Giok Putih Nona Myeonghwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Adine Azaria
Bab 10 Jejak Kecil di Pasar Besar

CemerlangMedia.Com — Pasar Arabia hari itu tampak seperti permadani hidup penuh warna-warni dari buah kurma, kain-kain Yaman, kilau permata, aneka rempah dan dedaunan herbal, serta wewangian yang belum pernah Wang Won hirup sebelumnya. Wang Won nyaris lupa jati dirinya.

Ia seolah baru memasuki dunia lain yang serba luar biasa. Ya, inilah salah satu dunia di luar tembok dingin Manwoldae. Semua terlihat begitu berbeda mulai dari warna, aroma, serta orang-orangnya.

“Yang Mu …. “ Nasan buru-buru menutup mulutnya sendiri. Ia teringat tadi Wang Won berkata bahwa mereka sedang menyamar dan tidak boleh mengungkapkan identitas aslinya.

“Maksudku … Tuan Muda, ayo jangan terlalu terpesona. Kita harus hati-hati…. Barang kali Ibunda Ratu sudah mengerahkan pasukan untuk mencari Anda sekarang.” Bisiknya dengan panik, sementara mata Wang Won justru berbinar penuh euforia.

“Semuanya aman. Kita kan hanya melihat-lihat,” jawab Wang Won santai, meski jelas ia sama sekali tidak hanya ingin sekadar ‘melihat-lihat’.

Samir yang sejak tadi berjalan sambil memikirkan mau diapakan kepingan emas dan perak di kantungnya, menengok ke arah mereka.

“Kalau kalian mau makan yang enak-enak, ikut aku. Aku tahu tempatnya!” Katanya sambil mengajak berlari ke suatu arah.

“Boleh!” sahut Wang Won cepat, seolah benar-benar tidak berpikir bahwa dirinya sebetulnya sedang dalam masalah besar.

Samir membawa mereka melewati lorong-lorong kecil yang berbelok seperti labirin. Mereka berhenti di depan kios yang beraroma menggiurkan karena sang pemilik sedang memasak roti pipih hangat.

Samir berkata kepada penjual dengan bahasa Arab. Bocah keturunan Yaman-India itu memesan tiga roti beserta celupan madu.

“Ini roti khubz, masih panas. Makannya pakai madu Sidr,” kata Samir sambil menyerahkan porsi untuk Wang Won dan Nasan.

Wang Won menggigitnya. Begitu madu meleleh di lidahnya, ia menutup mata dan bergumam, “Waaahhhh… ini lebih enak dari camilan istana!”

Nasan refleks mengangguk sambil mulutnya penuh roti. “Mm-hm…”

Setelah selesai menyantap khubz, Wang Won membayar seluruh pesanan mereka. Samir langsung membawa mereka ke penjual berikutnya, sate domba panggang, dan minuman yang diberi daun mint yang terasa sejuk dan dingin.

“Nasan, kita tidak boleh melewatkan makanan yang satu ini!” Wang Won berseru saat melihat tumpukan shawarma, ayam yang dipanggang berputar.

“Tuan muda! Ini namanya bukan lagi sekadar mencicipi makanan, ini namanya berpesta!”

“Betul sekali.” Jawab Wang Won sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Tuan Muda ….” ucap Nasan sambil menghela napas panjang.

Samir yang mendengar percakapan mereka hanya tertawa. “Hei, kalau kalian bawa uang banyak, aku bisa tunjukkan semuanya!”

Wang Won tersenyum. “Tentu saja aku bawa banyak.”

Nasan langsung menghadapi Samir dan memegang erat kerah depan bajunya, “Hei, kamu! Tolong jaga sopan santunmu, ya! Mentang-mentang kita sedang ke luar menyamar, bukan berarti kau bisa berlaku seenaknya!”

“Sudahlah Nasan, tidak apa-apa. Justru akan terlihat lebih natural kalau dia bersikap santai begitu.” Wang Won berkata dengan senyum Nyengir sambil melerai mereka, sementara Samir sudah pucat pasi.

Perut mereka akhirnya penuh dan kenyang. Samir lalu menarik mereka lagi untuk masuk ke sebuah toko besar yang papan kayunya bertuliskan huruf hijaiyah bernama Jabal Uhud. Di dalam, botol-botol kaca berbagai bentuk berjajar seperti kristal. Ada yang berkilau seperti emas, ada yang bening sekali seperti tetesan embun pagi. Aroma bunga, rempah, dan kayu wangi memenuhi ruangan. Di sana juga terdapat banyak jenis perhiasan yang keindahannya sungguh memanjakan mata ketiga bocah petualang itu.

Seorang anak laki-laki berjubah biru gelap dan bersorban abu-abu keluar dari balik tirai belakang. Wajahnya teduh, matanya tajam dan terlihat cerdas.

“Nama saya Mush’ab,” katanya sambil menunduk sopan. “Apa kalian sedang mencari wewangian? Ataukah perhiasan? Untuk hadiah? Atau sedang belanja pesanan rempah-rempah? Atau ingin kutunjukkan buku-buku cerita yang menarik?” Mush’ab membanjiri mereka dengan banyak pertanyaan.

Wang Won menunjuk sebuah botol warna-warni dan sebuah botol merah mengkilap yang sama-sama berbentuk seperti bongkahan berlian besar dan bertanya apakah gerangan benda itu. Mush’ab menjelaskan bahwa kedua benda itu sama-sama berisikan cairan parfum Misik Madinah, hanya warna botol kemasannya saja yang berbeda.

“Tolong bungkuskan dua parfum misik Madinah, yang botol warna-warni berkilau dan botol merah menyala itu,” pinta Wang Won. “Untukku dan … seseorang yang sangat kuhormati di rumahku.”

Mush’ab dengan cekatan mengambil dua botol itu dan mengemasnya dengan rapi dan cantik, kemudian menerima pembayaran dari Wang Won. Baru saja Wang Won ingin mengenalkan dirinya pada Mush’ab, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari luar.

“Cari! Periksa setiap kios! Jangan biarkan siapa pun kabur!” Seketika suasana Pasar Arabia menjadi tegang.

Samir tersentak. “Itu … itu seperti suara pasukan istana! Mereka jarang sekali datang ke pasar kecuali … kecuali …. ”

Nasan mencengkeram lengan Wang Won, “Yang Mu … Tuan muda! Mereka pasti mencari Anda!”

Mush’ab kebingungan. Bertanya-tanya, mengapa pasukan istana mesti mencari anak laki-laki di hadapannya yang berpakaian seperti rakyat jelata, tetapi dipanggil dengan sebutan “Tuan Muda” oleh teman sebelahnya.

Dinding toko Jabal Uhud bergetar kecil ketika sepatu-sepatu para pasukan berpindah cepat di luar. Samir segera menarik Wang Won dan Nasan sembunyi di balik peti besar yang tutupnya terbuka dan berisikan permadani mahal dari Persia. Wang Won meminta Mush’ab agar tidak memberi tahukan keberadaannya kepada para petugas pencari.

Mush’ab bingung harus berkata jujur atau berbohong kepada para pasukan itu. Ia menimbang-imbang, dan karena tiga anak kecil yang sedang bersembunyi itu tidak terasa seperti orang jahat atau pencuri, maka akhirnya Mush’ab memilih berbohong kepada para pasukan pencari, mengatakan bahwa dirinya tidak melihat tiga orang anak kecil yang sedang buron.

Selesai dari pemeriksaan dan toko Jabal Uhud lolos, bocah-bocah itu akhirnya keluar dari persembunyian. Mereka berterima kasih kepada Mush’ab, lalu pergi pamit melanjutkan petualangan.

Sebelum pergi, Wang Won berbisik kepada Mush’ab, “Salam kenal, teman baruku. Ingat-ingatlah namaku, Wang Won.”

Wajah Mush’ab menegang dan kaget. Semua orang tahu siapa pemilik nama itu. Ia terpaku di tempatnya dan tidak bisa berkata-kata. Kemudian Wang Won beserta dua rekannya langsung pergi berlari dan melambaikan tangan pada Mush’ab.

“Sampai jumpa lagi, ya! Jangan lupakan namaku!” ucapnya dengan puas setelah berhasil dibantu Mush’ab lolos dari kejaran.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 18

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *