#30HMBCM
Oleh: Fitri Nur Laila
Bab 1 Wanita Setengah Gila
CemerlangMedia.Com — Langkah kakiku terhenti saat seorang wanita paruh baya menghampiriku, ia tengah menggendong sesuatu di dalam kain batik yang sudah terlihat lusuh dan pudar. “Nak, tolong belilah 10 ribu saja!” pintanya dengan tatapan mengiba padaku.
Aku menaikkan kacamata hitamku ke atas rambut. Aku tak menyangka jika wanita itu menjual sesuatu, kupikirkan dia hanya lewat di jalan raya. Sementara aku baru saja turun dari motor hendak membeli air mineral di sebuah toko.
Melihat raut wajahku yang seperti ingin tahu sesuatu yang dijualnya, wanita paruh baya itu bergegas membuka isi dalam kain tersebut. Tampak ada beberapa buah jeruk di dalamnya, sekitar 15 buah. Warnanya sudah kuning, sebagian masih terlihat padat dan segar. Sebagian lagi sudah terlihat layu dan keriput.
Aku mengambil salah satu buah jeruk itu untuk kuamati jenis jeruk apa yang dijualnya. Kuambil begitu saja dari kain yang masih di gendongnya. Jemariku menekan badan buah jeruk, sedangkan mataku mengamati dengan seksama jenis kulitnya.
“Ini jeruk manis, ya?” tanyaku sembari menatap wajahnya yang terlihat berpeluh. Ia hanya mengangguk. Terlihat harapan yang besar dalam sorot matanya agar aku membelinya.
Saat jeruk di tanganku akan kuletakkan, salah satu jariku merasakan sesuatu yang basah pada kulitnya. Hatiku tersentak, tetapi mulutku tidak sampai bersuara.
“Baik, Bu biar saya beli semua,” ucapku seraya merogoh saku celana sampingku. Kebetulan ada sisa uang 20 ribu di sakuku kembalian saat aku membeli bensin tadi.
“Iya Nak,” dengan mata berbinar dan senyum terkembang wanita paruh baya itu segera memasukkan semua jeruk yang ada di dalam kain batik itu ke sebuah wadah kresek hitam yang ia simpan di lipatan jarik yang dikenakannya.
“Ini ambil semuanya Bu…” ucapku sambil mengulurkan uang 20 ribu. “Terima kasih, Nak!” Wanita paruh baya itu menerima uang tersebut dengan tertegun, ada haru dalam sorot matanya. Ia tak menyangka jika aku membeli buah jeruknya dengan harga yang lebih mahal dari yang sudah ia tawarkan.
“Nggih, Bu,” jawabku sambil tersenyum tipis. Wanita paruh baya itu berlalu dengan hati girang dan langkah yang ringan. Kresek berisi jeruk itu kutaruh di gantungan motorku. Aku lanjut masuk toko untuk membeli air mineral dan beberapa snack.
Sebenarnya aku membeli jeruk itu hanya karena kasihan, aku biasanya membeli buah jeruk di lapak-lapak dekat kebunnya. Aku sering naik gunung bersama teman-temanku untuk berwisata alam. Hari ini kebetulan hari libur, aku dan teman-teman kerjaku ingin berwisata melepas penat di sejuknya udara dan hijaunya pemandangan pegunungan.
“Dan, beli jeruk di mana? Kok tumben beli jeruk yang udah layu gini?” ucap Santoso temanku sambil mengamati jeruk yang kubeli tadi.
“Ya ampun, ada yang busuk!” serunya dengan mata melotot, jemarinya menyentuh buah jeruk yang sudah setengah busuk dengan tatapan j*j*k.
“Beli di mana emangnya, Dan?” tanya Harun dengan nada keheranan, ekor matanya menatapku tajam.
Aku hanya mengedipkan mataku santai,” Jadi gini… tadi pas mampir ke toko, di jalan aku bertemu wanita paruh baya, ia menawarkan jeruk yang dibawanya padaku. Karena kasihan, aku beli semuanya. Sepertinya dia udah berjalan sangat jauh dan terlihat sangat kelelahan,” ucapku memberi penjelasan pada kedua temanku.
“Owh… pantesan,” kepala Harun mengangguk tanda mengerti. Ia kemudian mengambil beberapa jeruk busuk itu dan memasukkan ke kantong sampah yang sudah kami sediakan untuk sampah makanan yang kami bawah.
“Ini tinggal segini yang masih bisa dimakan,” Harun memotong sisa buah jeruk yang masih layak dikonsumsi dengan pisau lalu menghidangkannya di atas piring plastik. Kami bertiga pun menikmati buah jeruk yang terasa sangat manis itu bersama dengan makanan ringan yang kami hidangkan di atas meja lipat yang Santoso bawa.
Belaian lembut udara sejuk dan gemericik suara air yang mengalir di antara bebatuan di sungai kecil di depan mata, sudah cukup membawa ketenangan dalam ruang kepala kami yang selalu berisik dengan rutinitas sehari-hari. Di tambah dengan pepohonan yang terlihat masih begitu asri, menyerap semua toxic di dalam tubuh sehingga saat kita kembali bekerja, otak sudah kembali fresh.
Suatu hari, saat aku mendatangi lapak penjual jeruk yang berjejer di tepi jalan raya utama menuju tempat wisata, aku hendak membeli beberapa buah jeruk kupas untuk buah tangan ke rumah saudara. Aku membeli di lapak yang paling pinggir, sepertinya buah jeruk di sana lebih membuatku tertarik. Selain karena buahnya terlihat besar dan segar, ibu penjualnya juga terlihat sangat ramah.
Di situ juga ada seorang pembeli yang tengah memilih buah jeruk dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
“Bu, beli jeruk yang ini 5 kg,” kataku pada penjual jeruk tersebut sambil menatap buah jeruk di hadapanku.
“Silakan dipilih, Mas,” ucap penjual buah jeruk itu sambil memberiku sehelai kantong plastik berukuran besar sambil tersenyum ramah.
Aku mengambil kantong plastik itu, tanganku mulai memasukkan jeruk-jeruk yang ingin kubeli. Aku tidak memilih jeruk, kurasa semua jeruk yang kulihat dan kumasukkan kantong plastik semuanya sama besar dan masih segar. Bahkan, ada beberapa buah yang masih ada tangkai dan daunnya.
Setelah kurasa cukup, aku memberikan kantong plastik itu pada penjual untuk ditimbang. Sementara itu, pembeli di sampingku terlihat sudah selesai membayar dan berlalu.
Tanpa sengaja, mataku melihat sesuatu yang bergerak di balik tembok lapak. Terdengar gemeresak dari gesekan barang yang dipindah. Mataku makin jeli mengamati, suara itu dari tong sampah besar yang berisi jeruk-jeruk busuk dan sampah lainnya. Ada seseorang di sana yang tengah mengais sesuatu.
Aku tak bisa melihat siapa yang tengah mengais sampah itu karena tertutup tembok, hanya tangan yang tengah sibuk yang terlihat.
“Biasa Mas, orang nggobel!” kata ibu penjual itu yang mengetahui, aku memperhatikan tong sampah miliknya sambil menyerahkan jeruk yang selesai ditimbang.
Aku hanya terdiam dan tersenyum tipis tanda mengerti. Aku mengambil dompet di dalam saku celana dan mengulurkan uang 100 ribu untuk membayar jeruk tersebut.
Sambil menunggu uang kembalian, aku menoleh pada orang yang mengais sampah tadi. Orang itu sepertinya sudah selesai dan berjalan menuju tempat sampah di lapak yang lainnya. Dia seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong kain batik dan mengenakan jarik dengan baju kebaya dan kerudung yang ditali di bawah dagunya. Sepertinya aku tidak asing dengan wajah wanita itu.
Kuingat-ingat lagi dan sepertinya dia adalah wanita yang beberapa minggu lalu menawarkan jeruknya padaku.
“Bu, mau tanya, apa orang yang mengais sampah di sini tadi biasanya berjualan jeruk keliling?” tanyaku pada ibu penjual buah jeruk dengan mata melebar.
“Masnya pernah disuruh beli jeruknya, ya?” terka ibu penjual jeruk itu, sepertinya dia sudah tahu dengan apa yang ingin kutanyakan selanjutnya.
“I… iya benar. Kok Ibu tahu?”
“Dia itu wanita setengah gila, sering berkeliling mencari sisa-sisa jeruk dari sampah pedagang. Terkadang juga mencari jeruk yang jatuh dari luar pagar kebun. Apabila sudah terkumpul banyak, ia jual dengan menawarkan pada orang yang dijumpainya,” terang ibu penjual jeruk itu dengan nada serius dan pelan.
“Hah?” Aku tercengang, mulutku membulat.
“Jadi, memangnya dia tidak punya keluarga, Bu?” tanyaku lagi makin penasaran.
“Dia punya seorang anak, tetapi dia tidak mau ikut karena dilarang berkeliaran di kampung. Katanya dia tidak mau menyusahkan anaknya, makanya nyari makan sendiri dengan berjualan jeruk hasil gobelannya,” cerita ibu penjual jeruk itu dengan antusias dan nada tertahan.
“Terus kenapa dia dianggap gila? Saat bicara dengan saya dulu, terlihat waras, Bu,” tanyaku makin penasaran. Entah kenapa ada rasa iba saat aku mengingat wanita paruh baya itu.
“Iya, karena dia kadang ngomong sendiri, kadang tiba-tiba nangis sendiri, kadang juga tiduran di emper orang. Kalau dicari keluarganya dan disuruh pulang, pasti selalu guling-gulung di jalan. Akhirnya, dibiarkan saja sama keluarganya, yang penting tidak sampai hilang dan mengganggu orang,” jelas ibu penjual jeruk itu dengan suara gamblang dan lebih keras dari sebelumnya. Sementara tangannya dengan cekatan menata lagi jeruk yang berkurang agar tidak terlihat kosong.
“Ya Allah, kasihan ya, Bu…!” ucapku terenyuh sambil berlalu. Sekilas motorku melaju meninggalkan lapak itu. Ada segurat sedih di dalam hatiku membayangkan takdir yang harus dijalani ibu paruh baya itu.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tak bisa lepas dari bayangan wajah ibu paruh baya itu. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana keluarganya harus menghadapi kenyataan dan situasi yang diciptakan olehnya. Pasti butuh kesabaran dan ketabahan yang kuat.
Aku memang bisa merasakannya dan tahu betul keadaannya karena ibuku sendiri juga sakit jiwa dan kini menghilang entah ke mana. Saat aku masih berusia 10 tahun ayahku meninggal karena kecelakaan. Ibuku shock dan tidak bisa menerima kenyataan. Semenjak itu, ibuku sudah tak lagi sama. Ia bahkan tak mengingat siapa dirinya.
Sering kali ibu keluar rumah dan berkeliling kampung, katanya ingin mencari ayah. Saat diajak ke makam dan ditunjukkan makan ayah, ibu masih tak percaya jika ayah telah tiada.
Sampai suatu ketika ibu menghilang tanpa jejak. Semua orang sudah mencarinya ke semua tempat, tetapi tak ada yang bisa menemukannya. Hingga aku besar dan dewasa bersama nenek, tak ada kabar apa pun darinya, ia menghilang bak ditelan bumi.
Aku hanya bisa berdoa, seandainya beliau masih hidup, selalu ada dalam lindungan Allah Swt.. Dan apabila beliau telah tiada semoga Allah mengampuni semua dosanya dan menerima semua amal ibadahnya selama hidup. Serta ditempatkan di tempat yang terindah di sisi-Nya.
*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia. [CM/Na]
Views: 5






















