Cinta di Ujung Senja

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Karya: Fitri Nur Laila
Bab 10 Sinar Kesabaran

CemerlangMedia.Com — Malam menjadi peraduan, seperti pelukan hangat yang menyelimuti bumi, melepas lelah dan letih dari segala aktivitas sehari-hari. Benang lembutnya merajut hati dan jiwa, menenangkan kekalutan yang ada di muka bumi. Namun, hati Bu Rani seperti badai yang tak kunjung reda, gemuruhnya tak bisa ia redam.

Pertemuannya dengan Pak Rahman dan Tina seperti petir yang menyambar, membuat dirinya meradang. Luka yang belum kering itu seakan ditaburi garam, membuat rasa sakitnya kembali perih.

Bara api yang membara di dada Bu Rani tak bisa dipadamkan. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi kenangan bersama Pak Rahman terus menghantui, membuat dirinya tak bisa tidur. Bu Rani coba menelusuri mencari jejak keikhlasan di palung hati. Namun nyatanya, ia telah bersembunyi dan enggan untuk kembali.

Bu Rani tahu ke mana hatinya akan bermuara. Cintanya pada makhluk-Nya tak boleh melebihi cinta pada-Nya, yang hanya selalu berakhir dengan luka dan kecewa. Karena sejatinya cinta adalah cinta Allah pada makhluk-Nya. Bahkan, saat manusia meninggalkan-Nya, Allah masih setia mencintainya.

Keesokan paginya, Bu Rani beraktivitas seperti biasa. Sepertinya ia telah berhasil menemukan ikhlasnya di sepertiga malam. Ia menyiapkan sarapan dan membersihkan rumahnya. Setelah itu berkutat dengan laundry bersama Sari sampai selesai.

Bu Rani kini tidak hanya melayani laundry untuk anak kost di tempatnya saja, tetapi juga melayani untuk umum. Di depan rumahnya juga, kini diberi spanduk dengan tulisan “Rani Laundry”.

“Bu, kenapa Eli tiba-tiba berhenti kerja, ya? Apa dia tidak betah ya, tinggal di sini?” tanya Sari sambil menyetrika baju-baju laundry yang sudah kering. Ia merasa keheranan karena selama bekerja dengannya, dia tidak pernah mengeluh apa pun dan terlihat menikmati pekerjaannya.

“Entahlah, Sar, aku sendiri juga tidak tahu… tetapi menurutku, dia ingin bekerja di dekat desanya biar tidak jauh-jauh dari ibunya,” jawab Bu Rani dengan yakin, dia hafal betul dengan sifat Eli yang masih suka melibatkan segalanya dengan ibunya waktu tinggal di desa Warujati dulu.

“Berarti Eli itu sebenarnya anak manja, ya?” tebak Sari begitu mendengar penjelasan dari Bu Rani.

“Gimana ya, dia itu sebenarnya ingin belajar mandiri, tetapi sepertinya belum mampu,” ucapnya.

“Oh iya, Sar, tahu tidak kemarin waktu aku ke Warujati, aku bertemu dengan Mas Rahman… dia sekarang sudah punya istri baru dan sedang hamil,” cerita Bu Rani dengan suara pelan dan sorot mata tajam.

“Apa, Bu? Punya istri baru! Hamil? Trus gimana, apa Bu Rani bejek-bejek mukanya itu perempuan sama Pak Rahman?” spontan Sari menoleh ke arah Bu Rani dengan berapi-api, giginya gemeretak saking geramnya mendengar nama Pak Rahman dan istri barunya.

“Nggaklah, ngaco kamu. Aku ke sana itu mau takziah sekaligus mengantar Eli. Kalau ketemu yang aneh-aneh aku sudah tidak peduli, Sar, buat apa coba menyakiti diri sendiri hanya untuk lelaki yang tidak pernah peduli dengan kita? Rugikan,” tegas Bu Rani landai, tak ada kebencian ataupun nanar yang terpendar di dalam sorot matanya seperti dulu.

Sejenak Sari menghentikan menyetrikanya, ia memandang wajah Bu Rani dalam-dalam. Bu Rani yang menyadari hal itu menjadi heran.

“Kamu kenapa, Sar, kok ngelihatin aku terus?”

Lantas Sari kemudian tersenyum manyun. “Hebat, baru kali ini aku mengenal wanita setegar ibu. Kalau aku di posisi ibu, aku sudah tidak sudi lagi berhubungan dengan keluarganya. Tapi Bu Rani malah mengajarkan anak ibu untuk tetap menjalin silaturahmi dengan ayah dan keluarganya,” binar matanya terpancar menunjukkan kekaguman.

“Semua orang punya prinsip masing-masing, Sar,” ujar Bu Rani, matanya menatap bola mata Sari dengan seksama. Di sana seperti ada nasihat yang tersirat tanpa terkata. Tanpa disadari, mata Sari berkaca-kaca, ia tersenyum, tetapi juga ingin menangis.

Sari merasa sangat beruntung telah memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia. Suaminya yang sabar dan pengertian, serta anak-anak yang sehat dan penurut.

Sementara itu, di sekolah, Darwin sedang melakukan olahraga sepak bola bersama teman-teman sekelasnya. Di lapangan samping sekolah, mereka mulai melakukan pemanasan sebelum memulai pertandingan. Guru penjaskes memberi aba-aba agar para siswa laki-laki membentuk tim sepak bola.

Sementara itu, siswa perempuan diperintahkan untuk melakukan olahraga voli di lapangan depan sekolah. Mereka semua berolahraga dengan hati senang dan riang.

Darwin menggiring bola dengan semangat dan serius. Dia tidak mau sampai tim lawan mengambil alih bola dan menggiringnya ke gawang mereka. Fokus mata Darwin untuk terus menggiring bola tinggal beberapa meter menuju gawang timnya. Dari samping, ada tim lawan yang mencoba merebut bola yang dikuasai Darwin. Namun, dengan lincah, Darwin berhasil menghindar dan segera menendangnya ke arah tepat di tengah gawang.

“Goooool!” pekik siswa dari tim Darwin. Mereka bersorak sorai sambil berlonjak kegirangan menyambut satu cetakan gol. Sementara itu, siswa dari tim lawan hanya bisa menekuk muka tanpa gairah melihat tim Darwin berhasil menjebol gawang.

Teman-teman Darwin merasa puas dan senang dengan kelihaian Darwin menggiring bola. Tanpa terasa, jam pelajaran olahraga telah habis, sementara tim lawan masih belum mencetak gol sama sekali. Pak guru meniup peluit tanda waktu telah habis. Kemenangan dinyatakan menjadi milik tim Darwin.

Kembali, tim Darwin bersorak-sorai, mereka merasa puas dan senang dengan pertandingan hari ini. Darwin menjadi elu-eluhan teman-temannya karena berkat dirinya kemenangan pertandingan sepak bola kali ini menjadi milik timnya.

“Wah, hebat kamu, Win! Bisa mencetak gol dengan begitu mudah,” puji Revan pada Darwin sambil mengganti kaos olahraganya dengan baju seragam sekolah di toilet.

“Iya, berkat kamu, tim kita menang, coy!” ujar Haikal dengan sorot mata cerah. Sementara Darwin yang juga mengganti bajunya di antara mereka hanya tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga dan merasa puas melihat timnya menang karena cetakan gol dari dirinya.

Hari ini, hati Darwin merasa terhibur dengan kemenangannya bermain sepak bola. Tadi pagi, saat baru sampai di sekolah, Darwin masih terlihat sedih dan murung mengingat ayahnya yang ternyata telah menikah lagi.

“Win, kamu sudah selesai belum PR matematikanya?” tanya Haikal.

“Sudah,” jawab Darwin.

“Aku pinjam ya… soalnya susah-susah, aku masih mengerjakan separuh,” ujar Haikal mencebik.

“Ya, nanti aku pinjami. Sekarang aku mau beli jajan dulu ke kantin,” kata Darwin seraya berjalan beriringan dengan Haikal menuju kelas untuk menaruh baju olahraga mereka.

“Ok, makasih, ya! Kamu memang teman terbaikku,” puji Haikal dan menatap Darwin dengan tersenyum senang. Kemudian ia memeluk pundak Darwin dari belakang sambil terus berjalan.

Sejak awal masuk sekolah, kepandaian Darwin memang sudah terlihat. Apalagi saat mengerjakan soal matematika, dia sangat jago. Di kelas, nilai matematika tertinggi selalu diraih oleh Darwin.

Saat ujian tengah semester ataupun ujian semester, Darwin selalu mendapatkan rangking satu, terkadang juga rangking dua. Gina, teman sekelas yang menjadi saingannya dalam pencapaian rangking yang diperolehnya.

Pukul dua belas tepat, bel berbunyi tanda pulang sekolah. Darwin pulang bersama teman-temannya dan juga Riko yang sejalan arah pulangnya. Mereka masih riuh membicarakan tentang kemenangan pertandingan sepak bola tadi. Tanpa terasa, sambil bercengkerama, Darwin sudah sampai di depan rumahnya. Begitu juga dengan Riko yang rumahnya ada di dekat rumah Darwin.

Setelah mengucapkan salam sambil membuka pintu, Darwin terkaget karena kakeknya sudah duduk dengan pakaian santai di ruang tamu dengan memakai topi hitam.

“Kakek, mau ke mana? Kok nggak seperti biasanya pakai topi di dalam rumah?” tanya Darwin dengan terheran.

“Kakek mau mancing bareng teman-teman Kakek. Ini nunggu kamu pulang,” ujar Pak Wisnu kalem.

“Mau ajak Darwin, ya!” seru Darwin terlonjak.

“Iya, mau tidak?” tanya Pak Wisnu.

“Mau dong, Kek,” jawab Darwin kegirangan.

“Ya udah, kalau gitu, buruan ganti baju terus makan, kakek tunggu sampai selesai,” ucapnya.

“Baik, Kek, tunggu ya!” Darwin bergegas ke dalam rumah ganti baju dan makan siang. Tak berapa lama kemudian, Darwin sudah selesai. Kini ia sudah siap berangkat memancing dengan kakeknya.

Pak Wisnu membawa peralatan pancing di tangannya, sementara Darwin disuruh membawa umpan untuk memancing di dalam plastik yang dibungkus dalam kantong kresek. Pak Wisnu sengaja mengajak Darwin memancing untuk mengenalkannya akan manfaat dari kegiatan yang terlihat santai itu. Dia juga ingin agar Darwin tidak terlalu memikirkan ayahnya yang menikah lagi.

Pak Wisnu tidak akan membiarkan mental kecil Darwin terisi akan hal negatif dampak dari perpisahan orang tuanya. Ia ingin hatinya terfokus pada hal positif yang akan membawa kebaikan dalam hidup Darwin. Salah satu usaha yang dilakukan Pak Wisnu adalah membawanya ikut memancing.

Lewat kegiatan ini, Pak Wisnu ingin melatih kesabaran dan konsentrasi Darwin. Agar fikiran Darwin menjadi rileks dan menghilangkan stres dari kepenatan kegiatan sehari-hari.

Dan benar saja, sesampainya di tempat pemancingan yang berlokasi di sebuah danau, Darwin terlihat sangat senang. Ia asyik memegang pancing dan menunggu ikan di bawah sana menyambar kailnya sambil menikmati pemandangan alam yang membuat hatinya menjadi tenang dan damai. Sementara Pak Wisnu yang berada di sampingnya mengajari cara menggunakan pancing yang benar sambil mengawasinya.

Sekitar satu jam, teman Pak Wisnu ada yang sudah mendapatkan ikan. Ada yang sudah mendapatkan satu dan ada yang sudah mendapatkan dua ikan tombro. Darwin sendiri sudah mendapatkan seekor ikan tombro berukuran besar. Dia teramat senang untuk pertama kalinya mendapatkan ikan dari hasil kesabarannya. Pak Wisnu tersenyum senang melihat tawa kecil yang selalu menghiasi wajahnya.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 18

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *