#30HMBCM
Oleh: Titin Kartini
Bab 9 Bagai Lilin
CemerlangMedia.Com — Tak ada yang baik-baik saja setelah belahan jiwa kita tiada. Ini yang kurasakan, Namun, lagi-lagi cinta anak-anaklah yang selalu menyadarkan diri ini, terutama Tiaraku yang memang sudah bisa bersikap lebih dewasa.
“Ibu, Kakak harus kembali lagi ke pondok. Ibu gak apa-apa, kalau Kakak tinggal? Tapi ibu harus janji! Jangan nangis terus, jangan melalaikan makan biar tetap sehat, jadi Kakak tenang.” Nasihatnya ketika harus pergi lagi ke pondok.
Terus bangkit memperkuat diri, kehidupan yang berubah drastis. Mulai lagi berdagang membawa barang-barang dagangan dari para guru maupun sahabat yang mempercayaiku. Alhamdulillah, tanpa modal, bisa berjualan.
“Ibu, ini daftar pesanan teman-teman Kakak, ada kaos kaki, kripik. Nanti pas penjengukan, Ibu bawa, ya.” Ucapnya lewat telepon.
Tiaraku ikut membantu berjualan, ia menawarkan barang dagangan ibunya pada teman sekelas maupun adik-adik kelasnya. Tiaraku memang sudah belajar jualan dari kelas enam SD. Ia berjualan online barang kebutuhan rumah tangga dan alhamdulilah sudah mempunyai pelanggan.
Barang-barang tersebut ia beli dan diantarkan dengan bantuan sang ayah. Alhasil, mereka bagaikan partner dalam bisnis.
Begitulah kehidupan terus berjalan sampai Kakak Tiara lulus Sekolah Menengah Pertama di pondok.
“Kakak lanjut di pondok ini lagi saja, Bu, biar Ibu gak repot mencari lagi pondok.” Pintanya.
Tiaraku tetap menjadi cahaya buatku juga adik-adiknya. Ia yang selalu menguatkan dengan kata-kata juga tingkah lakunya.
Namun, di balik ketegaran, kekuatan yang ia perlihatkan, ternyata ia rapuh.
Menurut teman-temannya, Tiaraku lebih sering terlihat melamun jika di pondok, tidak seceria seperti dahulu.
Tiaraku pandai menyembunyikan kesedihannya, ia bagaikan cahaya lilin menerangiku dan rela terbakar untuk dirinya.
(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 33






















