Oleh. Neni Nurlaelasari
(Kontributor CemerlangMedia.Com)
CemerlangMedia.Com — Sahabat, pernahkah kita melihat unta merah? Mungkin saat ini kita hanya bisa meraba bahkan memandangi foto dari mesin pencarian Google. Namun, apakah yang membuat unta merah spesial sehingga disebutkan dalam sebuah hadis Rasulullah saw.? Yaps, karena siapa pun yang memiliki unta merah adalah orang yang beruntung. Sebab unta merah bagi orang Arab adalah harta yang paling istimewa kala itu. Namun demikian, kita sebagai muslim perlu mengetahui bahwa ada yang lebih baik dari unta merah. Yaitu pahala dari sebuah ilmu yang disebarkan sehingga membuat orang lain merasakan kebaikan dari ilmu tersebut. Seperti dalam sebuah hadis Rasulullah saw..
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menjadi perantara petunjuk bagi seseorang tentu membutuhkan niat yang lurus, rela berkorban waktu, harta, maupun tenaga. Serta tak lupa yang paling penting adalah ilmu. Sebab ilmu adalah kunci dari kebaikan. Bahkan keistimewaan ilmu daripada harta begitu besar, di antaranya:
Pertama, ilmu adalah warisan para Nabi, sementara harta adalah warisan Fir’aun, Qorun, dan orang-orang yang sama seperti mereka. Karena sejatinya diutusnya para Nabi adalah untuk menyampaikan risalah agama Allah. Maka sangat jelas bahwa yang ditinggalkan oleh para Nabi adalah ilmu.
Kedua, ilmu akan menjaga pemiliknya, sebaliknya pemilik harta justru dia akan sibuk menjaga hartanya. Sebab ilmu itu tersimpan dalam pikiran dan hati, ke manapun sang pemilik ilmu pergi, maka ilmu senantiasa membimbingnya agar selalu dalam kebaikan.
Ketiga, harta apabila dibelanjakan akan berkurang, sedangkan ilmu apabila disebarkan akan makin bertambah. Maka orang yang memiliki banyak harta tanpa disertai ilmu akan cenderung pada sifat kikir, berperilaku egois dan sombong.
Keempat, pemilik harta akan berpisah dengan hartanya saat kematian tiba, sementara pemilik ilmu akan didampingi dengan ilmunya hingga liang lahat. Ilmu yang bermanfaat menjadi pahala jariyah yang akan senantiasa mengalir, meski raga sudah berpisah dengan jiwa.
Sebenarnya masih banyak keutamaan ilmu daripada harta. Namun, beberapa poin di atas cukuplah menjadi muhasabah betapa pentingnya akan ilmu. Apalagi sebagai seorang muslim, menuntut ilmu adalah kewajiban dari buaian ibu hingga liang lahat. Akan tetapi, ilmu tanpa disebarkan ibarat air yang tertampung bejana. Lama kelamaan akan keruh seiring debu yang hinggap di atas air. Maka mengalirkan ilmu ibarat membuat jernih air dalam bejana.
Sejatinya ilmu itu harus disebarkan, maka sudah tentu berjemaah adalah suatu kebutuhan. Kenapa begitu? Ini karena iman seseorang itu tidak selalu dalam kondisi stabil. Ada masa di mana iman sedang turun (futur), maka sebagai manusia yang mempunyai kekurangan, di sinilah perlunya jemaah untuk saling menguatkan agar tidak sampai terjerumus pada keburukan.
Namun, berjemaah saja tak cukup tanpa memiliki visi dan misi yang baik. Maka visi dan misi yang sesuai syariat Islam-lah yang akan menjadikan dakwah Islam tak hanya mengalirkan kebaikan bagi individu, tetapi juga masyarakat hingga negara. Ulama (orang yang berilmu) adalah pewaris Nabi saw., maka kehadiran orang yang memiliki ilmu diharapkan bisa menjadi rahmat bagi semuanya. Sebab mereka menjadi estafet dakwah yang mengikuti tuntunan Rasulullah saw.. Sementara diutusnya Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt.,
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)
Terlebih jika kita melihat kondisi saat ini yang begitu mengiris hati. Di mana kaum muslimin mencampakkan hukum Islam dalam kehidupannya kemudian diganti dengan hukum buatan manusia. Ditambah berbagai kerusakan yang terjadi pada tubuh kaum muslim, kezaliman, penistaan, termasuk kerusakan generasi penerus. Maka sudah selayaknya mengambil peran untuk terus melakukan amar makruf nahi mungkar karena Allah telah mengabarkan dalam firman-Nya,
“….Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….” (QS Ar-Ra’d: 11)
Maka sudah saatnya kita mengazamkan diri untuk terus belajar dan berdakwah menyeru pada Islam yang sempurna. Sebagai bentuk ketaatan dan merupakan sebaik-baiknya bekal untuk pulang kelak. Karena pahala jariyah akan mengalir pada setiap insan yang berdakwah meski raga tiada. Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]
Views: 51






















