana aku dan teman-temanku mandi di sungai menggunakan rakit tas. Waktu itu sepulang sekolah, kami berjalan menyusuri sawah, berjalan di pinggir sungai, sampai gemericik air menarik tubuh kami untuk berenang di dalamnya. Atau sebuah kenangan di mana aku main ke Puncak Pato bersama teman-temanku. Kami singgah sebentar ke goa indah yang di bawahnya ada sungai yang dangkal, tetapi cukup membuat kami basah karena saling melemparkan air.

Atau momen menegangkan waktu pertama kali aku naik panggung saat pementasan monolog. Hari di mana aku yang pertama kali tampil dan melihat lampu panggung berwarna-warni, bangku-bangku penonton berjejer rapi, seolah tak ada satu mata pun yang melewatkan pertunjukanku malam itu. Atau kenangan manis saat laki-laki itu meminangku, rasa haru yang mengusik jiwa, menahan setetes air di ujung mata sebagai tawa yang tak akan pernah pudar. Atau momen yang entah seperti apa rasa dan rupanya saat pertama kali aku masuk ruang operasi, di mana segala gundah dan sakitku hilang saat suara tangisnya memecahkan ruang hening itu. Tangisan putra kecilku, Rafaizan Zayan Al-Fattah, dia seolah menghapus segala sakit sayatan di tubuhku.

Serta momen manis ia bertumbuh menjadi laki-laki yang lucu dan pintar, meskipun kata orang-orang wajahnya mrip babanya, dan memang, kata pertama yang diucapkannya ketika bisa berbicara adalah baba. Meski rasa iri sempat datang, tetapi hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan, momen terindah yang takkan lagi terulang. Melihat tawa kecilnya, satu lesung di pipi kanannya yang menghapus segala rinduku pada laki-laki dengan dua lesung pipi itu. Dan banyak lagi kenangan manis yang rasanya tidak aku izinkan untuk pergi.

Maka sejak saat itu, aku menyadari satu hal bahwa kenangan bukan untuk dilupakan, tetapi disimpan dalam ingatan.

Sampai pada suatu hari, beberapa tahun setelahnya, laki-laki kecilku sekarang sudah hampir tiga tahun. Sebentar lagi ia akan berhenti menyusui serta akan jadi abang, sebab bayi kecil yang selalu riang kala mendengar celotehnya sebelum tidur, menceritakan ulang isi buku yang baru dibacakan, beberapa bulan lagi akan lahir. 5 Januari 2025, waktu itu hujan turun pelan, seolah tengah memahami apa yang sedang terjadi. Aku masih ingat waktu di mana langkahku masih terasa berat, bahkan untuk sekadar mendekat. Di depan mataku, semuanya runtuh tanpa suara.

Kamu yang baru pulang menatapku dengan mata yang penuh lelah. Sambil tersenyum sedikit di sudut bibir, jelas aku tahu arti senyum itu. Kupegang tanganmu, mengajakmu duduk lalu bicara, baru kuberucap, “Kamu ok?”

Tangismu pecah, suaramu riuh. “Aku tak punya siapa-siapa, aku cuma punya kalian,” ucapmu dalam raungan. Bola-bola kecil yang tadinya tak bersedia menetes, akhirnya membasahi mataku dengan haru. Momen di mana segudang tawaku hilang dalam sekejap, ada luka yang terasa begitu menyakitkan. Putri yang baru kulahirkan pergi untuk selamanya dan segala rancangan masa depan hilang dalam sekejap. Tak ada lagi kenangan yang kubiarkan tertinggal. Rasa sakit itu mengusiknya dalam sekejap, melenyapkan ribuan tawa dalam ingatan.

Meskipun aku tidak pernah benar-benar lupa. Sebab, memang aku tidak pernah hilang ingatan. Hanya saja, pada satu momen, aku memilih menjadi sangat pandai berpura-pura. Momen di mana aku melihat bayi munggil itu, ada rasa yang tiba-tiba muncul di hati, lukaku yang belum jua sembuh, ingatanku yang tak pernah juga lenyap akan kenangan yang tak ingin lagi kubiarkan tinggal. Kenangan kehilangan yang ternyata begitu menyakitkan.

Setiap pagi aku bangun dengan rutinitas yang sama, menyeduh kopi, membuka jendela, membiarkan cahaya masuk seolah-olah itu cukup untuk mengusir sisa-sisa luka yang masih membekas. Tetapi ada satu hal yang selalu aku lakukan dengan sengaja, memilih untuk tidak pernah lagi memberi ruang pada kenangan, bukan segala kenangan. Terkhusus untuk luka yang dipaksa sembuh oleh waktu, luka yang membuat segudang tawaku hilang dalam sekejap.

Momen di mana suara tangismu masih tergiang di telinga. Di sudut kamar itu, kita menangisi kepergian putri yang kita harapkan kehadirannya, putri yang kita anggap sebagai pelengkap keluarga kecil kita. Serta momen di mana mata lelahmu menatapku dengan wajah yang lesuh dan hampa. Momen di mana luka mengajarkan kita arti cinta yang sebenarnya. Momen di mana kita sadar bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik, momen di mana rasa syukur kian dalam.

Di sudut ingatan yang tak pernah benar-benar sunyi itu, di antara ribuan kenangan, di antara banyaknya luka, ada sebuah kenangan yang kularang untuk tinggal di dalamnya. Tentang luka yang menghancurkan segudang tawaku dalam sekejap. Ya, saking sakitnya, aku memilih untuk tidak mengusirnya dengan teriakan, tidak juga membakarnya dengan amarah. Hanya saja, aku lebih memilih untuk memaksanya pergi dengan kalimat sederhana: “melupakan”.

Sebuah kata yang mudah diucap, tetapi sulit dijalani. Dan jelas, kenangan tidak pernah mengerti bahasa perintah, meski ribuan kali kupaksa ia untuk pergi. Namun ia tetap datang diam-diam, seperti hujan yang jatuh tanpa suara di tengah malam. Membawa aroma masa lalu yang terlalu akrab untuk dianggap asing, tetapi terlalu menyakitkan untuk diterima kembali, meski hanya sebagai kenangan. Walau hanya sekadar dalam ingatan, tetapi cukup untuk membuat duniaku berubah dalam sekejap.

Meski benar bahwa hatiku pernah dipenuhi oleh secuil harap, kemudian belajar membohongi diri sendiri, berucap baik-baik saja, tetapi nyatanya begitu terluka, memilih berlari pergi, seolah lukaku akan sembuh dengan menghilang. Padahal aku hanya belajar untuk menata ulang pikiranku yang tengah tidak baik-baik saja, mengganti tawa dengan kesibukan, mengganti rindu dengan alasan-alasan yang terdengar tidak logis.

Berkata pada diri sendiri, berulang-ulang bahwa semuanya telah selesai, semuanya akan kembali membaik, cukup, tidak ada lagi yang perlu dikenang. Namun tanpa kusadari, ternyata luka punya cara sendiri untuk bertahan.

Terkadang ia tidak terasa seperti sakit yang tajam. Terkadang ia hanya berupa kekosongan, sebuah ruang yang dahulunya penuh dengan tawa, mendadak sunyi. Terkadang ia muncul dalam bentuk hal kecil, seperti cerita lama yang tiba-tiba terdengar atau pertanyaan seseorang yang tanpa tahu cerita utuhnya, maupun tempat yang tanpa sengaja dilewati, atau bahkan senyuman seseorang yang terlalu mirip.

Dan di situlah semuanya kembali terkenang, sebagai memori luka yang dipaksa sembuh oleh waktu. Memang hadirnya bukan sebagai kenangan yang utuh, melainkan serpihan-serpihan kecil yang cukup untuk mengingatkanku pada luka, tetapi tidak cukup untuk membuatnya sembuh.

Jika diingat, ternyata yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan itu sendiri, sebab kita sudah melewati banyak sekali rangkaian cerita dan usaha sampai akhirnya kita memilih menyerah, berhenti sejenak, dan biarkan Allah Swt. menentukan kelanjutan ceritanya. Tentu dengan konsekuensi yang memang sudah kita pahami baik buruknya. Sebab, satu hal yang selalu kita yakini bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a, segala hal yang terjadi adalah kuasa-Nya. Kita hanya bisa berharap bahwa dari segala cerita, dari segala rasa sakit, ia mampu jadi pengugur dosa. Biar kelak jalan itu terasa lebih nyaman untuk dilewati.

Momen yang lebih menyakitkan itu barangkali tentang usaha untuk melupakan sesuatu yang sebenarnya ingin terus diingat. Serupa perang sunyi di dalam diri, antara akal yang memaksa pergi, dan hati yang diam-diam memohon untuk tetap tinggal. Walaupun pada akhirnya tidak ada yang pernah benar-benar menang. Yang ada hanya belajar hidup berdampingan dengan luka itu sendiri. Tidak lagi mencoba untuk menghapus karena rasanya percuma, meski memang tidak juga sepenuhnya menerima.

Aku hanya memilih untuk menyimpannya di tempat yang tak terlihat. Membiarkannya menjadi bagian dari diriku, bukan sebagai sesuatu yang harus dilupakan, tetapi sebagai sesuatu yang pernah berarti, sesuatu yang membuatku mengerti bahwa ada cinta yang terasa lebih tulus dari segala hal yang pernah ada. Pada akhirnya aku kembali mengerti bahwa beberapa kenangan memang tidak diciptakan untuk tinggal, tetapi juga tidak pernah benar-benar bisa pergi.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *