Penulis: Endang Widayati
Kesadaran umat akan kezaliman saat ini haruslah diarahkan pada perjuangan perubahan yang hakiki. Umat harus ikut andil dalam perubahan dari sistem jahiliah, yaitu kapitalisme menjadi sistem Islam di bawah naungan Khil4f4h.
CemerlangMedia.Com — Seruan pengibaran bendera ikonik di serial anime One Piece mencuat sebagai tanda kekecewaan rakyat atas buruknya kinerja pemerintah. Pemerintah dinilai tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat.
Dikutip dari Tempo (01-08-2025), Riki Hidayat, seorang warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan memiliki niat untuk mengibarkan bendera One Piece menjelang HUT RI ke-80 sebagai bentuk ketidakpuasannya terhadap kinerja pemerintah selama ini. Riki pun merasa bahwa pajak yang selama ini dibayarkan ternyata belum bisa dinikmati oleh dirinya dan rakyat lainnya. Itulah luapan perasaan salah satu rakyat negeri ini.
Namun, di sisi lain, sungguh disayangkan respons dari pejabat negeri ini yang mengatakan bahwa pengibaran bendera One Piece tersebut dianggap sebagai upaya memecah belah persatuan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad di kompleks parlemen Senayan, Jakarta.
One Piece, Bentuk Protes terhadap Ketidakadilan
Santer seruan pengibaran bendera One Piece mengisyaratkan bahwa rakyat merasakan ketidakadilan yang diterimanya. Seruan ini bukanlah bentuk makar yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan rakyat. Sebab, selama ini rakyat mampu melihat berbagai problem yang dihasilkan dari kebijakan penguasa yang tidak adil.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa dirasa sangat merugikan dan menzalimi rakyat, seperti adanya pajak yang dipungut hampir di berbagai lini kehidupan. Pajak yang disebut-sebut digunakan untuk memperbaiki dan membangun sarana prasarana untuk rakyat ternyata banyak yang dikorupsi.
Selain itu, pengelolaan tambang yang juga diklaim untuk kepentingan rakyat, tetapi realisasinya hanya menguntungkan para penguasa dan kroninya. Aktivitas tambang yang dilakukan oleh korporatokrasi memberikan dampak buruk, baik bagi penduduk sekitar ataupun alam. Tidak cukup hanya itu saja, ketidakadilan tampak juga di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, hukum, dan peradilan.
Telah menjadi rahasia umum bahwa kesehatan dan pendidikan di negeri ini membutuhkan biaya yang tinggi. Dari sisi kesehatan, seakan telah menjadi hal yang biasa ketika rakyat miskin tidak bisa berobat dan mendapatkan layanan yang baik. Mereka juga tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak karena keterbatasan ekonomi. Di bidang sosial, didapati banyak persoalan, mulai dari pergaulan bebas, bullying, hingga pengangguran tinggi merebak di mana-mana.
Mirisnya lagi, ketika permasalahan ini sampai di peradilan, rakyat pun tidak bisa berharap banyak terhadap lembaga tersebut. Sebab, di dalam lembaga ini pun terdapat kecacatan, baik dari sisi penegakan hukum ataupun dari sisi hakim yang bisa disuap.
Hukum yang dijatuhkan pun tidak bisa memberikan keadilan dan rasa jera. Banyak kasus yang berhenti penegakan hukumnya karena tersangka masih berada di bawah umur, padahal mereka telah melakukan kejahatan yang luar biasa kejam, seperti pembunuhan dan pemerkosaan.
Inilah ketidakadilan yang dirasakan oleh hampir seluruh rakyat di negeri ini sehingga wajar jika ada rakyat yang meluapkan kekecewaannya atas ketidakadilan yang ada dengan mengibarkan bendera One Piece. Kemerdekaan yang senantiasa digaungkan nyatanya berbanding terbalik dengan kondisi yang ada saat ini. Rakyat secara tidak langsung terjajah di negerinya sendiri.
Kapitalisme Akar Masalah
Ketidakadilan yang masyarakat rasakan sejatinya lahir dari regulasi pemerintahan di bawah sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan saat ini melahirkan kesenjangan sosial yang tinggi. Kebijakan yang dihasilkan hanya menguntungkan elite penguasa dan harta berlebih tentunya hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya saja.
Hal ini menjadikan kondisi rakyat makin terjepit oleh kezaliman structural, termasuk di dalamnya adalah kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi saat ini bukan semata disebabkan karena mereka malas bekerja, bukan juga karena banyaknya anak, melainkan terjadi karena krisis multidimensi, buah dari sistem kapitalisme.
Di dalam sistem kapitalisme, keuntungan dan keserakahan menjadi hal yang niscaya terwujud dan dimiliki oleh para pengembannya. Sebab, kapitalis memandang bahwa kesejahteraan ekonomi adalah tujuan utama kehidupan manusia. Kapitalisme adalah sistem yang lahir dari adanya ketidakadilan regulasi sosialisme-komunisme yang kemudian hanya mengantarkan pada ketidakadilan jilid baru.
Seakan bebas terlepas dari sistem otoriter, tetapi saat ini kerusakan kapitalisme sangat menyengsarakan rakyat. Seolah kapitalisme memberikan yang terbaik dengan adanya bantuan sosial dan subsidi kepada rakyat, padahal sejatinya itu semua dijadikan tameng atas kegagalan dalam mengurusi rakyat.
Upaya-upaya kapitalisme dalam membalut luka rakyat dengan memberikan insentif ataupun bantuan langsung kepada rakyat adalah cara untuk membius sikap kritis mereka. Tidak sedikit dari rakyat yang terlena dengan kebaikan ala penguasa kapitalis sehingga membuat dirinya dibutakan dengan citra baik yang ditampakkan.
Hal ini akan terus-menerus terjadi selama negara ini menerapkan sistem kapitalisme sebagai landasan perekonomiannya. Rakyat akan selalu berada dalam kesempitan hidup dan tiada ruang yang cukup untuk merasakan kebahagiaan. Inilah gambaran kerusakan sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas. Masihkah berharap pada regulasi kapitalisme?
Islam Solusi Paripurna
Islam adalah sebuah pandangan hidup yang paripurna dan paling akhir yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw.. Islam adalah satu-satunya pandangan hidup yang diamanatkan kepada umat manusia oleh Sang Pencipta alam semesta sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala,
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran: 85).
Pada hakikatnya, hanyalah Zat Yang Maha Tahu dan tidak terbatas yang mampu memberikan seperangkat sistem hukum yang adil dan menyeluruh yang mampu mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, hanya Allah Swt. satu-satunya Zat yang pantas menduduki posisi sebagai pemilik kedaulatan dan pembuat hukum.
Allah Swt. menyatakan dalam Al-Qur’an,
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah: 50).
Sistem Islam mengatur berbagai macam urusan kehidupan manusia. Hal ini tampak dalam tiga aspek kehidupan manusia, yaitu hubungan antara manusia dengan Allah yang mencakup ibadah dan akidah, hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri yang mencakup pakaian, makanan, dan akhlak, dan hubungan antara manusia dengan sesamanya yang mencakup muamalah, pemerintahan, politik, hukum, dan lain-lain.
Aturan Islam yang menyeluruh ini tidak akan bisa terlaksana dengan baik tanpa adanya sebuah institusi yang menerapkannya, yaitu Daulah Khil4f4h. Ketika Islam diterapkan oleh negara, umat akan menjadi khairu ummah (umat terbaik) dan akan hidup dalam kebaikan dan kemuliaan.
Kesejahteraan dan keadilan akan bisa diraih dalam dunia ini dengan mudah, sebab khalifah sebagai kepala negara akan menjalankan kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Kebutuhan pokok menjadi hal wajib yang harus disediakan dan dipenuhi oleh negara.
Ketika negara melakukan kezaliman, maka rakyat memiliki kewajiban untuk mengingatkan agar kembali kepada hukum Allah Swt.. Kritik dan kesadaran rakyat akan kezaliman yang terjadi adalah hal biasa dalam Daulah Khil4f4h.
Oleh karena itu, kesadaran umat akan kezaliman saat ini haruslah diarahkan pada perjuangan perubahan yang hakiki. Umat harus ikut andil dalam perubahan dari sistem jahiliah, yaitu kapitalisme menjadi sistem Islam di bawah naungan Khil4f4h. Wallahu a’lam. [CM/Na]
Views: 28






















