Generasi Tanda Tanya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 2 Di Antara Followers dan Realita

CemerlangMedia.Com — Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Tangan Karin bergetar saat menekan tombol “Posting”. Foto itu adalah ilusi yang ia rajut: Karin tersenyum khusyuk di sudut rumahnya, dikelilingi buku-buku agama, dengan cangkir teh herbal yang melambangkan ketenangan jiwa.

Karin menambahkan keterangan pada foto: Menyepi sejenak, meresapi hikmah Qur’an hari ini. Semoga istikamah. Alhamdulillah for His Mercy.

Dalam lima menit, notifikasi masuk bertubi-tubi: 300 likes, 20 komentar yang memuji ketenangan, ketaatan, dan vibes islami-nya. Ia tersenyum, tetapi hatinya terasa hampa.

Padahal realitanya, Karin baru duduk di sudut itu semenit yang lalu. Teh herbalnya sudah dingin, ia mengambil foto itu karena melihat influencer lain melakukan hal serupa. Ia telah menghabiskan setengah jam hanya untuk mengatur setting dan filter agar terlihat seperti muslimah yang selalu tenang dan taat.

Hari itu, ia melewatkan salat Duha karena scrolling. Hatinya diliputi hasad terhadap kehidupan teman-teman lamanya yang tampak lebih sukses duniawi. Ia punya 10.000 followers, dan di mata mereka, Karin adalah ikon kesalehan, selalu istikamah, dan bebas dari hiruk pikuk dunia.

Namun, realita Karin adalah kamar hati yang penuh riya’ (pamer) dan su’uzan (prasangka buruk) terhadap takdir Allah. Ia berpuasa di media sosial, tetapi jiwanya kelaparan. Ia membangun citra untuk mendapat pujian dari manusia, bukan untuk mencari rida Rabb-nya.

Jarak antara followers dan realita kini terasa seperti jurang yang memisahkan pahala dengan kesia-siaan. Setiap pujian di komentar terasa berat. Ia tahu bahwa amal yang dipamerkan rentan terhapus oleh niat yang keruh.

Tepat pukul 17.00 WIB, ponsel Karin kehabisan baterai. Layarnya yang hitam memaksanya untuk menatap cermin dan melakukan muhasabah (introspeksi). Tanpa filter, tanpa caption, hanya ia, keheningan, dan rekaman amal yang dipertanyakan niatnya.

Saat itulah Karin tersadar. Ia menangis, bukan karena sedih, tetapi karena ia lelah menjadi dua orang: Karin yang taat di depan 10.000 followers dan Karin yang lalai di hadapan Allah.

Karin menyadari, qana’ah sejati bukanlah kepuasan terhadap harta, melainkan kepuasan hati yang tidak membutuhkan validasi manusia. Ia harus memutus koneksi dengan ilusi digital dan segera memperbaiki niatnya.

Karin bergegas mengambil air wudu. Dalam sujudnya ia berbisik, “Ya Allah, aku kembali. Aku ingin menjadi mutiara-Mu yang bersinar dalam keikhlasan, bukan di mata followers.”

Karin bangkit, memeluk realitanya yang sunyi dan memilih untuk mengisi tangki iman bukan dengan likes, melainkan dengan zikir dan amal yang tersembunyi. Karin tak lagi memedulikan layar ponselnya yang gelap. Hening. Tak ada notifikasi.

Tiba-tiba, Karin teringat sebuah hadis yang pernah ia posting, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim). [CM/Na]

Views: 42

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *