Giok Putih Nona Myeonghwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Adine Azaria
Bab 2 Puluhan Tahun Silam

CemerlangMedia.Com — Kepala Kasim Park Seonghan dan Ketua Dayang Senior Hwaeun yang melayani Raja Chungnyeol membawakan buku kosong, kuas pena, dan batu tinta yang sudah dicairkan dan diaduk. Sang Raja sedang melakukan kebiasaannya menulis jurnal pribadi, sesekali di waktu senggang seperti ini, selain rutin di malam hari sebelum ia tidur. Ia menyuruh rombongan pelayannya untuk membiarkannya sendirian sementara di balai terbuka di pinggiran kolam teratai dan membolehkan mereka semua beristirahat di ruangan dapur dekat balai.

“Jeonha (sebutan Yang Mulia Raja), apakah Anda ingin dibawakan minuman dan camilan lagi?” ujar dayang Hwaeun pada Baginda.

“Apakah Jeonha ingin saya bawakan buku-buku lebih banyak lagi dari perpustakaan?” Kasim Park ikut menawarkan.

“Tidak perlu. Semua yang tersedia di sini sudah cukup. Silakan kalian berjaga sambil menunggu di dapur. Kalian boleh pergi.” Jawab Raja Chungnyeol sambil memberikan isyarat tangannya agar para pelayannya memberikan ruang privasi.

“Baik, Jeonha.” sahut kasim Park dan dayang Hwaeun secara bersamaan, sambil membungkukkan badan, mundur tiga langkah, lalu berpaling dan pergi.

Setelah Raja Chungnyeol merasa privasinya tercukupi, ia mulai menunduk dan menangis lirih dan pelan, berusaha agar tidak terdengar siapapun. Ingatannya kembali menampilkan kilas balik adegan-adegan yang menyesakkan dadanya.

Saat itu ia masih sangat muda, anak balita yang bergelar Pangeran Wang Sim. Raja Chungnyeol lahir di Istana sementara di Pulau GangHwa. Saat itu ayahnya, mendiang Raja Wonjong, bahkan baru berstatus sebagai Putera Mahkota. Ia bahkan belum mengerti apapun tentang yang terjadi di dunia.

Mendiang Raja Wonjong sering mengisahkan kepadanya, tentang ibu kota Gaesong dan Istana Kerajaan yang utama yaitu Manwoldae. Kakeknya, Raja Gojong, terpaksa memindahkan ibu kota Goryeo ke Istana sementara di Pulau Ganghwa.

Bangsa Mongol yang dipimpin Ogedei Khan dan pasukan kavalerinya yang dipimpin Sartaq Noyan, memulai invasi ke Kerajaan Goryeo. Setelah keberhasilan Genghis Khan menaklukkan sebagian besar wilayah Tiongkok dan merebutnya dari Dinasti Song, rupanya rasa tamak akan wilayah kekuasaan itu membuat anak cucu keturunan Genghis Khan ingin mendapatkan lebih.

Bangsa Mongol terkenal akan kepiawaian mereka dalam dunia perang di daratan. Sejak zaman leluhurnya telah terbiasa hidup nomaden, meski juga memiliki ibu kota dan pusat perpolitikan. Mereka ibarat singa padang rumput, tangguh dalam bertahan hidup di situasi sulit, dan terbiasa latihan militer dalam keseharian mereka yang nomaden.

Sartaq Noyan memulai invasi ke Goryeo tahun 1231 lewat perbatasan Amnok-gang atau Sungai Yalu masuk melalui Manchuria, dan kawasan timur laut di Duman-gang atau sungai Tumen. Kemudian menguasai benteng barat dan memasuki gerbang ibu kota Gaesong. Seterusnya masuk dan menguasai Korea bagian utara seperti Hwangju, Pyongyang, dan provinsi-provinsi di pesisir barat.

Demi kelangsungan dan kestabilan perpolitikan dan negara, Raja Wonjong memindahkan ibu kota sementara ke Pulau Ganghwa. Perang panjang ini terus berlanjut hingga tahun 1259. Mulai dari kepemimpinan Ogedei Khan, Guyuk Khan, Mongke Khan, hingga kini era Kaisar Kubilai Khan.

Mongol merusak semua yang ada di daratan Goryeo, membakar lumbung pangan, memutus suplai logistik, menghancurkan barak-barak militer Goryeo di wilayah barat, merusak kuil dan rumah-rumah hunian, membakar arsip-arsip negara Goryeo, membunuh rakyat, menyandera pejabat dan bangsawan yang dianggap penting, serta melumpuhkan perekonomian. Namun demikian, Mongol saat itu hanya menguasai daratan Goryeo, tidak dengan wilayah politiknya di Ganghwa.

Mongol memang memiliki keahlian dan penguasaan di daratan, tetapi tidak dalam hal perairan dan lautan. Pulau Ganghwa dikelilingi laut dangkal dengan kondisi pasang surut yang menyulitkan kapal. Mongol tidak memiliki kepiawaian dalam bidang maritim, sedangkan Goryeo memiliki keahlian militer marinir yang memadai.

Oleh karenanya, Mongol tidak dapat menghabisi keluarga kerajaan Goryeo. Goryeo tetap melanjutkan pemerintahan di Ganghwa, sementara Mongol berupa menutup semua akses pangan, logistik, perdagangan, informasi, dan sebagainya dari sisi barat yang telah ditaklukkannya agar menyusahkan wilayah perpolitikan Goryeo untuk bertahan hidup.

Sampai pada akhirnya di tahun 1259, Raja Gojong, kakek Raja Chungnyeol telah wafat karena sakit akibat dari tekanan fisik dan mental selama puluhan tahun. Ayahnya resmi naik tahta dan menjadi Raja Wonjong, sedangkan dirinya mendapatkan gelar Putera Mahkota Wang Sim.

Klan Choe, yang memimpin pasukan perlawanan terhadap Mongol, telah kalah dan jatuh. Raja Wonjong menerima status negara bawahan dari Mongol dan membuat kesepakatan perjanjian damai. Chungnyeol muda yang masih berstatuskan Putera Mahkota harus dikirim ke Mongol dan menikah dengan putrinya Kubilai Khan, Puteri Jeguk.

Hal ini sangat menyakitkan bagi Goryeo. Jika sebelumnya Goryeo memiliki kedaulatan penuh dan memanggil Raja dengan sebutan Hwangje Pyeha (Yang Mulia Kaisar), kini sebagai negara bawahan dari Mongol sebutan itu berubah menjadi Jusang Joenha (Yang Mulia Raja), yang secara struktur lebih rendah satu tingkat dari Kaisar Mongol Kubilai Khan.

Namun karena keadaan genting dan rakyat sudah menderita puluhan tahun, ditambah Istana di Ganghwa tidak mungkin bertahan selamanya dengan pemboikotan dan pemutusan suplai sejak lama, maka akhirnya Raja Wonjong harus menerima ini dan memberikan keputusan demi kelangsungan kerajaan dan hidup rakyat. Istana di pulau Ganghwa tidak ditaklukkan secara fisik. Goryeo menyerah karena beratnya tekanan politik dan ekonomi serta perusakan di daratan secara bertubi-tubi selama puluhan tahun.

Perlahan ibu kota dan pusat perpolitikan Goryeo mulai kembali ke Gaesong dan Istana Manwoldae di sana mulai dipulihkan. Konsekuensi dari menjadi negara bawahan ialah, Goryeo harus rutin mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan selama periode waktu tertentu. Misalnya berbagai macam hasil bumi, barang mewah, pekerja pengrajin terampil, tenaga kerja, mengirim wanita-wanita untuk bekerja sebagai pelayan di istana di Yuan, dan pengiriman dukungan militer untuk Yuan.

Di tahun yang sama, Mongke Khan yang memimpin Mongol saat itu juga wafat karena penyakit pada saat kampanye militer melawan Dinasti Song Selatan. Dengan wafatnya tokoh pemimpin Goryeo dan Mongol di tahun yang sama, maka perang terhentikan seketika.

Namun Mongol tetap munguasai kondisi hingga membuat Goryeo takluk di bawahnya. Kemudian digantikan dengan adiknya yang memenangkan perebutan tahta, Kubilai Khan, hingga kini. Baru kemudian pada tahun 1271, Kubilai Khan mendirikan Dinasti Yuan sebagai kerajaan Tiongkok yang resmi di bawah kendali bangsa Mongol, dengan Khanbaliq (sekarang Beijing) sebagai ibu kotanya dan pusat perpolitikan. Setelah itu, Yuan melanjutkan serangan ke Dinasti Song di selatan Tiongkok. Hingga pada tahun 1279, Dinasti Song telah ditaklukkan seluruhnya dan Dinasti Yuan resmi menjadi penguasa seluruh wilayah Tiongkok kuno.

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia)

Views: 29

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *