#30HMBCM
Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 9 Gelombang Kecemasan Massal
CemerlangMedia.Com — Sebagai seorang ayah dan kepala rumah tangga, Faisal merasakan lelah berkepanjangan. Bukan pekerjaan kantornya yang membuat Faisal lelah, melainkan karena perang informasi yang ia hadapi setiap harinya.
Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, ponselnya sudah menyala, memuntahkan rentetan berita yang mencekam. Memicu kekhawatiran akan masa depan keluarga dan anak-anaknya.
Pagi itu, analisis tentang krisis pangan global yang akan datang disertai meme dan video yang mengajak menimbun logistik menyebar luas di jejaring media sosial. Hal itu sontak menimbulkan ketakutan. Faisal yang sudah berada di kantor, segera mengirim pesan kepada istrinya.
[Sayang, kita harus segera ke pasar setelah Subuh. Stok beras kita sepertinya kurang.]
Faisal merasakan jantungnya berdebar kencang. Kecemasan ini bukanlah miliknya sendiri, melainkan gelombang kecemasan massal yang menyapu dari grup chat komunitas, grup alumni, hingga linimasa berita online. Ketakutan satu orang diperkuat oleh big data, menciptakan kepanikan kolektif.
Tanpa sadar, Faisal terjebak dalam siklus yang merusak imannya. Mencari jawaban di mesin mencari, lalu mencari solusi duniawi dengan pikiran panik.
Namun sayangnya, informasi yang ditemukan Faisal bukan memberikan ketenangan, tetapi justru menguatkan ketakutan dan rasa waswas. Faisal menjadi bagian dari echo chamber kebenaran yang negatif, menyebarkan kekhawatiran kepada istri, anak, dan kerabatnya, melanggar prinsip menjaga lisan (hifzhul lisan) dari hal yang sia-sia atau menakutkan orang lain.
Selama sepekan, Faisal dan istrinya menghabiskan uang untuk menimbun makanan dan obat-obatan. Di satu sisi, ia merasa sudah berikhtiar. Namun, di sisi lain, Faisal merasa kosong secara spiritual.
Faisal lupa bahwa tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar yang wajar dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bukan overthinking dan over-prepping seperti yang ia alami.
Malam itu, setelah Isya, putra semata wayangnya, Malik, mendekat.
“Ayah, kenapa Ayah terlihat sangat takut? Apakah kita akan kelaparan?” tanya Malik polos. Matanya memancarkan sorot tanda tanya.
Pertanyaan itu menampar Faisal. Ia menyadari, jejak kekhawatirannya telah mengontaminasi jiwa anaknya.
Faisal telah menunjukkan bahwa ia lebih takut pada resesi daripada pada Hari Penghisaban. Faisal kemudian teringat sebuah hadis qudsi yang pernah ia dengar. “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim).
Apabila ia terus-menerus berprasangka buruk (su’uzan) bahwa Allah akan menelantarkannya, tentu saja hidupnya akan penuh ketakutan. Namun, apabila ia berprasangka baik (husnuzan), maka Allah akan memberinya ketenangan.
Faisal akhirnya menyadari, masalahnya bukanlah krisis ekonomi, tetapi krisis husnuzan. Ia beristigfar, memohon ampun kepada-Nya sebelum langkahnya terlalu jauh.
Faisal mematikan semua notifikasi di ponselnya. Ia mengajak Malik berwudu dan salat Taubat bersama.
Di sajadah, ia menyesali kelalaiannya. Ia memohon ampun karena telah membiarkan gelombang kecemasan massal merusak imannya dan menakut-nakuti keluarganya.
Setelah salat, Faisal duduk bersama istrinya, bukan untuk menghitung stok makanan, tetapi untuk menghitung nikmat yang masih mereka miliki.
Faisal pun mulai melakukan filter digital. Ia hanya akan membuka informasi yang bersifat solusi, bukan hanya masalah.
Ia berjanji tidak akan lagi menyebarkan berita yang memicu kepanikan, kecuali itu adalah informasi penting yang sudah terverifikasi. Ia akan memilih untuk menjadi suara ketenangan di echo chamber keluarganya.
Setiap kali ia merasa cemas, zikir dan sajadah adalah search engine dan analisis pertamanya. Ia harus jadi figur ayah dan suami yang baik untuk keluarganya. Berpikir logis tanpa meninggalkan keyakinan pada takdir-Nya.
Keesokan harinya, Faisal masih menghadapi tantangan dunia, tetapi kini ia berpegangan pada jangkar iman yang kuat. Di tengah badai, ia memilih untuk menjadi pilar tawakal bagi keluarganya, meyakini bahwa pertolongan Allah selalu lebih dekat daripada notifikasi yang paling cepat.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala,
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaaf: 16). [CM/Na]
Views: 41






















