#30HMBCM
Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 1 Scroll Sampai Lupa Siapa
CemerlangMedia.Com — Malam telah larut, tetapi jari jemari Laila enggan berhenti. Cahaya biru dari layar ponselnya menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar kos berukuran 3×3 meter itu.
Ia membolak-balik tubuhnya, berbaring miring, telentang, bahkan tengkurap. Sesekali duduk, tetapi posisinya tidak pernah senyaman saat ia tenggelam dalam lautan konten.
Jam digital menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Tugas kuliahnya menumpuk di meja, janji tidur cepatnya sudah lama menguap.
“Lima menit lagi,” bisiknya, meyakinkan diri untuk yang ke sekian kali.
Lima menit itu membawanya pada kehidupan Aira, seorang travel influencer yang baru saja liburan di Santorini. Laila menghabiskan waktu dengan membandingkan dapur kosannya yang berantakan dengan infinity pool milik Aira. Kemudian, ia beralih ke feed Malik, seorang CEO muda yang menampilkan rutinitas pagi penuh motivasi, lari maraton, dan sarapan chia seed.
Rasa lelah fisik bercampur dengan kecemasan digital yang menggerogoti. Laila merasa seperti terperangkap dalam sebuah pameran besar kehidupan orang lain. Mereka semua tampak sempurna, produktif, dan bahagia. Sementara ia, hanya seorang penonton yang kelelahan, menggulir layar tanpa tujuan.
“Aku seharusnya membaca buku yang direkomendasikan dosen,” ia bergumam.
“Aku seharusnya tidur agar besok bisa salat Subuh tepat waktu,” lirihnya lagi.
Namun, suara batin itu langsung dibungkam oleh video pendek tentang tutorial make up. Laila terhipnotis. Ia membeli serum mahal yang baru diiklankan, mengisi keranjang belanja online-nya, demi mengejar ilusi kesempurnaan yang ia lihat.
Hubungan Laila dengan ponselnya telah menjadi simbiosis yang merusak. Ia menggunakannya untuk melarikan diri dari tugas nyata, tetapi justru terjebak dalam realita semu yang membuatnya makin insecure.
Pagi harinya, Laila bangun kesiangan dan terburu-buru ke kampus. Ia berdiri di depan cermin. Matanya bengkak, wajahnya pucat. Ia melihat pantulannya dan merasakan keterasingan yang menusuk.
Ia bukan lagi Laila yang dahulu suka membaca dan menghabiskan waktu dengan belajar. Ia telah menjadi identitas bayangan, gabungan dari kecemasan Aira, ambisi Malik, dan tuntutan beauty standards yang dilihatnya selama berjam-jam. Ia telah scroll sampai lupa siapa dirinya yang sebenarnya, dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan akan ke mana tujuannya.
Ia menyentuh cermin. “Aku harus keluar,” tekadnya. “Aku harus mematikan layarnya, sebelum cahaya biru ini mematikan cahayaku sendiri.”
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Laila membiarkan ponselnya kehabisan daya dan tidak diisi ulang. Ia membuka jendelanya, membiarkan udara sore masuk, dan meraih sebuah buku yang sudah lama berdebu di meja.
Keheningan yang datang tanpa notifikasi terasa canggung, tetapi damai. Ia mulai membaca, perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama. Laila sadar, scroll tanpa akhir hanya menghasilkan kehampaan. Kehidupan nyata, sesungguhnya, dimulai saat layar dimatikan. [CM/Na]
Views: 43






















