Jadilah Seperti Semut

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

Oleh: Neni Nurlaelasari
(Kontributor Tetap CemerlangMedia.Com)

“Salah satu bagian dari takwa, yaitu melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Oleh karena itu, kita pun dituntut untuk terus belajar Islam secara menyeluruh (kafah) agar kita mampu melakukan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tantangan hari ini sungguh bukan sekadar kerusakan akhlak, tetapi juga kezaliman lainnya yang terpampang nyata.”


CemerlangMedia.Com — Sahabat, apakah yang pertama kali terlintas dalam benak kita saat mendengar kata semut? Yups, semut itu binatang kecil yang sering tiba-tiba hadir di atas makanan atau minuman kita. Rasa kesal kadang menghampiri kala melihat semut berkerumun di atas makanan.

Bahkan, spontan kita sering mengusir semut-semut itu agar segera menghilang dari pandangan mata. Namun, tahukah sahabat bahwa ternyata semut itu memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Semut itu memiliki kisah istimewa yang patut diteladani, di antaranya,

Pertama, kisah semut yang tak mengenal kata lelah mengangkut air saat peristiwa raja Namrud yang berusaha membakar Nabi Ibrahim a.s. Semut tidak berpangku tangan melihat Nabi Ibrahim a.s yang dikelilingi api. Meskipun air yang dipikulnya dianggap tidak dapat memadamkan besarnya api, tetapi semangat pantang menyerah terus dilakukan semut.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa saat melihat kezaliman di depan mata, maka seharusnya kita tidak diam begitu saja. Hal ini pun sebagimana hadis Rasulullah saw.,

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika dia tidak mampu, hendaknya dia ubah dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu, hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Kedua, kisah semut yang meminta golongannya untuk memasuki sarangnya masing-masing saat Nabi Sulaiman a.s. beserta rombongannya akan melewati lembah semut. Kisah ini abadi dalam QS An-Naml ayat 18.

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Ini mengajarkan bahwa kita perlu berhati-hati dalam menyikapi masalah yang datang, serta berusaha mengupayakan solusi terbaik agar bisa menyelesaikan masalah yang ada. Mengingatkan pula bahwa kita tidak akan dihisab atas masalah yang menghampiri, tetapi kita akan dihisab atas jawaban atau ikhtiar yang kita lakukan dalam menghadapi masalah tersebut.

Selain dua kisah semut di atas, kita pun bisa mengambil ibrah (pelajaran) dari kehidupan semut. Mahluk kecil ini mengajarkan kepada manusia untuk tidak meremehkan siapa pun, sebab bisa jadi yang dianggap kecil, justru dialah yang paling mulia.

Lihatlah, semut meskipun dipandang kecil, tetapi namanya abadi dalam sebuah surah Al Qur’an, yakni An-Naml yang berarti semut. Pun mengingatkan kepada kita bahwa manusia yang mulia itu bukan karena harta dan kekuasaan yang dimilikinya, tetapi kekuatan imanlah yang membuat derajatnya tinggi di hadapan Allah Swt.. Ini sebagaimana firman Allah Swt.,

“… Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa….” (QS Al-hujurat: 13).

Sahabat, setelah kita mengetahui bahwa yang paling mulia di sisi Allah Swt. adalah yang bertakwa, maka tugas selanjutnya adalah pelaksanaan dari takwa tersebut. Takwa secara sederhana dapat diartikan menjalankan seluruh perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ini menandakan bahwa kita tidak boleh memilih-milih syariat Allah Swt. (Islam) sesuai yang kita kehendaki. Oleh karenanya, ketaatan totallah yang menunjukkan bahwa kita merupakan insan yang bertakwa.

Salah satu bagian dari takwa, yaitu melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Oleh karena itu, kita pun dituntut untuk terus belajar Islam secara menyeluruh (kafah) agar kita mampu melakukan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tantangan hari ini sungguh bukan sekadar kerusakan akhlak semata, tetapi kita dihadapkan pada kondisi kezaliman lainnya yang terpampang nyata.

Semoga dengan kita mengambil pelajaran dari semut, kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini karena segala yang Allah Swt. ciptakan tidak ada satu pun yang sia-sia, bahkan banyak pelajaran berharga, meski hanya dari seekor semut. Wallahu a’lam bisshawwab. [CM/NA]

Views: 87

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *