Bunga Kecantikan Abadi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Zakiah Ummu Faaza
Bab 1 Sebening Kaca

CemerlangMedia.Com, NOVEL — “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.” (HR Bukhari & Muslim).

Alhamdulillahiladzi ahyaana ba’dama, amatana wailaihin nusuur…

Waktu terlihat menunjukkan pukul 04.00 pagi. Suasananya terasa begitu dingin karena hujan semalaman yang terus mengguyur kota Kembang belum juga reda, membuat badan Bunga hampir beku. Ia tak sanggup untuk beranjak dan bergerak sedikitpun dari tempat tidurnya untuk segera beraktivitas.

Dari samping rumah, terdengar sayup-sayup lantunan suara azan memecahkan suasana hening pagi ini. Akhirnya, dengan perlahan Bunga langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk melaksanakan wudhu. Mukena berwarna hijau tua sudah tersimpan kembali di rak putih samping kamar bunga berikut dengan sajadahnya.

Bunga memang bukan anak rebahan, sekalipun cuaca tak mendukung, Bunga berusaha untuk beraktivitas dan bergerak. Ia langkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil sapu. “Masyaallah, glowing sekali lantai kamar ini, sepagi ini sudah rapi. Padahal, ini kan hari libur dan juga musim dingin. Jadi, santai sejenak dulu, Kak,” ujar Melati.

“Astaghfirullah, aku lupa. Hari ini aku ada janji ke sekolah untuk bertemu dengan kepala sekolah TK yang kemarin datang ke rumah. Aku akan datang jam 10 siang ini,” ucap Bunga. Bunga segera bergegas untuk membersihkan badannya ke kamar mandi. Selanjutnya, ia sarapan nasi goreng yang dibuat oleh Melati. Kemudian ia memakai gamis coklat muda favoritnya, khimar krem dengan rapi dan tak lupa mengenakan kaos kaki.

“Kak, tunggu aku, aku akan menemanimu berangkat ke sana,” ucap Melati. “Baiklah, cepat sedikit ya, khawatir terlambat,” jawab Bunga. Waktu seolah berlari, mengejar mereka berdua dan meninggalkan pagi yang dingin. Aroma wewangian bunga-bunga indah yang berbaris di depan teras rumah Bunga, seolah menyemangati suasana pagi yang telah terlewati, yang membuatnya hampir terasa membeku.

“Tok, tok, tok! Assalamualaikum,” ucap Bunga dari balik pintu berwarna coklat tua.

“Ti, kamu dengar suara tidak, dari dalam rumah?”

“Tidak,” jawab Melati. Melati adalah adik perempuan Bunga yang jarak usianya 5 tahun darinya, ia orangnya nurut, pendiam, dan nempel kaya prangko, selalu menemani Bunga kemanapun ia pergi. Wajar karena mereka berdua adalah gadis yang tinggal di rumah dan rasanya satu frekuensi, tidak bergaul sembarangan dan memang anak rumahan.

Pola asuh yang diterapkan Ayah Bunga adalah pola asuh yang sangat mempengaruhi kepribadiannya. Mereka terbatas untuk pergi ke luar rumah, apalagi untuk aktivitas yang kurang bermanfaat. Ayah mereka senantiasa menyediakan keperluan rumah sesuai kebutuhan, termasuk camilan dan jajanan, bahkan terkadang kebutuhan pribadinya selalu diperhatikan sehingga jarang untuk berbelanja keluar.

Meskipun begitu, pola asuh yang diterapkan ayahnya tersebut tidak mematikan potensi mereka. Ayah mereka tidak membatasi untuk hal yang positif dan bermanfaat. Mereka berdua justru diberikan motivasi sepanjang hidupnya agar senantiasa menjadi muslimah yang cerdas, taat, pemberani, walaupun pada dasarnya wanita pemalu. Intinya, harus mengetahui posisi, kapan harus tampil dan kapan untuk diam.

“Kak, kita sudah hampir satu jam duduk di luar sini, rasanya kakiku mulai pegel berdiri terus, kapan kita masuk ke dalam?” ucap Melati.

Mendengar keluhan adiknya, Bunga hanya membalas dengan senyuman manis pada adiknya dan memberikan isyarat untuk sabar dengan mengusap tangan kanan ke dadanya.

“Masyaallah, Bunga, Melati, kapan datang? Sudah lama di sini? Maaf ya, Ibu tidak memberikan kabar lagi kalau ibu sedang keluar karena ada keperluan yang sangat penting,” ucap Bu Retno.

“Alhamdulillah, sudah satu jam di sini, Bu. Rasanya kaki kami hampir pegal dan ingin pulang. Saya dan Melati berangkat dari jam sepuluh kurang karena ibu menjanjikan akan bertemu saya pada jam sepuluh tepat,” ucap Melati.

“Bunga, Melati, kalian memang anak-anak yang hebat dan disiplin. Terima kasih Ibu ucapkan karena kalian sudah menepati janji untuk datang ke sini dengan tepat waktu. Selain itu, kalian tidak sungkan mengutarakan perasaan kesal kalian dengan jujur, tanpa menyakiti perasaan ibu. Ibu sangat bangga bisa bertemu kalian karena kalian adalah anak-anak yang jujur,” ujar Bu Retno.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 11

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *