Oleh: S. Rhayu
(Kontributor CemerlangMedia.Com)
CemerlangMedia.Com — Rafa duduk di sofa ruang tamu keluarga Ustaz Husni. Di sebelahnya ada ayahnya sedang ngobrol dengan tuan rumah. Sesekali Rafa mencuri pandang ke arah ruang tengah, di mana ibunya terdengar berbincang dengan istri Ustaz Husni, Bunda Syarifah.
“Semoga mereka berdua berjodoh ya, Kak,” lamat Rafa mendengar ibunya berbicara dan langsung diamini oleh Bunda Syarifah.
“Keduanya anak baik. Semoga Allah satukan mereka dalam kebaikan. Jika ada kekurangan Tsuraya, mohon diterima ya, Dek Raida,” lanjut Bunda Syarifah.
Ibunya menjawab dengan senyum dan anggukan pasti, seraya mengarahkan pandangannya pada sosok yang menjadi bahan perbincangannya. Yang dipandang balas tersenyum dan menggangguk tanpa bersuara.
Hanum, anak Ustaz Husni memegang tangan Tsuraya. Perempuan penyandang disabilitas tuna rungu wicara itu seakan memahami kegugupan sepupunya.
Sekilas Rafa memandang Tsuraya, sebelum akhirnya Rafa arahkan kembali pandangannya ke Ustaz Husni. Namun, benak Rafa masih terisi gambaran perempuan itu. Perempuan yang pernah dijumpainya saat dia membeli kain ihram untuk umrah di toko perlengkapan haji milik suami Hanum. Perempuan yang dua pekan lalu hingga detik ini masih belum Rafa dengar suaranya.
Dugaan Rafa menguat jika kondisi Tsuraya serupa dengan Hanum. Mengingat mereka adalah sepupu, bisa jadi mereka memiliki gen yang sama. Hal yang pernah Rafa jumpai terjadi di keluarga tetangganya.
Dugaannya bukan tanpa alasan, saat di toko itu, Rafa sempat mendapati Tsuraya melayani pembeli di dengan menggunakan bahasa isyarat. Tsuraya juga berkomunikasi dengan Hanum menggunakan bahasa yang sama. Inilah satu hal yang dipikirkan Rafa selama proses taaruf dengan Tsuraya.
“Rafa, bagaimana kelanjutan taaruf ini?” tanya Ustadz Husni mengejutkan Rafa.
“Eh iya, bagaimana Ustaz?” dengan gelagapan Rafa balik bertanya.
Sontak ayahnya dan Ustaz Husni tertawa. Rafa mengucapkan maaf dan meminta Ustaz Husni mengulang pertanyaan. Sambil menahan tawa, Ustaz Husni mengulang pertanyaannya.
“Ooh, alhamdulillah sudah Ustaz. Insyaallah bisa dilanjutkan,” jawab Rafa mantap. Ucapan syukur terdengar serempak dari ruang tamu dan ruang tengah.
“Apa kamu sudah yakin, Rafa, sudah dipikirkan?” tanya Ustaz Husni memastikan.
“Sudah, Ustaz, alhamdulillah, Rafa sudah istikarah. Di depan Ka’bah sewaktu umrah kemarin, Rafa juga minta dipilihkan Allah, ditetapkan hati Rafa atas pilihan-Nya. Insyaallah, Rafa dapat menerima kondisi Tsuraya,” jelas Rafa.
“Kondisi Tsuraya?” tanya Ustadz Husni sambil berpikir.
“Rafa sudah membaca biodata Tsuraya?” lanjut Ustaz Husni.
“Belum Ustaz, keberangkatan umrah kemarin begitu mendadak. Rafa tidak sempat baca, tetapi Rafa percaya Ayah. Sebelum berangkat sempat bertanya pendapat Ayah tentang Tsuraya. Ayah hanya senyum, tetapi Rafa tahu maknanya. Insyaallah, siap dengan kondisi Tsuraya yang sama seperti Hanum,” jelas Rafa.
Ustaz Husni mencoba memahami kalimat terakhir yang diucapkan Rafa sambil melihat ke ayah Rafa. Sesaat kemudian Ustaz Husni tersenyum mengerti.
“Baik, Rafa sudah menyatakan kesediaannya. Sekarang kita tanya Tsuraya,” tutur Ustaz Husni.
“Bagaimana Tsuraya?” tanya Ustaz Husni pada keponakannya di ruang tengah.
Rafa melihat Tsuraya mengangguk diam. Sekilas tampak semburat merah di pipinya. Rafa cepat menundukkan pandangannya. Tak berapa lama Rafa mendengar suara asing.
“Saya bersedia lanjut, Paman,” tutur suara itu dengan lembut.
Sontak Rafa menoleh ke sumber suara. Rafa melihat Tsuraya berbicara, setengah tak percaya.
“Ayah, khitbahnya sekarang saja, ya,” ujar Rafa pada ayahnya.
Semua tergelak bahagia. [CM/NA]
Views: 27






















