#30HMBCM
Oleh: Melgi Zarwati
CemerlangMedia.Com, FAKSI — Shaliha ingin sekali melanjutkan pendidikan ke sekolah impiannya. Meski ia berasal dari keluarga sederhana, bahkan sangat sederhana—semangatnya tak pernah padam. Di matanya, ilmu adalah cahaya dan cahaya itu ingin terus ia kejar, meski langkahnya sering tertatih karena keadaan.
Untuk meraih impiannya, Shaliha pun membawa jualan ke sekolah. Tidak banyak, hanya barang dagangan titipan orang: keripik kecil, manisan, dan camilan sederhana yang ia bungkus ulang menjadi ukuran mini agar lebih terjangkau oleh teman-temannya. Dari setiap penjualan, ia bisa menyisihkan sedikit keuntungan untuk tabungan impiannya.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, ia menyiapkan dagangannya sambil berdoa pelan, “Ya Allah, mudahkan langkahku hari ini. Jadikan ikhtiarku ini jalan menuju rida-Mu.”
Ia bukan sekadar ingin bersekolah tinggi. Ia ingin menjadi seseorang yang bermanfaat, menjadi muslimah berilmu yang kelak mengajarkan kebaikan kepada banyak orang.
Dalam hatinya tersimpan mimpi besar yang jarang ia ucapkan. Ia ingin masuk sekolah impiannya, belajar lebih tinggi, dan suatu hari menjadi ulama perempuan yang menghidupkan kembali kejayaan ilmu dalam peradaban Islam.
Namun, jalan menuju sana tidak mudah. Ada hari ketika kakinya terasa begitu lelah, berdiri seharian menawarkan dagangan sambil mengejar materi pelajaran. Ada hari ketika hasil jualannya nyaris tidak ada. Bahkan, pernah ia diejek teman karena dianggap “anak miskin yang jualan untuk bertahan hidup.” Tapi Shaliha tidak menjadikan semua itu alasan untuk menyerah.
Ia percaya, ketika mimpi digenggam dengan tawakal, Allah-lah yang Maha Mengabulkan.
***
Namun, di tengah semua perjuangan itu, ada satu hal yang sering membuat hati Shaliha bertanya-tanya: Mengapa pendidikan terasa begitu berat? Mengapa untuk sekadar menimba ilmu saja, begitu banyak orang harus berjuang mati-matian—mengumpulkan rupiah demi rupiah, bahkan rela berutang agar anaknya tidak putus sekolah?
Seolah-olah ilmu hanyalah milik mereka yang mampu membayar.
Seolah-olah, cita-cita harus tunduk pada tebalnya dompet.
Dan di sinilah Shaliha mulai melihat kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi: sistem yang mengatur kehidupan kita bukanlah sistem yang memuliakan ilmu, tetapi sistem yang memperdagangkannya.
Padahal dahulu, dalam peradaban Islam, keadaan begitu berbeda. Pendidikan tidak pernah menjadi barang mewah. Tidak ada sekolah elite untuk orang berada dan sekolah seadanya untuk rakyat jelata. Semua anak dari keluarga manapun berdiri di barisan yang sama karena negara menempatkan ilmu sebagai nadi peradaban, bukan sebagai alat mencari keuntungan.
Negara tidak pernah membebani rakyatnya dengan biaya pendidikan. Sebab dalam sistem Islam, pendidikan adalah hak, bukan komoditas. Seluruh kebutuhan pendidikan diambil dari baitulmal dan dikembalikan kepada umat dalam bentuk pelayanan terbaik. Guru-guru digaji negara, peneliti ditanggung kebutuhannya, dan sekolah dibangun dengan kualitas setara di seluruh wilayah, dari kota hingga pelosok.
Ilmu pun berkembang dengan megah. Lahir para ilmuwan yang namanya masih bersinar hingga kini—bukan karena mereka kaya, tetapi karena negara membuka jalan bagi akal untuk tumbuh, menjamin kebutuhan pelajar, dan menghapus seluruh hambatan ekonomi yang menahan mimpi.
Dan Shaliha membayangkan, seandainya umat hari ini kembali hidup dalam naungan sistem itu—sistem yang memuliakan manusia dan menempatkan ilmu sebagai kebutuhan dasar—tidak akan ada lagi anak yang harus berjualan demi bisa sekolah. Tidak akan ada ibu yang menahan sesak saat diminta membayar uang pangkal. Tidak akan ada ayah yang bekerja siang malam hanya supaya putrinya tetap belajar.
Sebab dalam Islam, negara adalah pelindung, penjaga, dan penanggung jawab penuh atas pendidikan rakyatnya.
Shaliha tahu, apabila umat kembali pada Islam secara kafah, mimpi seluruh anak bangsa akan tumbuh setinggi langit tanpa dibatasi biaya, tanpa dikerdilkan oleh sistem yang tidak memihak.
Ia yakin, sebagaimana dahulu Islam memuliakan ilmu hingga melahirkan peradaban agung, Islam akan melakukannya lagi. Sebab, ketika syariat Allah ditegakkan, mustahil umat ini tidak bangkit.
Dan di titik itu, hatinya berbisik lembut,
“Biarkan mimpimu tumbuh karena kita punya Allah yang Maha Mengabulkan—dan syariat-Nya yang memuliakan ilmu.”
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 37






















