Rahasia di Balik Pelukan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Riska Purmawati
Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan

CemerlangMedia.Com — Suatu pagi di bandara, langkah kaki para penumpang bergema tanpa henti. Luchson menatap jam tangannya lalu menyapu pandang ke sekeliling, sementara Indriana menggenggam tangan putrinya, Alviona, yang tak sabar menunggu seseorang.

Lima tahun sudah mereka tidak bertemu dengan Xander, putra sulung yang kuliah di Tiongkok. Hari ini adalah kepulangan yang paling dinantikan.

Ketika sosok tinggi dengan koper hitam muncul dari pintu kedatangan, mata Alviona langsung berbinar. Ia berlari tanpa menunggu dan memeluk abangnya erat.

“Abang, aku kangen banget sama Abang!” seru Alviona penuh rasa sayang.

“Abang juga sangat rindu, melebihi rindumu, Dek. Andai kamu tahu,” jawab Xander sambil menahan haru.

Hari-hari setelah pertemuan itu terasa hangat, tetapi juga membingungkan. Alviona merasakan jantungnya berdebar setiap kali bersama Xander—rasa yang sulit ia pahami. Xander pun diam-diam mengalami hal serupa. Selama kuliah di Tiongkok, ia sering menatap foto mereka berdua, menyadari bahwa perasaan yang tumbuh tidak seharusnya ada.

Mereka berdua mencoba menepis rasa itu. Xander mengajak diri sendiri menjauh, Alviona pun mulai menjaga jarak. Namun, makin mereka berusaha, makin besar kerinduan yang tak terucapkan.

Hari-hari berlalu. Luchson dan Indriana mulai curiga melihat kedua anak itu saling menghindar. Ada rasa tidak enak yang menyelinap di hati mereka, seolah ada rahasia besar yang belum terungkap.

Suatu malam hujan turun deras. Di ruang makan, aroma sup jagung memenuhi udara, tetapi suasana meja terasa tegang. Xander menunduk, Alviona menatap piring kosong. Luchson dan Indriana saling pandang, dada mereka penuh tanya.

“Ayah perhatikan, kalian berdua selalu menghindar. Ada apa sebenarnya?” suara Luchson memecah keheningan.

Alviona menelan ludah, tangannya gemetar. Xander mengangkat kepala, tatapannya bimbang. “Ayah, Ibu… kami tidak tahu harus mulai dari mana,” ucapnya pelan. “Ada perasaan yang membuat kami bingung. Kami berusaha menjauh supaya tidak menyinggung perasaan keluarga.”

Indriana terdiam, matanya berkaca. Luchson menarik napas panjang, lalu menatap putra sulungnya dengan sorot yang sulit ditebak. “Mungkin sekarang waktunya Ayah bicara,” katanya lirih.

“Xander… ada hal yang selama ini kami simpan. Kau bukan anak kandung kami. Kau adalah putra sahabat Ayah yang meninggal saat kau bayi. Kami membesarkanmu karena kami sayang.”

Suasana seketika sunyi. Suara hujan di luar terdengar makin jelas.

Xander terhenyak, sementara Alviona menatap ayah dan ibunya dengan mata membulat. “Jadi… selama ini…,” bisiknya, tak sanggup melanjutkan.

Luchson mengangguk pelan. “Kami menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Kalian berhak tahu sekarang.”

Air mata menitik di pipi Xander. Ia menatap orang tua yang membesarkannya. “Terima kasih… karena tetap mencintai saya seperti anak sendiri.”

Indriana memeluk mereka berdua. “Darah bukan segalanya. Kita tetap keluarga, tak peduli apa pun yang terjadi.”

Hujan di luar perlahan reda. Malam itu, meski penuh air mata, mereka akhirnya merasakan kelegaan. Rahasia yang selama ini tersembunyi terungkap, dan kejujuran menjadi awal dari kebersamaan yang baru.

“Kejujuran mungkin meneteskan air mata, tetapi hanya dengan kejujuran kasih sayang sejati dapat tumbuh dan keluarga tetap utuh, meski tak diikat darah.” [CM/Na]

Views: 17

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *