Cacingan Bukan Sekadar Penyakit, tetapi Bukti Kegagalan Sistem

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Widya Ummu El

Islam menawarkan solusi yang nyata dan terbukti dalam sejarah. Negara menjamin kesehatan secara gratis, prosedur yang mudah, dan layanan terbaik untuk semua rakyat tanpa terkecuali. Saatnya umat berpaling dari sistem kapitalisme yang zalim menuju sistem Islam yang benar-benar menjadikan negara sebagai pelindung dan pengurus umat.

CemerlangMedia.Com — Namanya Raya, balita yang baru berusia 4 tahun asal Sukabumi harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang memilukan. Raya menghembuskan napas terakhir di usia belia, setelah penyakit cacingan parah merenggut kesehatannya (metrotvnews, 23-8-2025).

Kisah tragis ini membuka mata bahwa di tengah gempita pembangunan dan klaim kemajuan, masih ada anak-anak Indonesia yang wafat karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati dengan mudah. Lebih menyedihkan lagi, Raya berasal dari keluarga miskin. Ayahnya mengidap TBC sejak lama, sementara ibunya mengalami gangguan kejiwaan. Mereka hidup di tempat tinggal yang jauh dari kata layak. Dengan kondisi seperti itu, sangat wajar jika Raya tidak mendapatkan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, maupun akses pelayanan kesehatan yang memadai.

Namun, yang lebih menyakitkan adalah fakta bahwa perhatian para pejabat dan instansi terkait baru muncul setelah kasus ini mencuat di media massa. Seolah-olah jika tidak viral, penderitaan rakyat kecil akan terus terkubur tanpa pernah tersentuh tangan negara.

Bukti Kegagalan Layanan Kesehatan

Kasus Raya hanyalah satu dari sekian banyak potret kegagalan pelayanan kesehatan di negeri ini, padahal kesehatan adalah hak mendasar yang seharusnya dijamin negara. Sayangnya, mekanisme pelayanan kesehatan di bawah sistem yang berjalan saat ini lebih banyak bersifat formalitas. Birokrasi berbelit, syarat administrasi yang panjang, dan mekanisme yang membingungkan membuat rakyat kecil sulit mengakses layanan medis.

Tidak jarang terdengar cerita warga yang harus menyerahkan berbagai dokumen rumit untuk mendapatkan layanan BPJS atau pasien yang ditolak rumah sakit karena tidak memenuhi syarat administratif. Semua ini menunjukkan bahwa negara masih menempatkan pelayanan kesehatan bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai “jasa” yang diberikan sekadarnya.

Di sisi lain, mereka yang memiliki uang dan privilese bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas kesehatan terbaik. Rumah sakit elite, dokter pribadi, bahkan akses ke luar negeri menjadi pilihan. Kontras sekali dengan rakyat kecil yang dibiarkan bergelut dengan penyakit menular, gizi buruk, hingga kematian tragis seperti yang menimpa Raya.

Kapitalisme yang Abai Pada Rakyat

Semua kondisi ini bukanlah kebetulan. Inilah buah dari sistem kapitalisme yang diterapkan negeri ini. Kapitalisme memandang negara bukan sebagai pengurus rakyat, tetapi sebagai pengendali yang memberi ruang sebesar-besarnya bagi kepentingan pemodal. Kesehatan pun dipandang sebagai komoditas, bukan kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.

Akibatnya, pelayanan kesehatan yang sejatinya harus mudah dan gratis, justru berubah menjadi beban. Negara baru hadir setelah isu viral, bukan sebagai pelayan rakyat yang sesungguhnya. Rakyat miskin hanya dianggap angka statistik, bukan manusia yang harus dijaga martabat dan nyawanya.

Bukankah ironis, di negeri yang dianugerahi sumber daya alam melimpah, anak-anak masih bisa meninggal hanya karena cacingan? Ini bukan semata kelalaian individu, melainkan bukti telanjang, betapa sistem kapitalisme gagal melindungi rakyat kecil.

Negara sebagai Penjamin Kesehatan dan Kehidupan

Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda. Dalam Islam, kesehatan bukan sekadar urusan individu, melainkan kewajiban negara.

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” (HR Bukhari dan Muslim).

Itu artinya, negara dalam sistem Islam wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Tidak boleh ada satu pun warga yang terabaikan, apalagi sampai meninggal karena penyakit yang bisa dicegah.

Sejarah mencatat, di masa Khil4f4h Islam, layanan kesehatan tersedia gratis dan dapat diakses semua orang tanpa diskriminasi. Rumah sakit dibangun dengan fasilitas terbaik, bahkan menyediakan dokter laki-laki dan perempuan terpisah untuk menjaga kehormatan pasien. Semua itu dibiayai oleh baitulmal (kas negara), bukan dari pungutan rakyat miskin.

Selain itu, Islam juga membangun kepedulian sosial yang kuat. Bahkan, Allah mengecam orang yang membiarkan anak yatim dan fakir miskin terlantar.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Ma’un: 1-3).

Solidaritas ini menjadikan masyarakat peka, saling menolong, dan tidak membiarkan seorang pun terabaikan.

Penutup

Tragedi Raya seharusnya menjadi pengingat keras bagi umat. Seorang anak kecil meninggal karena cacingan bukanlah sekadar masalah medis, tetapi cermin bobroknya sistem yang berjalan. Negara yang seharusnya melindungi, justru abai. Sistem kapitalisme terbukti gagal memastikan hak dasar rakyat, khususnya anak-anak.

Islam menawarkan solusi yang nyata dan terbukti dalam sejarah. Negara menjamin kesehatan secara gratis, prosedur yang mudah, dan layanan terbaik untuk semua rakyat tanpa terkecuali. Kini, umat harus jujur bertanya, sampai kapan akan membiarkan tragedi seperti Raya terus berulang?

Saatnya umat berpaling dari sistem kapitalisme yang zalim menuju sistem Islam yang benar-benar menjadikan negara sebagai pelindung dan pengurus umat. Hanya dengan itu, tragedi memilukan seperti ini tidak akan pernah terulang kembali. Wallahu a’lam bishawab. [CM/Na]

Views: 34

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *