Petak Umpet

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yeni Nurmayanti

CemerlangMedia.Com — “Kamil…Sudah pukul lima sore, ayo cepat masuk rumah, sebentar lagi tiba waktu Magrib.”

“Iya, Nek, sebentar lagi,” sahut Kamil kepada neneknya.

Kamil sudahdua hari tinggal di kampung neneknya mengisi waktu liburan sekolah. Kamil sangat senang tinggal di kampung neneknya. Selain punya banyak teman, di rumah neneknya sejuk dan asri karena rumahnya di kaki gunung.

Rumah-rumah di sana tidak berdempetan seperti rumah di kota. Di sana jarak dari rumah satu ke rumah yang lain berjauhan dan rata-rata setiap rumah memiliki hewan peliharaan, seperti kambing, sapi, kerbau, atau ayam. Begitu pun neneknya Kamil, memiliki hewan peliharaan ayam dan juga kolam ikan emas dan nila.

Karena itu, Kamil selalu senang jika pulang kampung ke rumah nenek dan kakeknya. Selain ia rajin memberi makan ayam tiap pagi dan sore bersama kakeknya, ia juga senang sekali memancing ikan di kolam yang ada di belakang rumah neneknya.

Hal yang paling Kamil sukai saat di kampung adalah menyaksikan kakeknya memotong ayam bersama ayahnya. Ia jadi tahu proses awal, bagaimana ayam goreng itu bisa tersaji di meja makan.

Kamil juga sangat senang bisa terlibat dalam membersihkan bulu ayam. Ia juga bisa menyaksikan bagaimana proses pemotongan daging ayam. Jadi, saat di kampung, ada saja aktivitas yang ia kerjakan bersama keluarga dan nenek kakeknya.

Di belakang rumah neneknya terdapat sungai yang jernih, Kamil sangat suka mandi di sana. Airnya sangat segar dan banyak berbatuan, dari yang sangat kecil hingga ada batu yang sangat besar.

Kamil juga suka bermain mainan tradisional, seperti main gundu, main gobak sodor, engklek, dll.. Makanya ia sangat betah sekali jika sudah berada di kampung neneknya hingga ia tidak mau saat diajak kembali ke kota, pasti ada drama nangis-nangis hingga tantrum.

Namun hari itu, saat Kamil sedang bermain dengan teman-temannya, Kamil hilang entah ke mana. Padahal neneknya sudah menyuruh Kamil agar segera pulang karena hari mulai gelap. Namun karena Kamil bilang akan segera pulang, neneknya pulang lebih dulu ke rumah karena ibunya Kamil sedang memasak untuk makan malam bersama.

Kakek dan ayahnya Kamil mencari ke setiap tetangga, siapa tahu Kamil main ke rumah mereka. Namun ternyata Kamil tidak ada di sana. Teman-temannya yang sebelumnya bermain bersama Kamil bilang, kalau Kamil sudah pulang dari jam 5.30 sore.

Pencarian terus berlangsung hingga para tetangga ikut mencari Kamil hingga tengah malam. Namun Kamil tidak kunjung ketemu. Ibunya dan neneknya Kamil terus menangis sambil memanggil-manggil nama Kamil di belakang rumah.

Pencarian dihentikan sementara karena sudah larut malam dan akan dilanjutkan esok hari. Esok harinya, semua warga desa ikut beramai-ramai mencari Kamil hingga memukul-mukul kentongan yang terbuat dari bambu sambil memanggil nama Kamil.

Hari kedua masih nihil. Pencarian di lanjut hingga hari ke tiga. Orang tua dan kakek neneknya Kamil tak henti-hentinya berdoa dan berzikir agar Kamil bisa ditemukan dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Ibunya terus memanggil nama anaknya.

“Kaaamiiilll….Kaaamiiillll…pulang, Nak. Kamu di mana? Ayo kita pulanggg….” Teriak ibunya Kamil.

Di suatu tempat, Kamil mendengar namanya di panggil-panggil, tetapi ia tidak melihat siapa pun kecuali teman barunya bernama Qasim. “Aku mendengar ibuku memanggil namaku. Kita pulang, yuk! Aku takut, ibuku marah jika aku terlambat pulang,” ajak Kamil kepada Qasim.

“Sebentar lagi saja, aku kalau pulang ke rumah sekarang, ibuku tidak mengizinkan aku keluar rumah lagi untuk bermain bersamamu. Bagaimana kalau kita main petak umpet saja sambil kita naik ke atas gunung, mumpung hari belum gelap. Please! Ayo, main lagi bersamaku. Setelah turun gunung nanti, kita pulang. Aku janji, deh,” kata Qasim kepada Kamil.

“Ya, udah. Iya, deh. Ayo!” jawab Kamil kepada Qasim.

Kamil bermain petak umpet sambil naik gunung bersama Qasim. Kamil dan Qasim bergantian bersembunyi di balik pohon sampai akhirnya mereka berdua tiba di puncak gunung.

Kamil sangat senang pulang kampung kali ini, ia bisa naik ke puncak gunung bersama Qasim. Biasanya orang tua dan nenek kakeknya selalu melarang Kamil untuk mendaki gunung karena dianggap masih terlalu kecil dan belum terbiasa.

Berbeda dengan AKAMSI (Anak Kampung Sini), yang sudah terbiasa naik gunung dari kelas 2 SD, bahkan mereka lebih jago daripada para pendaki gunung. Saat AKAMSI naik gunung, mereka hanya membawa air mineral botol yang ukuran 600 ml.

Bahkan, ada juga yang tidak membawa apa-apa alias bawa diri saja. Sendal saja mereka pakai di tangan, sementara mereka berjalan tanpa alas kaki. Namun, langkah kaki mereka lebih cepat dari orang dewasa para pendaki gunung di sana.

Kemudian Kamil mengajak Qasim untuk segera turun gunung. Mereka akhirnya turun gunung, tetapi sebelum sampai di kaki gunung, Qasim meminta Kamil untuk mampir ke rumahnya. Kamil pun setuju.

Tidak lama, Qasim pun sampai di rumahnya. Rumah Qasim sangat indah seperti rumah-rumah di perkotaan, sangat modern, rumahnya bertingkat tiga dengan bangunan megah nan luas.

Qasim memanggil ibunya, “Mah, aku pulang. Lihat, siapa yang datang bersamaku!”

Ibunya Qasim keluar dan terkejut melihat kedatangan anaknya bersama anak manusia.

“Kenapa kamu pulang mengajaknya?” tanya ibunya Qasim.

“Karena dia bisa melihatku. Aku suka bermain dengannya. Bu, izinkan dia tinggal di sini untuk beberapa hari lagi,” ucap Qasim.

“Apakah temanmu mau tinggal di sini bersama kita?” tanya ibunya Qasim.

Belum sempat Qasim menjawab pertanyaan ibunya, tiba-tiba Kamil mendengar ada yang memanggil-manggil namanya berulang-ulang. Ia pun meminta Qasim untuk mengantarnya pulang ke rumahnya.

Kemudian ibunya Qasim meminta agar ia segera mengantar Kamil pulang ke rumahnya. Dengan berat hati, Qasim mengantarkan Kamil pulang ke rumahnya.

“Kamil akan aku tunjukkan jalan pulang ke rumahmu. Kamu ikuti saja jalan ini, jalan lurus terus, jangan menoleh ke belakang. Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke ujung jalan sana karena nanti aku tidak bisa kembali ke rumahku.”

“Apa kamu tidak hafal jalan pulang sehingga tidak mau ikut bersamaku, ke rumahku?” tanya Kamil.

“Ya, aku takut tersesat,” jawab Qasim berbohong kepada Kamil.

“Besok kita main lagi ya, aku akan datang ke rumahmu,” ucap Kamil.

Kemudian Kamil berjalan lurus sesuai dengan apa yang di perintahkan Qasim. Tiba-tiba Kamil merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Saat Kamil perlahan membuka mata, ia sedang tertidur di bawah pohon jati yang sangat besar dan tua yang berada di belakang rumah neneknya, sebelah kolam ikan.
Kabar bahwa Kamil sudah ditemukan setelah menghilang selama tiga hari akhirnya menyebar juga. Orang-orang berdatangan ke rumah neneknya Kamil. Keluarga Kamil dan orang-orang bertanya kepada Kamil, ke mana saja selama ini.

Lalu Kamil menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia merasa pergi dari rumah selama dua jam saja, tidak sampai berhari-hari. Kemudian nenek menasihati Kamil agar jangan main hingga mendekati waktu Magrib. Kemudian Kamil mengangguk.

Keluarga Kamil bersyukur, akhirnya Kamil bisa ditemukan tanpa kurang suatu apa pun. Para tetangga pun merasa bahagia dengan ditemukannya Kamil kembali. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus menegangkan bagi Kamil dan keluarganya.

Selesai

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 20

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *