Di Balik Rasa Jeruk

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 2 Langkah Baru

CemerlangMedia.Com — Ramzi menghela napas lega. Jemarinya mengangkat cangkir yang berisi teh hangat di atas meja, bibir tebalnya menyeruput perlahan. Rasa teh itu semanis kabar yang baru saja diterimanya.

Setelah melewati serangkaian persyaratan dan survei, akhirnya dana pembiayaan yang diajukan Ramzi di bank syariah milik pemerintah itu cair. Ia mengajukan pembiayaan sebesar Rp100.000.000,00 dengan akad murabahah tanpa bunga untuk modal menanam bibit jeruk. Akad itu ia pilih karena ia tidak ingin hartanya tercampur riba. Keputusan besar itu ia ambil karena ia ingin sukses bertani buah jeruk seperti orang-orang di desa tetangga, tetapi tetap berkah.

Selama ini, di desa Ramzi tidak ada yang menanam buah jeruk karena mereka beranggapan modalnya besar dan caranya sulit sehingga mereka takut tidak berhasil. Oleh karena itu, para petani di desa Ramzi lebih memilih menanam palawija dan sayur-sayuran.

Namun, pemahaman keliru itu seketika sirna saat ada salah seorang petani yang bertekad mencoba menanam buah jeruk. Ternyata menanam pohon jeruk lebih mudah dan keuntungannya lebih banyak daripada menanam palawija dan sayur. Hal ini tentu saja menjadi sinyal baik bagi para petani di desa Ramzi.

“Besok kamu mau ikut aku ke bank syariah?” tanya Ramzi sambil meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja.

“Ya, Ram… aku juga ingin mengajukan pembiayaan!” jawab Seno yakin.

Ramzi menoleh pada kawannya itu. “Kalau kamu ingin mengajukan, jangan lupa persyaratannya kamu bawa sekalian biar tidak bolak-balik,” ucap Ramzi memberi saran.

“Baik, Ram. Besok aku bawa semua kelengkapannya,” sorot mata Seno terlihat berbinar. Ia ingin mencoba juga peruntungan menanam buah jeruk. Selama ini, Seno hanya menanam padi dan jagung di ladang dan sawahnya.

Keesokan harinya, pukul 07.00 WIB, Ramzi dan Seno sudah bersiap berangkat ke bank syariah milik pemerintah yang ada di perbatasan kota. Jarak lokasi bank dari desa mereka sekitar 3 km. Untuk menuju ke sana mereka berboncengan mengendarai motor.

Sesampainya di bank syariah, Ramzi menandatangani akad murabahah. Dalam akad itu, pihak bank membelikan bibit, pupuk, dan alat pertanian sesuai daftar kebutuhan Ramzi, lalu menjualnya kembali kepada Ramzi dengan harga yang disepakati di awal tanpa tambahan bunga, tanpa denda keterlambatan, dan tanpa biaya tersembunyi. Pembayarannya diangsur setelah panen.

Sementara itu, Seno menyerahkan syarat pengajuan pembiayaan kepada petugas bank. Di sana, mereka juga bertemu dengan beberapa tetangga yang juga mengajukan pembiayaan tanpa riba untuk modal bertani jeruk.

“Wah, sepertinya di desa kita sekarang sudah mulai banyak yang menanam jeruk!” bisik Seno kepada Ramzi seraya mengedarkan pandangan matanya pada orang-orang yang ada di dalam ruangan.

“Semua orang ingin perubahan yang berkah,” jawab Ramzi tersenyum kecil. Tatapan matanya datar memperhatikan petugas bank yang menjelaskan skema bagi hasil untuk petani lain. Pikirannya sendiri membayangkan bagaimana nanti ia memulai menanam jeruk dengan cara yang halal.

Seminggu kemudian, di ladang Ramzi sudah berbaris rapi bibit pohon jeruk berukuran 15 cm. Tanahnya terlihat sangat gembur karena sebelumnya Ramzi sudah mencangkulinya. Tanah itu terlihat kering, tetapi tidak berdebu karena siraman hujan kemarin yang cukup deras. Hembusan angin sepoi yang cukup kencang membuat pohon-pohon yang masih baru melihat dunia itu bergoyang. Daun-daunnya menari serentak diiringi gelombang irama angin yang bersahutan.

Tampak dari kejauhan, Seno sedang menikmati makanan di saung yang ada di pojok ladang Ramzi. Tak lama setelah mengamati semua bibit pohon jeruknya dan memastikan semua sudah tertanam dengan benar, Ramzi pun menghampiri Seno. Ia mengambil sebotol air putih yang ada di antara makanan di hadapan Seno.

“Sudah, makan dulu! Hari sudah siang begini,” ajak Seno sambil mengulurkan piring plastik kepada Ramzi.

Ramzi menerimanya dan segera mengisinya dengan nasi putih, sayur nangka muda berbumbu pedas, telur ceplok, dan ikan goreng. Tadi sebelum berangkat ke ladang, ibu Ramzi membawakan bekal makanan, minuman, dan juga camilan.

Selesai makan, Ramzi meminum air mineral beberapa teguk. Perutnya yang kenyang memberi rasa tenang. Kakinya yang tadi bersila, kini ia selonjorkan di atas tikar. Punggungnya bersandar di dinding saung yang terbuat dari papan kayu.

“Kamu tidak makan, Sen?” tanya Ramzi.

“Tadi aku sudah makan duluan,” jawab Seno cengengesan. “Oh iya, jeruk yang kamu tanam ini jenis apa, Ram?” lanjutnya dengan wajah serius.

“Aku kemarin beli jenis Batu 55. Kata penjualnya, nanti apabila berbuah, besarnya bisa sampai sekepal tangan orang dewasa dan rasanya manis asam begitu,” jelas Ramzi dengan suara gamang. Meskipun sempat terbesit keraguan untuk memilih jenis jeruk Batu 55, ia segera menepisnya dan memantapkan hati bahwa pilihannya itu sudah tepat dan modalnya pun bersih dari riba.

“Kita lihat saja nanti, semoga jodoh, ya,” Seno menatap mata Ramzi penuh keyakinan. Ramzi tersenyum tipis dengan tatapan bersinar penuh harapan.

Sementara itu, Seno berencana menanam jeruk jenis Java Baby yang memiliki rasa manis atau lebih dikenal dengan jeruk gula atau jeruk iris. Perawatannya lebih mudah, harganya juga jauh lebih murah dari jenis jeruk kupas. Ia pun mengajukan akad qardhul hasan di bank syariah, yaitu pinjaman kebajikan tanpa tambahan apa pun dan hanya mengembalikan pokoknya sesuai kemampuan setelah panen.

Ramzi dan Seno dikenal sebagai petani muda yang tekun dan ulet. Saat teman-temannya tengah asyik keluyuran ke sana ke mari, mereka lebih memilih ke ladang ataupun sawah untuk bertani. Karena itulah tidak heran jika mereka selalu berhasil saat masa panen tiba. Mereka merawat tanaman mereka seperti merawat anak sendiri, penuh dengan cinta dan kasih sayang, dan memastikan setiap rupiah yang masuk ke kebun mereka bersih dari riba.

Tiga tahun telah berlalu. Ini untuk pertama kalinya Ramzi menerima keuntungan dari hasil bertani jeruk. Setelah dua tahun lalu mengeluarkan biaya hanya untuk perawatan. Meskipun keuntungannya belum seberapa, Ramzi terus menekuninya dan meningkatkan kualitas perawatannya untuk hasil yang lebih baik di panen yang akan datang. Ia juga bersyukur karena cicilan pembiayaan di bank syariah tidak membengkak. Jumlahnya tetap, sesuai akad di awal.

Dan benar saja, setahun kemudian, hasil panen jeruk milik Ramzi melimpah ruah. Jeruknya berbuah sangat lebat, berkali-kali lipat dari panen pertama. Hal ini tentu saja membuat pundi-pundi rupiahnya makin gendut dan hatinya tenang karena semua itu didapat tanpa utang berbunga.

Ramzi menatap kebun jeruknya dengan tersenyum lebar dan tatapan penuh kepuasan. Sudah tiga kali dipanen, tetapi buah jeruknya masih ada dan menunggu waktu yang tepat untuk dipanen kembali.

Begitu juga dengan hasil panen jeruk milik Seno. Ia juga mendapatkan keuntungan dari menanam jeruk Java Baby, tetapi tidak sebanyak hasil jeruk jenis kupas. Ia pun lega karena pinjaman qardhul hasan yang ia ambil sudah lunas ia kembalikan tanpa ada kelebihan satu rupiah pun.

“Ram, sepertinya aku ingin menanam jeruk jenis yang sama seperti punyamu di sawah setelah panen jagung,” suara Seno terdengar begitu lantang dan mantap. Sepertinya dia sangat tergiur dengan hasil yang diperoleh Ramzi saat panen jeruk kupas jenis Batu 55.

Ramzi menatap kawannya itu sambil menyunggingkan senyum. “Aku juga akan menanam jeruk lagi.”

“Bukannya, semua sudah kau tanami jeruk, Ram?” Seno melongo seraya mengernyitkan dahinya.

“Jadi, aku punya rencana menyewa lahan petani lain untuk kutanami jeruk. Aku ingin menanam jeruk kupas jenis Siam Madu yang kulitnya halus, buahnya tidak terlalu besar, dan rasanya manis,” terang Ramzi antusias.

Kali ini pun ia akan pakai akad musyarakah dengan bank syariah, bagi hasil adil tanpa riba. Seno hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Tiga tahun telah berlalu semenjak Ramzi dan petani lainnya mulai beralih menanam jeruk dengan modal yang bebas riba. Terlihat perubahan yang cukup signifikan pada perekonomian para petani jeruk. Hal ini tentu saja membawa kesejahteraan pada kehidupan mereka dan yang paling penting membawa ketenangan batin.

Para petani yang tadinya masih ragu untuk menanam bibit jeruk, kini dengan percaya diri ikut menanam. Mereka juga mulai menyadari jika selama ini petani jeruk di desa tetangga tidak pernah memberi tahu rahasia kesuksesan mereka karena tidak ingin tersaingi. Salah satu rahasia yang kini mereka pegang: usaha yang besar harus dimulai dengan modal yang bersih. Sebab, jeruk yang manis akan lebih berkah jika batangnya tidak disiram riba.

*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]

Views: 25

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *