Aku Tak Ingin Berbeda

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com — Langit sore menguning, membias di jendela kamar Naira. Di depan meja belajarnya, gadis kelas 11 itu menatap layar ponsel tanpa berkedip. Jarinya menggulir layar Instagram seperti sudah otomatis, membuka story demi story. Teman-temannya terlihat tertawa di rooftop café baru yang lagi viral.

Ada yang foto OOTD.
Ada yang ngumpul sambil ngopi-ngopi.
Ada yang bikin vlog “healing tipis-tipis”.

Naira menghela napas panjang. “Kenapa semuanya seru banget tanpa aku?” gumamnya lirih.

Ia tahu sebenarnya ia bisa ikut. Ia mampu. Tapi belakangan hatinya terasa sesak: seolah kalau ia tidak muncul di story orang lain, hidupnya tidak dianggap. Kalau tidak ikut tren, ia bukan bagian dari dunia remajanya sendiri.

Di notifikasi, muncul chat dari sahabatnya, Rani.

[Nai, kamu gak ikut? Seru banget di sini!]

[Gapapa Ran … aku lagi capek.]

Padahal bukan capek. Yang capek hatinya. Dikejar rasa takut ketinggalan, takut tidak diakui, takut dicap “biasa aja.”

Ponsel itu ia letakkan. Ia menarik napas dalam lalu menatap cermin. “Kenapa sih, aku gini banget?”

Hatinya tertawa getir.
Ia sadar ada yang salah, tetapi tak tahu apa.

Besoknya, sekolah mengadakan kegiatan Hear Us, semacam forum diskusi remaja dan bimbingan dari seorang ustazah muda bernama Ustazah Maryam. Tema hari itu: “Gen Z, FOMO, dan Ketenangan Hati.”

Naira hampir tidak ingin datang, tetapi Rani menyeretnya.

Ruang aula ramai. Banyak yang duduk sambil masih cek HP. Kebiasaan yang tidak pernah hilang.

Ustazah Maryam naik ke podium dengan senyum lembut. “Anak-anakku, hari ini kita bicara tentang sesuatu yang banyak kalian rasakan … tapi malu untuk mengakuinya.”

Suara aula mulai hening.

“FOMO. Fear of Missing Out. Takut tertinggal. Takut tidak menjadi bagian dari sesuatu. Takut … tidak terlihat.”

Perkataan itu terasa seperti anak panah kecil yang tepat mengenai dada Naira.

Ustadzah melanjutkan dengan suara lembut tapi tegas.

“Tahukah kalian? Rasa takut itu muncul bukan karena kalian kurang keren …, tetapi karena hati kalian kurang merasa dimiliki oleh Allah.”

Semua diam. Termasuk Naira.

“Banyak dari kalian merasa harus ikut tren agar diakui. Harus nongol di story agar dianggap ada. Padahal yang menentukan nilai diri kalian bukan sorotan kamera …, tetapi sorotan Rabb kalian.”

Ada bisikan kecil dalam hati Naira:
Benar … aku lupa soal itu.

Saat sesi tanya jawab, entah dorongan apa yang membuat tangan Naira terangkat.

Ustadzah tersenyum. “Silakan dik, siapa namanya?”
“N … Naira, Ustazah.”
“Ya, Naira. Ada apa?”

Naira menggigit bibir. “Kadang saya merasa … kalau saya nggak ikut sama yang viral atau nggak nongol di story, rasanya … kayak saya nggak exist, Ustazah. Saya tahu itu salah, tetapi … kok tetap sakit ya?”

Ruangan hening. Banyak wajah remaja lain yang tiba-tiba tampak setuju.

Ustazah mendekatinya sambil duduk bersimpuh di depan barisan kursi.

“Naira,” katanya lembut, “Yang membuatmu ada … bukan story orang lain.
Yang membuatmu berarti … bukan like atau view.”

Naira menunduk, air matanya menggenang.

“Kamu tidak diciptakan untuk mengejar perhatian manusia. Kamu diciptakan untuk menjadi hamba Allah. Dan selama kamu dekat dengan-Nya, kamu selalu ada, bahkan ketika dunia tidak melihatmu.”

“Lalu … gimana cara berhenti ngerasa ketinggalan?” suara Naira pecah.

“Sederhana,” Ustazah tersenyum, “Berhenti berlari mengejar dunia yang tidak pernah menunggumu. Kejar Allah. Karena Dia selalu menantimu.”

Ustazah melanjutkan, “Bahkan, Rasulullah saw. bersabda:
‘Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah jadikan kefakiran selalu di depan matanya.’
Tapi kalau kalian menjadikan akhirat tujuan utama, dunia akan mendatangi kalian dengan sendirinya.”

Naira memejam, meresapi. Untuk pertama kalinya, hatinya merasa disentuh tanpa dihakimi.

Setelah acara, Naira mendekati Ustazah Maryam yang sedang merapikan buku.

“Ustazah … boleh saya tanya lagi?”
“Tentu. Duduk sini, Nak.”

Naira duduk menghadapnya.

“Ustazah … kadang saya takut … kalau saya nggak ikut teman-teman, nanti saya sendirian.”

Ustazah mengangkat wajah Naira dengan lembut. “Nak … lebih baik sendiri dalam ketaatan, daripada ramai dalam kelalaian.”

“Kalau mereka menjauh?”

“Maka Allah akan mendekat.”

Dan kalimat itu … runtuhkan tembok yang selama ini mengekang dada Naira.

Malam itu, Naira pulang dan mematikan lampu kamar.

Ia duduk bersila, menatap ponsel.
Foto-foto teman-temannya muncul lagi. Story baru. Café baru. Outfit baru.

Tapi … kali ini rasanya berbeda.

Ia justru melihat wajahnya sendiri di cermin layar HP. Seorang remaja yang lebih peduli pada pandangan manusia daripada pandangan Rabb-nya.

Air matanya jatuh.

“Ya Allah … aku takut kehilangan mereka … tetapi aku lupa bahwa aku bisa kehilangan diri sendiri.”

Ia memeluk lututnya, berbisik lirih, “Ya Allah, tenangkan hatiku… Karena aku capek mengejar dunia yang tak pernah puas.”

Untuk pertama kalinya, FOMO itu tidak lagi menakutkan. Ia justru menjadi cermin yang memantulkan siapa Naira sebenarnya.

Keesokan harinya, ia menemui Rani.

“Ran … maaf kalau kemarin aku nggak ikut.”
“Gak apa-apa Nai, tetapi api kamu beneran kenapa?”

Naira tersenyum kecil. “Aku cuma sadar … kita sering takut ketinggalan tempat-tempat keren … tetapi justru ketinggalan ketenangan hati.”

Rani mengerutkan dahi. “Dalem banget, sumpah.”

“Kemarin Ustazah bilang, kalau kita ngejar dunia terus, kita bakal capek sendiri.”

Rani terdiam. Lalu mengangguk perlahan.
“Mungkin … aku juga capek, Nai.”

Naira memegang tangan sahabatnya.
“Ran … gimana kalau kita mulai perbaiki bareng-bareng? Mulai dari berhenti bandingin hidup kita sama orang lain. Mulai fokus sama apa yang Allah nilai.”

Rani tersenyum. “Ayo!”

Dan sejak hari itu, hidup Naira pelan-pelan berubah. Ia masih ikut tren kadang-kadang, masih nongkrong, masih foto-foto.
Tapi bedanya, ia tidak lagi melakukannya untuk validasi.

Ia melakukannya dengan sadar, hanya sekadar melepas penat sesaat saat selesai beraktivitas. Itu pun hanya sesekali. Bukan karena takut ketinggalan.

Karena ia tahu, yang paling penting bukan terlihat banyak orang, tetapi terlihat oleh Allah.

FOMO muncul ketika hati kehilangan pegangan. Remaja butuh pengakuan, tetapi lebih butuh ketenangan dan arah.

Dalam Islam, nilai diri tidak ditentukan manusia, tetapi Allah.

Dan ketenangan datang saat hati berhenti mengejar dunia, lalu kembali mengejar Rabb-nya.

Tamat

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 37

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *