Kelaparan Sistemik: Genosida Baru di Gaza, Saatnya Suarakan Solusi Hakiki

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Nurindasari, S.T.

CemerlangMedia.Com — Blokade penuh yang diberlakukan Isra3l sejak 2 Maret 2025 telah menjerumuskan dua juta penduduk Gaza ke dalam kelaparan paling parah dalam sejarah konflik. Bantuan kemanusiaan hanya diizinkan masuk dalam jumlah simbolis, sementara stok pangan habis dan anak-anak menjadi korban utama.

Data WHO mencatat, lebih dari 50 anak meninggal akibat malnutrisi sejak pengepungan dimulai dan satu dari sepuluh anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk. Di balik angka-angka itu, ada kisah nyata, seperti Ahlam, bayi tujuh bulan yang hidupnya digerus trauma, air kotor, dan kekurangan makanan, serta ribuan lainnya yang menghadapi nasib serupa (cnbcindonesia.com, 23-7-2025).

Cara Baru Genosida

Kebiadaban Zi*nis Yahudi terhadap rakyat Palestina sudah melampaui batas kemanusiaan. Mereka tidak hanya membunuh dengan peluru dan bom, tetapi kini mengeksekusi perlahan lewat kelaparan. Inilah wajah genosida abad ini, membiarkan jutaan manusia meregang nyawa, bukan hanya tetesan darah, tetapi juga perut kosong yang mencekik kehidupan.

Gaza, tanah kecil berpenduduk dua juta jiwa, kini menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Isra3l menutup rapat seluruh jalur masuk pada 2 Maret 2025, rakyat di sana terjebak dalam kelaparan mematikan. Truk bantuan hanya masuk dalam jumlah simbolis, sekadar sandiwara untuk menutupi niat busuk yang sebenarnya adalah memusnahkan sebuah bangsa.

Dunia Internasional Tidak Berdaya

Kelaparan sebagai senjata adalah kejahatan yang paling pengecut dan memalukan. Tidak ada alasan kemanusiaan yang dapat membenarkannya, tetapi dunia menutup mata. Media global membungkam fakta, PBB hanya berpidato tanpa keberanian, sementara Isra3l terus bertindak tanpa rasa takut pada konsekuensi hukum internasional.

Umat sudah berkali-kali melihat bahwa retorika tidak mempan. Isra3l kebal terhadap kecaman dan tidak gentar pada resolusi. Dukungan penuh dari Amerika Serikat lengkap dengan veto di Dewan Keamanan telah membuat Zi*nis merasa menjadi penguasa tunggal atas hidup dan mati rakyat Palestina. Sementara itu, lembaga-lembaga internasional hanya menjadi penonton tak berguna.

Lebih menyakitkan lagi, para pemimpin negeri-negeri muslim seakan kehilangan hati. Mereka sepi dari keberanian, tuli terhadap jeritan rakyat Gaza, dan buta terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membela sesama muslim. Mereka lebih takut pada tekanan Barat ketimbang murka Sang Pencipta.

Umat Islam di seluruh dunia pun banyak yang sudah termakan racun propaganda Barat. Mereka dibuat percaya bahwa umat ini lemah dan tidak berdaya, padahal itu hanyalah ilusi yang sengaja ditanamkan oleh penguasa yang berkhianat. Lemahnya umat hanyalah akibat dari tercerabutnya ikatan kepada sistem Islam yang pernah mempersatukan mereka.

Saatnya Suarakan Solusi Hakiki

Tragedi di Gaza makin memilukan karena solusi sebenarnya tersedia, tetapi terhalang tembok blokade yang tak kasat mata. Ribuan truk berisi makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar menunggu izin masuk, serta ribuan tenaga kesehatan siap memberikan pertolongan.

Namun, alih-alih menyelamatkan nyawa, dunia membiarkan antrean bantuan berubah menjadi barisan kematian, bahkan pusat-pusat bantuan menjadi sasaran bom. Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang harus dilakukan, melainkan berapa banyak lagi anak Gaza yang harus mati kelaparan sebelum dunia benar-benar bertindak.

Sejarah membuktikan, ketika umat Islam berpegang teguh pada akidahnya dan bersatu dalam satu kepemimpinan, mereka menjadi kekuatan besar yang tidak tertandingi. Khil4f4h pernah berdiri sebagai negara adidaya, mengatur dunia dengan keadilan, dan melindungi seluruh umat dari setiap bentuk penjajahan. Itulah kekuatan yang sengaja ingin dihapus dari ingatan kita.

Islam Solusi Hakiki untuk Palestina

Tragedi Gaza membuktikan bahwa seruan kemanusiaan, resolusi PBB, dan bantuan pangan hanyalah pereda sementara yang tidak menyentuh akar masalah. Selama Palestina tetap berada dalam cengkeraman penjajah, penderitaan akan terus berganti wajah dari bom, peluru, hingga kelaparan sistemik. Solusi hakiki tidak akan lahir dari meja perundingan yang dikendalikan musuh, melainkan dari kekuatan umat yang bersatu dalam kepemimpinan yang benar.

Islam menawarkan jalan penyelesaian yang telah terbukti sepanjang sejarah, yakni jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh negara. Di bawah naungan kepemimpinan Islam, setiap jengkal tanah kaum muslim dijaga, setiap nyawa dilindungi, dan setiap penindasan dibalas dengan kekuatan yang setimpal. Inilah sistem yang mempersatukan kekuatan umat lintas batas negara dan membebaskan wilayah-wilayah yang dirampas.

Oleh karena itu, penderitaan Palestina harus menjadi panggilan bagi umat Islam untuk bangkit dari kelalaian. Seruan dan doa harus diiringi langkah nyata menegakkan kembali sistem Islam yang akan menghapuskan penjajahan sampai ke akarnya. Dengan kembali kepada Islam secara kafah, umat akan mendapatkan pertolongan Allah dan Palestina akan merasakan kemerdekaan sejati yang tidak lagi diwarnai darah dan air mata. [CM/Na]

Views: 24

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *