Kemiskinan Menurun dalam Angka, Bolehkah Berbangga?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

CemerlangMedia.Com — Menko Pemberdayaan Masyarakat (PM) Muhaimin Iskandar atau yang biasa disapa Cak Imin menyampaikan capaian kerja penanggulangan kemiskinan ekstrem, bahwa angka kemiskinan ekstrem di Indonesia menurun dalam rentan waktu 2024-2025. Kemiskinan ekstrem secara persentase berhasil turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025.

Menurut Cak Imin, ada sekitar 0,48 persen penduduk miskin ekstrem telah naik kelas, artinya penduduk miskin ekstrem secara jumlah menjadi 2,2 juta orang dari sebelumnya 3,56 juta orang (detikNews.com, 27-4-2026). Capaian ini diperoleh berdasarkan hasil kerja bersama lintas kementerian lembaga dan badan dengan programnya masing-masing.

Program itu antara lain bantuan sosial yang telah menjangkau 8,56 juta keluarga miskin atau sekitar 93,6 persen dari total sasaran, Program Padat Karya dari Kemenko menjangkau 2 juta orang. Di sektor UMKM, ada 2 juta debitur baru telah mengakses permodalan. Pemerintah juga telah memfasilitasi 111 ribu pekerja migran sehingga bisa bekerja lebih baik.

Di sektor reformasi agraria, ada 28.000 keluarga mendapatkan pendampingan. Begitu juga dengan hal infrastruktur dan layanan dasar, ada 99,4 persen kecamatan telah memiliki puskesmas, 82,3 persen desa memiliki layanan pendidikan dasar, 89 persen kecamatan memiliki layanan pendidikan menengah. Renovasi dan pembangunan rumah melalui BSPS juga telah dikerjakan untuk 10.171 unit rumah di 219 kota/kabupaten.

Ada 514 pengurus dan 9.404 pendamping Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah mendapatkan pelatihan. Program Prioritas Nasional MBG telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat. Di sektor pendidikan, sudah ada 61,9 juta penduduk tersentuh terkait program pendidikan serta 166 Sekolah Rakyat telah beroperasi dengan 14.963 siswa dari keluarga miskin. Anggaran yang sudah dikucurkan dari APBN untuk semua program yang sudah terlaksana senilai Rp 503,2 triliun dan APBD sebesar Rp129 triliun.

Permainan Data Sudah Pasti Keahlian Kapitalisme

Data begitu lengkap tersaji, rapi, tetapi entah terpercaya atau tidak. Masalahnya jika ingin benar-benar mengetahui kita sudah sejahtera dan mereka yang miskin ekstrem sudah naik kelas, harus melihat fakta secara riil. Karena jika kita amati lebih teliti, rakyat hanya menerima bansos setiap enam bulan sekali, apakah bulan ke-7 sudah hilang miskinnya?

Mengapa yang disebutkan hanya sekolah rakyat? Bagaimana dengan sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)? Masih banyak anak yang tak punya bangunan sekolah yang layak, kekurangan guru, akses menuju sekolah hanya bergantung pada seutas tambang untuk menyeberang, belum lagi ancaman sekolah dipindah paksa untuk pembangunan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih), apakah karena sekolah rakyat masuk dalam katagori Program Strategis Nasional sehingga mendapat perhatian dan sudah bisa menjadi tolok ukur naik kelasnya masyarakat miskin ekstrem?

UMKM bertambah debiturnya, itu utang, bukan hibah dan yang pasti menggunakan riba, sebab kita berada dalam sistem ekonomi kapitalisme yang tak mengenal halal haram. Memfasilitasi pekerja migran hingga mendapat pekerjaan yang baik di luar negeri dianggap sukses, padahal faktanya, pemerintah kesulitan menyesuaikan keahlian fresh graduate dengan lapangan pekerjaan. Bukan semata sempitnya lapangan pekerjaan, tetapi karena negara juga membuka keran investasi yang sekaligus membawa tenaga kerja dan tenaga ahli mereka.

Yang lebih utama dari semua itu, semua dibiayai oleh APBN dan APBD, dua sumber keuangan yang pendapatan terbesarnya adalah pajak dan utang luar negeri. Mengapa bisa begitu? Padahal kekayaan alam Indonesia luar biasa dari sisi tambang, energi, kekayaan hutan, mineral, kekayaan laut, dan lainnya. Sekali lagi karena sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan negara ini, negara dipaksa hanya menjadi regulator kebijakan, sementara para eksekutor kekayaan alam ini.

Rakyat masih berkewajiban membayar pajak, artinya masih jauh dari kata sejahtera dan selama kita masih dalam lingkup sistem buatan manusia ini, maka selama itu kemiskinan tak akan pernah terangkat. Kapitalisme sangat lihai membungkus kenyataan ini dengan data seolah valid, beruntunnya program dari pemerintah dengan tajuk pengentasan kemiskinan sebagian besar hanya kebijakan tambal sulam dan bersifat temporer.

Islam Solusi Pasti Terangkatnya Kemiskinan

Dalam pandangan Islam, semua orang berhak mendapatkan pelayanan kebutuhan dasarnya secara adil tanpa membedakan suku, agama, budaya ataupun status kaya miskin. Dalam hal ini, syariat menetapkan negara sebagai pengelola kekayaan alam yang dikaruniakan Allah Swt. sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.” (HR Imam Abu Dawud).

Haram menyerahkan pada swasta atau asing. Karena itu adalah hak seluruh rakyat. Hasil pengelolaan disimpan di baitulmal, dipergunakan untuk kemaslahatan umat sesuai pendapat khalifah. Negara wajib membuka lapangan pekerjaan bagi rakyatnya seluas mungkin, salah satu dari pintu industri pengelolaan kekayaan alam. Namun, negara tetap mensuport bagi mereka yang ingin pekerjaan lainnya. Rakyat tidak dibebani dengan pajak, bahkan kebutuhan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan bisa diakses dengan gratis.

Bagi 8 ashnaf (golongan) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an diberikan harta dari pos zakat baitulmal. Demikian pula yang uzur dan lemah akan mendapat santunan dari baitulmal. Negara tidak menghalalkan semua transaksi yang berbasis riba atau yang bertentangan dengan syariat. Ketika ada pelanggaran, maka sanksi hukum yang tegas akan dijatuhkan oleh negara. Maka, adakah keraguan lagi dengan sistem yang berasal dari Allah Swt. ini? Jangan terlalu cepat berbangga dengan capaian rezim hari ini, sebab selama masih ada pengabaian hukum-hukum Allah, maka selama itu pula kita masih berdosa. Wallahu a’lam bissawab.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 14

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *