#30HMBCM
Karya: Fitri Nur Laila
Bab 9 Bertemu Madu
CemerlangMedia.Com — Deru suara mesin bus yang lelah, berlomba dengan asap pekat yang keluar dari knalpot, seperti ratapan kesedihan yang tak terucapkan. Bus itu sendiri, seperti seorang pejuang tua yang tak kenal lelah, terus melaju di jalan raya, meskipun usianya yang tak lagi muda. Besi-besi yang mulai berkarat, cat yang mengelupas di sudut dan pinggir badan bus, seperti cerita tentang perjalanan panjang yang telah dilalui.
Klakson yang menjerit-jerit, seperti teriakan peringatan kepada kendaraan lain, agar tidak menghalangi jalannya. Sopir bus bagai penunggang kuda yang mahir, mengarahkan bus dengan lembut dan pasti, mengatur kecepatan dengan lincah namun teratur.
Pukul sepuluh tepat, Bu Rani dan keluarga sampai di terminal Tirtonadi Surakarta. Eli merasa sangat senang karena ini adalah pengalaman pertamanya bepergian jauh dari desanya, seperti sebuah petualangan baru yang menanti. Setelah turun dari bus, Pak Wisnu mencari sebuah taksi untuk sampai di tempat tinggal mereka di kelurahan Belimbingan.
Sesampainya di rumah, Eli diajak Bu Rani ke sebuah kamar yang akan menjadi kamar Eli selama tinggal di rumahnya. Sari yang mengetahui kepulangan majikannya tersenyum senang, tetapi dia juga terlihat keheranan dengan kehadiran Eli yang masih terasa asing.
“Dia siapa, Bu?” tanya Sari sambil menatap Eli dari kejauhan yang sedang menata barang bawaannya di kamar.
“Namanya Eli, keponakanku di Warujati, anaknya Mbak Lika,” jelas Bu Rani tersenyum kecil.
“Dia ke sini ingin membantu aku di laundry, kamu sekarang ada temennya, Sar.”
Sari membalas senyuman Bu Rani dengan celetuk, “Oh… iya, Bu.” Dalam hati, Sari terka bahwa Eli adalah anak yang pendiam.
Setelah selesai menata bajunya di kamar, Bu Rani mengajak Eli untuk makan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas, sudah masuk waktu jam makan siang. Eli masih terlihat malu-malu saat duduk di meja makan. Sari menaruh makanan di meja dengan senyum ramah pada Eli.
“Mbak, maaf ya, makanannya ala kadarnya, saya cuma bisa masak beginian,” ucap Sari merendah.
Sari sengaja memasak atas persetujuan Bu Rani sebelum berangkat ke Madiun. Jadi, setelah pulang dari Madiun, di rumah sudah ada makanan. Meskipun memasak bukan tugasnya, Sari dengan senang hati melakukannya mengingat begitu baiknya Pak Wisnu dan Bu Rani pada dirinya selama ini.
“Wah, ini sudah meriah, Mbak,” timpal Eli seraya menatap semua makanan yang dihidangkan Sari di meja. Di atas meja makan ada soto gading lengkap dengan isiannya, bakwan, dan perkedel.
Bu Rani memanggil Darwin yang sedang bermain gasing di teras kosan. Rupanya ia sedang asyik bermain dengan Dicki, salah satu anak kos di situ. Darwin terlihat akrab dan tak canggung berkelakar dengan Dicki. Begitulah Darwin, di manapun berada, selalu memiliki teman.
“Ayo, Darwin, makan dulu. Nanti main lagi,” panggil Bu Rani dari kejauhan sambil menyuapi Diandra. Tampaknya Diandra agak rewel untuk makan, baru setelah diajak sambil jalan-jalan, dia mau makan karena hatinya terhibur suasana di luar.
“Iya, Bu, bentar lagi!” sahut Darwin, ia menoleh jengah pada ibunya, kemudian melanjutkan permainan gasingnya sekali lagi. Dicki ikut menoleh sekilas pada Bu Rani dengan wajah datar.
****
Setahun kemudian, di Surabaya, udara terasa panas dan gerah karena sinar matahari yang sudah tinggi seperti oven raksasa yang memanggang kota. Tina di dalam rumahnya sedang menikmati rujak gobet kesukaannya yang terasa begitu segar dan nikmat dimakan di cuaca terik seperti saat ini.
Setelah dua bulan lalu Tina positif hamil, ia tidak pernah lagi nyemil makanan ringan. Tina lebih suka makan yang segar-segar seperti rujak, es, dan buah. Dia membuat banyak rujak gobet yang ia masukkan dalam plastik es lilin dan meletakkannya di fresher. Jadi, apabila ingin menikmati rujak gobet, dia tinggal mengambilnya di kulkas. Terkadang dia juga membuat rujak manis dengan beraneka macam buah yang diiris.
Buah mangga tak pernah absen ada di kulkasnya. Entah itu mangga muda ataupun mangga yang sudah masak. Anehnya, dia tidak pernah bosan memakannya setiap hari.
Apabila Pak Rahman libur kerja, Tina pasti akan mengajaknya mencari rujak cingur terenak di kota Surabaya sambil jalan-jalan. Rupanya Tina sedang ngidam segala macam jenis rujak.
Terkadang tiba-tiba saja Tina merasa ingin sendirian di kamar, dia tidak ingin ngapa-ngapain sampai salonnya harus ditutup. Rasa malas seperti menyergapnya. Dia sendiri juga terheran dengan dirinya. Bawaan bayi memang selalu aneh-aneh dan sulit ditebak.
Sore itu hujan turun, Tina menutup salonnya karena dia ingin tiduran di atas ranjangnya. Saat baru saja ia hendak naik ke ranjang, tiba-tiba telepon di rumahnya berbunyi. Tina menarik napas malas dan memutar balikkan badannya ke arah keluar kamar lalu mengangkat teleponnya yang merengek minta diangkat.
“Hallo…” ucap Tina setelah mengangkat gagang telepon.
“Hallo, ini dengan istrinya Rahman ya…” ucap seseorang di seberang sana.
“Iya benar, ini siapa dan ada apa?” tanya Tina datar.
“Ini saudaranya Rahman di Warujati, saya mau menyampaikan kalau Mak Karsia baru saja meninggal dunia.”
“Apa?! Mak Karsia meninggal!” Tina terlonjak mendengar penjelasan saudara Pak Rahman di seberang sana.
“Iya, Mbak, pukul tiga sore tadi,” ucap saudara Pak Rahman terdengar lirih.
“Innalillahi… ya udah, nanti aku sampaikan ke Mas Rahman, terima kasih infonya,” ucap Tina sambil menutup teleponnya.
“Iya, Mbak…” Kemudian terdengar suara telepon ditutup dari seberang sana.
Setelah meletakkan gagang teleponnya ke tempat semula, Tina termenung sejenak. Ia mengingat, rasanya baru kemarin bapak mertuanya meninggal dan kini setelah satu tahun, ibu mertuanya menyusul, meninggal dunia juga.
Saat Pak Rahman pulang kerja, buru-buru, Tina menyampaikan berita duka meninggalnya ibunya di desa. Pak Rahman terduduk di kursi untuk melepas lelahnya setelah seharian bekerja. Ada perasaan yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam mengingat sosok ibunya kini telah tiada.
Pagi buta, Tina dan Pak Rahman berangkat ke terminal. Sebelumnya, Pak Rahman sudah meminta tolong mandornya untuk diantarkan ke terminal dengan motor. Untungnya mandornya bersedia mengantarnya tanpa mau diberi uang ganti bensin.
Sementara itu, di Surakarta, yang juga mendapatkan kabar duka cita meninggalnya Mak Karsia, berencana esok paginya juga bertakziah ke Madiun. Eli juga menyatakan ingin ikut pulang dan tidak kembali lagi ke Surakarta.
“Kenapa nggak balik lagi, El? Apa nggak kerasan ya, kerja di sini?” ucap Bu Rani menyayangkan keputusan Eli.
“Sebetulnya kerasan, Bu Ran, cuma aku pengen pulang dan mencari pekerjaan yang dekat rumah saja,” terang Eli dengan sedikit gugup, wajahnya juga terlihat kaku. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Ya, sudah, kalau itu memang keputusan bulat kamu, besok sama-sama kita berangkat ke Madiun,” akhirnya Bu Rani mengucapkan perkataan yang membuat Eli lega. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin kembali ke desa.
Keesokan harinya, sekitar pukul delapan pagi, Bu Rani berangkat ke Madiun bersama Darwin, Diandra, dan Eli. Pak Wisnu tidak ikut karena ada keperluan yang harus diselesaikan bersama teman seangkatannya dulu.
Di hari yang sama, Pak Rahman dan Tina sama-sama ke Desa Warujati untuk memberi penghormatan yang terakhir kepada almarhumah Mak Karsia. Mereka sampai di desa Warujati hanya selisih beberapa jam saja. Pak Rahman dan Tina tiba pukul delapan pagi, sedangkan Bu Rani, Eli, dan kedua anaknya tiba pukul 12 siang karena terhalang macet saat naik bus kota.
Pertemuan yang tidak terduga dan tidak diharapkan itu bagaikan badai yang datang tiba-tiba, menghempaskan segala rencana dan ketenangan. Meninggalkan jejak kekacauan dan kebingungan. Meskipun tak terucap, tetapi ekspresi diri telah menceritakan semuanya.
Bu Rani seperti menelan pil pahit saat menyaksikan Pak Rahman kini telah memiliki istri baru lagi dan tengah mengandung. Sementara Darwin, hatinya mendidih melihat ayahnya berdampingan dengan wanita selain dari ibunya. Hatinya tak terima, tetapi apalah daya anak sekecil Darwin, hanya bisa menangis dalam diam seraya menahan rasa sakit yang terus menikam.
Darwin masih berumur delapan tahun, tetapi keadaan orang tuanya yang berpisah memaksanya untuk bisa bersikap lebih dewasa dari usianya. Terkadang Darwin merasa iri saat melihat teman-temannya bisa berkumpul bersama ayah dan ibunya saat sore atau hari libur. Atau saat dia tahu Riko sedang diajari sesuatu oleh ayahnya, entah itu PR sekolah, belajar mengendarai sepeda, atau melakukan kegiatan lainnya dengan cinta kasih dari seorang ayah.
Darwin adalah seorang fatherless yang berjuang melawan badai dalam dirinya dan membuatnya seolah menikmati angin sepoi. Kebesaran hati yang dimiliki Darwin menurun dari Bu Rani. Meskipun dirinya sendiri tengah terluka, tetapi ia tak mau menampakkan di hadapan siapa pun. Seolah tak pernah terjadi apa pun.
Bu Rani menjabat tangan Pak Rahman dan Tina dengan legowo. Dalam hatinya sudah ikhlas dengan apa pun yang terjadi.
Semenjak dirinya memutuskan pergi ke Surakarta, sejak itu pula Bu Rani sudah tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan Pak Rahman di luar sana. Kini yang ada di benak Bu Rani hanyalah memikirkan masa depan untuk kedua anaknya.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 18






















