Marriage is Scary: Generasi Muda Takut Menikah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Penulis: Watini
Pegiat Literasi

Dalam penerapan sistem Islam, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat (pangan, sandang, papan). Negara juga wajib menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan secara gratis bagi rakyatnya. Sebab, negara dalam Islam bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan rakyatnya.

CemerlangMedia.Com — Beda zaman, beda tantangan. Beda generasi, beda filosofi. Meskipun generasi muda terkenal menggebu-gebu, setiap tantangan akan mereka lalui dengan penuh semangat dan tekad yang membara. Akan tetapi, berbeda dengan perihal pernikahan, mereka seolah mundur teratur dan menganggap pernikahan sebagai momok yang menakutkan. Apalagi banyak berita berseliweran tentang pernikahan muda yang kandas dan berujung perceraian. Alhasil, mereka lebih memilih fokus dalam pekerjaan dan meraih impian karena menganggap pernikahan tidak selamanya indah.

Dilansir dari Kompas.Id (27-11-2025), banyak anak muda sekarang yang menilai kestabilan ekonomi sebagai prioritas utama daripada menyegerakan menikah. Berbeda dengan dahulu yang menempatkan pernikahan sebagai tonggak kedewasaan yang harus segera dicapai. Bahkan, mereka yang berusia 30-an yang tidak kunjung menikah kerap kali dikaitkan dengan ‘keterlambatan’ melepas masa lajang.

Fenomena ketakutan hidup miskin setelah menikah tentu bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Hal ini berkaitan dengan realita kondisi ekonomi yang sedang mereka alami, seperti upah yang stagnan, sementara biaya hidup terus melonjak, sulit mendapat pekerjaan, sementara PHK di mana-mana. Ditambah lagi dengan paparan media sosial yang menyuguhkan kehidupan yang mewah.

Selain itu, munculnya narasi “marriage is scary” menggiring paradigma berpikir bahwa pernikahan itu rumit dan menakutkan. Tren ini ramai diperbincangkan di media sosial dengan memunculkan konten tentang pengalaman negatif atau pernikahan yang tidak sehat, seperti silent treatment yang dilakukan pasangan, ketidakmampuan berbagi pekerjaan rumah, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga kasus perselingkuhan yang berulang-ulang.

Sistem Sekularisme Pencetus Fobia Pernikahan

Fobia pernikahan merupakan efek realita dari penerapan sistem sekularisme. Jauhnya kehidupan dari syariat Islam merapuhkan mental generasi. Kebanyakan generasi saat ini bermental ‘kerupuk’ yang mudah melempem diterpa masalah kehidupan, apalagi melihat masalah pernikahan yang kompleks. Sistem sekularisme juga menciptakan generasi yang hanya berfokus pada standarisasi materi sehingga mereka menganggap pernikahan sebagai beban, bukan sebagai ibadah.

Sementara itu, negara yang sejatinya sebagai regulator, justru berlepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Memberikan akses mudah bagi para oligarki untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA), tetapi membiarkan rakyatnya kelaparan. Sementara jika SDA dikelola sebagaimana mestinya, bisa menyejahterakan rakyat. Namun, mereka yang diberi amanah hanya mengisi kantong-kantong para pengusaha atau swasta. Tidak heran jika yang kaya makin kaya raya, rakyat miskin makin tercekik.

Ditambah lagi kehidupan hedonisme yang glamor penuh sensasi, selalu tersorot media. Ditonton oleh jutaan mata yang mengaksesnya tanpa filter apa pun di tengah masyarakat, makin menambah gejolak dalam diri individual untuk bersaing hanya dalam hal finansial/materi. Menganggap kebahagiaan berada pada standar materi semata. Inilah output dari media dan pendidikan sekuler, menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Sebab, dalam pendidikan sekuler hanya berfokus pada persiapan dalam persaingan industri.

Islam Solusi Hakiki

Dalam penerapan sistem Islam, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat (pangan, sandang, papan). Negara juga wajib menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan secara gratis bagi rakyatnya. Sebab, negara dalam Islam bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan rakyatnya. Rasulullah saw., bersabda,

“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab penuh atas rakyat yang dia urus.” (HR An-Nasa’i).

Pemenuhan jaminan tersebut dapat dilakukan ketika negara mengelola sumber daya publik demi kesejahteraan rakyat dan mencegah pemusatan kekayaan di tangan korporasi. Alhasil, SDA seperti minyak, gas, tambang, dan mineral yang merupakan kepemilikan umum (milkiyyah al-‘ammah) wajib dikelola oleh negara yang kemudian hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat.

Selain itu, dalam pemenuhan kebutuhan dasar, Islam juga memerintahkan individu untuk memenuhi kewajiban nafkah sesuai dengan kapasitasnya. Oleh karenanya, negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi mereka. Melalui kebijakan ekonomi berorientasi sektor riil seperti perdagangan, pertanian, dan industri.

Di sisi lain, dalam sistem pendidikan, akidah dijadikan sebagai asas pendidikannya. Pendidikan berbasis akidah ini akan membentuk generasi berkepribadian Islam yang tidak mudah terjebak dalam arus hedonisme dan materialisme. Perbuatan mereka diatur oleh syariat dan potensinya diarahkan untuk beramal demi meraih rida Allah Swt., salah satunya menjadi penyelamat umat melalui jalan dakwah.

Begitupun dalam ranah pernikahan, keluarga dibangun berlandaskan keimanan dan tujuan meraih rida Allah Swt.. Dengan begitu, pemahaman Islam yang sudah tertanam melalui pendidikan berbasis Islam akan mengantarkan pada kepribadian yang siap membangun keluarga sakinah, mawadah wa rahmah (samara) dan tentunya bertakwa.

Seperti itulah sistem Islam menjaga keutuhan keluarga agar tetap harmonis berlandaskan ketakwaan kepada Allah Swt.. Tentu ini akan sangat sulit jika diterapkan dalam sistem sekuler saat ini. Hanya dengan sistem Islam, ketakutan tentang pernikahan akan berganti dengan ketenangan.

Dalam Islam, pernikahan dijadikan sebagai jalan untuk menjaga kehormatan yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia, di antaranya nasab/garis keturunan, perwalian, hukum waris, dan sebagainya. Allah Swt., berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan istri-istri kalian dari diri kalian sendiri agar kalian merasakan ketenteraman dengan mereka, lalu Dia menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian. Sungguh pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (TQS Ar-Rum: 21).

Wallahu a’lam bisshawab

Views: 23

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *