#30HMBCM
Oleh: Linda Ariyanti
CemerlangMedia.Com — “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)
***
Hari sial tidak ada di kalender! Begitu orang-orang menyebutnya. Ungkapan ini memiliki banyak arti, tergantung pada siapa yang menafsirkannya. Setiap kita pasti melewati banyak peristiwa dalam hidup ini. Kadang, ada peristiwa yang cepat kita lupakan, tetapi kadang ada juga yang membekas di hati dan ingatan.
Setelah lulus SMP, aku bertekad kuat keluar dari desa untuk sekolah SMA. Saat itu, ada program sekolah gratis di ibu kota kabupaten, SMA unggulan berasrama. Syaratnya, nilai ujian nasional (UN) ranking 1—5 untuk sekolah swasta. Sedangkan sekolah negeri nilai UN, 10 besar. Alhamdulillah, nilaiku di urutan pertama. Ada semangat membara di dada karena terbuka peluang sekolah tanpa membebani orang tua.
Cepat-Cepat Asal Selamat
Bukan hidup kalau tidak ada perjuangan. Saat akan mendaftar, syarat utama harus membawa fotocopy rapor semester 1—5. Dan ternyata raporku hilang! Di rumah tidak ada, di rumah kepala sekolah juga tidak ada. Bertanya ke wali kelas juga tidak menyimpannya. Duh… Aku harus bagaimana?
Kakak perempuanku, Mbak Par memberanikan diri mengajakku mencari di sekolah. Saat itu hari sudah malam, sementara besok harus sudah berangkat ke ibu kota kabupaten bersama kepala sekolahku. Kami berdua memberanikan diri mencarinya. Jangan bayangkan sekolahnya seperti sekarang karena saat itu listrik negara belum ada. Semua tempat gelap gulita, hanya ada lampu minyak dan penerangan dari mesin diesel di rumah orang kaya.
Usaha kami sia-sia karena rapor yang kami cari tidak ada wujudnya. Aku menangis, seolah tidak ada harapan lagi. Semua orang menenangkanku, kata mereka “alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asalkan terlaksana)”. Masih ada tahun depan jika tahun ini tidak bisa melanjutkan, tetapi aku tidak mau menerima nasihat itu. Sebab, aku punya prinsip “cepat-cepat asal selamat”. Aku hanya bisa berdoa, dan pasrah apa pun jadinya besok pagi.
Berkas yang Tertinggal
Perjuangan berikutnya datang saat aku dan kakak perempuanku, Riswati akan berangkat untuk mengikuti tes ujian masuk SMA. Semua berkas pendaftaran sudah kusiapkan. Kami menunggu bus di pinggir jalan. Berkas kuletakkan di atas pembatas jalan.
Namun, begitu busnya datang, aku langsung naik tanpa memedulikan berkas pendaftaran. Kupikir, sudah dibawa kakak perempuanku. Setelah bus berjalan hampir satu jam, kami baru menyadari bahwa berkas itu tertinggal. Akhirnya, kakak perempuanku turun untuk mengambilnya, sementara aku dititipkan ke kernet mobil agar diturunkan di depan sekolah tujuan.
Lagi dan lagi, saat itu aku merasa hidupku penuh kesialan. Untung aku memiliki saudara, keluarga, serta teman yang selalu membantu. Bersyukurnya aku memiliki bestie kakak sendiri. Mereka selalu hadir saat aku kesulitan. Selalu mendukung segala hal yang kulakukan, selama bukan keburukan.
Zaman dahulu, sepertinya tidak ada istilah toxic. Manusia bejalan normal karena era digital belum dimulai. Meski hidupku terasa sial, tetapi aku tidak pernah mencari kambing hitam atau stres dan memilih jalan keburukan. Sedangkan hari ini, banyak kita jumpai manusia yang menyerah dengan kesulitan hingga berujung bunuh diri. Na’udzubillah!
Sabar Menerima Ujian (Qada)
Dalam QS Al-Baqarah ayat 216, Allah Swt. sudah mengabarkan kepada kita bahwa manusia terkadang salah menilai sesuatu. Hanya Allah saja yang memiliki pengetahuan atas kebenaran yang hakiki. Yang diperintahkan kepada manusia adalah menerima sembari mencari makna.
Dalam kitab Nidzamul Islam karya Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani. Manusia hidup dalam dua area, yakni area yang dikuasinya dan menguasainya. Area yang menguasai manusia ini yang disebut qada (keputusan Allah), yaitu segala sesuatu yang menimpa manusia dan tidak bisa ditolak. Manusia dituntut untuk menerima baik dan buruknya. Dalam area ini manusia tidak dihisab karena tidak diberi pilihan.
Sedangkan area yang dikuasai manusia berarti manusia bisa memilih, dan akan dihisab atas apa yang dipilihnya. Manusia bejalan dan berbicara sesuai dengan kehendaknya. Manusia mau beriman atau kafir juga pilihannya. Menjadi muslim sejati atau orang fasik juga diserahkan sepenuhnya kepada manusia.
So, jangan pernah merasa hidupmu sial. Karena segala hal buruk yang terjadi kepadamu adalah ujian kehidupan. Allah Swt. ingin mengangkat derajatmu, jika kamu bersabar menerimanya. Jangan pernah terlintas sedikit pun untuk mengakhiri hidupmu, hanya karena kesulitan hidup menderamu. Tetap semangat! Ada akhir yang indah (surga) bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Furqan ayat 75.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 24






















