Oleh: Maman El Hakiem
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)
CemerlangMedia.Com — Panggil saja Pak Dadang … Pak Dadang, ingat panggil namanya dua kali, ya! Sekalipun nama sebenarnya Hidayat Abdurahman. Sarjana bahasa Arab yang senang berkelakar ini, lebih suka dengan panggilan khasnya tersebut. Selasa (7-11- 2023), pukul 01.30 Wib dini hari, di ruang 206 sebuah rumah sakit di Panjalin-Sumberjaya, beliau berpulang ke rahmatullah.
Keseharian Pak Dadang adalah mengajar di MTS Negeri 10 Majalengka dan aktif mengisi kajian dakwah, seperti majelis taklim di Rumah Tahfiz Al Mughni, menjadi host berbagai macam acara. Di mata penulis, beliau merupakan guru yang disiplin dan sabar dalam mengajar, terutama pada kajian bahasa Arab tiap Kamis sore, sepulang ia mengajar di sekolah.
Meskipun penulis pernah menjadi mentor beliau dalam kajian kitab tertentu tiap pekan, tetapi secara keilmuan, justru saya yang banyak belajar padanya. Sikap rendah hati, humoris, dan kritisnya yang menjadikan sosok Pak Dadang memiliki kepribadian yang unik.
Maka, berpulangnya beliau merupakan hal paling sulit karena harus kehilangan seorang sahabat, guru yang cerdas, dan humoris. Kepergian sahabat seperti itu meninggalkan luka yang mendalam di hati kita, tetapi di balik kepergiannya, ada banyak jejak kebaikan dan hikmah yang dapat kita petik dari perjalanan hidupnya.
Pak Dadang selalu siap menjalani amanah dakwah, meskipun di saat mendesak. Beliau merelakan menunda acara keluarganya untuk agenda dakwah yang lebih urgen. Selain memiliki prioritas amal, juga supel membuat siapa pun mudah bergaul dengannya, dan sering memotivasi orang untuk lebih baik. Ia terkesan ngeyel, tetapi sebenarnya sedang mencari nilai kebenaran berdasarkan kekuatan akalnya agar menemukan hakikat berpikir yang benar. Beberapa kali sikap beliau keras dalam adu argumen, tetapi melunak saat menemukan kepuasan literasinya.
Jangan Menyerah Menemukan Kebenaran
Beliau mengajarkan kita bahwa hidup jangan menyerah untuk menemukan kebenaran, meskipun apa yang kita sampaikan mendapat banyak benturan. Pak Dadang sangat gemar membaca, bahkan setiap ada buku yang baru ia berusaha untuk membelinya. Di rumahnya banyak koleksi buku, bahkan berserakan di atas meja kerjanya.
Pak Dadang dalam setiap obrolan, selalu saja mengoreksi ucapan yang menurutnya “rancu”, tetapi itu sebenarnya hanya humor. Hal tersebut mengajarkan kita bahwa hidup tidak selalu harus dijalani serius, humor bisa mencairkan suasana dan menjalani kehidupan dengan lebih ringan. Pak Dadang juga seorang broadcaster, penulis pernah menjadi pengisi acara tetap di stasiun radio komunitasnya. Dialog bersamanya mengasyikan karena lugas dan menghibur.
Ingin Jadi Penulis
Pada acara bedah buku “Retorika Pena Umat”, beliau pernah mengungkapkan bahwa cita-citanya sebenarnya ingin jadi penulis seperti saya. Akan tetapi, tersendat oleh kebutuhan hidup karena menulis tidak bisa menjadi mata pencaharian, maka beliau pun memilih mengajar dan berstatus pegawai negeri.
Beliau pernah berprestasi dalam karya tulis sewaktu masih jadi mahasiswa di IAIN Gunung Djati Bandung, naskahnya pernah dimuat di beberapa media cetak. Namun, sayang, karir kepenulisannya tidak diteruskan karena kesibukannya mengajar. Namun, beberapa catatan kecilnya sering ia posting di grup WhatsApp. Beliau pun pernah aktif di media sosial dan akunnya pernah di-banned karena kritikannya yang tajam dan menghujam.
Singkat cerita, mengenal sosok Pak Dadang menyimpan hikmah yang sangat berharga. Bisa menjadi refleksi buat kita tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Hal ini akan membuat kita menghargai setiap momen dan berinvestasi untuk menjadi jejak amal kebaikan.
Meneruskan Jejak Kebaikannya
Kepergian seorang sahabat, sekaligus guru yang cerdas dan humoris adalah momen yang membuat kita bersedih hati. Namun, di balik duka yang mendalam, kita dapat menemukan hikmah dan pelajaran berharga untuk dapat meneruskan jejak-jejak kebaikannya. Ingatlah selalu pesan Rasulullah saw. yang bunyinya, “Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim No. 1631).
Selamat jalan Pak Dadang…Pak Dadang, insyaallah, husnul khatimah.
Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]
Views: 39






















