#30HMBCM
Oleh: Hawilawati
CemerlangMedia.Com, PARENTING — Pernah tidak, Bun, merasa galau atau “deg-degan” melihat tumbuh kembang si kecil? Ada seorang teman dekat curhat dengan nada yang cukup khawatir. “Bu, kenapa ya, anak saya sudah dua tahun, tetapi bicaranya masih irit banget? Padahal rasanya saya sudah rajin mengajaknya ngobrol,” katanya.
Mendengar itu, aku langsung teringat bahwa perasaan was-was seperti itu sangatlah manusiawi. Banyak dari kita yang mungkin diam-diam membandingkan si kecil dengan anak seusianya yang sudah lancar bercerita. Langkah pertama yang biasanya aku sarankan untuk menenangkan hati adalah mengecek hal paling mendasar: pendengarannya.
“Coba tes deh, Bun. Kalau namanya dipanggil atau ada suara benda jatuh, dia responsif tidak?” tanyaku waktu itu.
“Noleh banget, kok. Bahkan kalau ada suara dia akan mencari sumber suara tersebut,” jawabnya mantap.
Nah, kalau secara medis pendengarannya sehat, sebenarnya kita bisa bernapas lega. Artinya, “perangkat” komunikasinya sudah siap, tinggal menunggu waktu dan stimulasi yang tepat saja. Kita perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki garis waktu pertumbuhannya masing-masing. Tugas kita bukan memaksanya segera pandai berucap, melainkan dengan sabar “menyemai” benih-benih kosakata agar kelak lisannya tumbuh subur dan bermakna.
Berdasarkan pengalamanku yang juga masih terus belajar ini, menjemput keajaiban lisan si kecil tidak harus lewat sesi belajar yang kaku. Justru, melalui lisan kita dalam aktivitas harian yang sederhana, “keajaiban” itu akan muncul. Berikut adalah beberapa cara praktis yang biasa aku lakukan:
Pertama, Menamai Setiap Sudut Dunianya.
Aku sering memanfaatkan setiap benda yang ia sentuh sebagai sumber belajar. Saat ia memegang sendok, aku akan bilang dengan artikulasi jelas, “Wah, sendoknya warna hijau, ya.” Atau saat ia duduk, aku katakan, “Ini kursi untuk kakak duduk.” Dengan menyebutkan nama benda sesuai bentuk aslinya, kita sedang membantu memorinya merekam kata demi kata dengan akurat.
Kedua, Membangun Dialog, Bukan Sekadar Bicara.
Ternyata, stimulasi bukan berarti kita harus bicara tanpa henti. Aku belajar untuk bicara bersama anak, bukan hanya kepada anak. Setelah melempar pertanyaan sederhana, aku coba diam sejenak sekitar 5—10 detik. Memberinya jeda untuk merespons, meski hanya lewat tatapan mata atau gumaman kecil adalah cara terbaik melatihnya memahami konsep timbal balik dalam berkomunikasi.
Ketiga, Menghidupkan Kisah Lewat Buku.
Membacakan buku cerita dengan visual yang menarik adalah salah satu momen terbaik. Saat membacakan, aku mencoba menjadi “pengisi suara” yang ekspresif. Suara yang naik-turun dan mimik wajah yang lucu membantu anak menghubungkan apa yang ia lihat dengan apa yang ia dengar dari lisan ibunya.
Keempat, Melatih Imajinasi Lewat Pendengaran.
Sesekali, aku juga memperdengarkan kisah dalam bentuk audio tanpa gambar. Cara ini sangat bagus untuk melatih fokus pendengarannya dalam menangkap rangkaian kata tanpa bantuan visual. Di sinilah daya imajinasinya mulai bekerja membayangkan setiap cerita yang ia dengar.
Kelima, Mengasah Visual dengan Kartu Kata dan Buku Kain.
Selain mengenalkan benda nyata, aku juga menggunakan flashcard satu kosakata untuk mempertajam fokus dan melatih pelafalan yang benar. Salah satunya memilih material dari kertas tebal. Saat inipun buku kain yang bisa dicuci juga sangat bagus bagi si kecil. Dengan material yang lembut dan bersih, si kecil bebas mengeksplorasi kartu atau buku tersebut sepuasnya tanpa kita perlu khawatir soal kuman atau risiko kertas yang tajam. Sesi belajar pun jadi terasa seperti waktu bermain yang aman dan berkualitas.
Keenam, Stimulasi Nyata di Lingkungan Sosial.
Aku pun juga suka mengajak si kecil saat sedang berkumpul dengan teman atau keluarga. Di sana, ia akan mendengar beragam nada suara dan kosakata baru dari lawan bicara yang berbeda. Interaksi nyata ini adalah stimulasi yang sangat kaya bagi perkembangan bahasanya. Di ruang ini pun tak jarang si kecil akan bertemu dengan anak teman-temanku yang sebaya.
Percakapan di antara si kecil terdengar ramai dan unik. Walau belum sempurna, biarkanlah mereka berani tuk berkomunikasi.
Kekuatan Lisan dan Kasih Sayang yang Tidak Dimiliki Gadget
Satu hal yang harus kita sadari, proses menjemput keajaiban lisan si kecil secara langsung adalah momen emas untuk menguatkan bonding atau kedekatan psikis. Gadget mungkin bisa mengeluarkan suara, tetapi gadget tidak memiliki detak jantung, tidak memiliki hangatnya pelukan, dan tidak bisa memberikan tatapan mata yang penuh cinta.
Melalui lisan Bunda, anak tidak hanya belajar kosa kata, tetapi juga belajar kecerdasan ekspresi. Ia belajar bagaimana sebuah kata diucapkan dengan senyuman, dengan nada kasih sayang, atau dengan ketegasan yang lembut. Ekspresi jiwa inilah yang tidak akan pernah ia dapatkan dari layar digital.
Dan yang paling utama, setiap kali kita menyemai kata ke telinga si kecil, sertakanlah doa-doa kebaikan. Kita berharap kelak dari lisannya hanya akan mengalir perkataan yang ahsan, jujur, dan membawa manfaat. Mari terus bersabar dan telaten, karena setiap kata yang kita berikan hari ini adalah pupuk terbaik bagi kecerdasan akalnya di masa depan.
Selamat menyemai kebaikan lewat lisan, ya Bunda!
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 15






















