Jalan Menuju Keimanan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yeni Nurmayanti

CemerlangMedia.Com — “Tingtong…tingtong…tingtong, tingtong…tingtong…tingtong.” Bel berkali-kali berbunyi. “Duk…Duk…Duk…Duk.” Pintu rumah digedor dengan sangat keras.

Pintu rumah pun akhirnya terbuka. “Lama banget sih, buka pintunya. Ah, aku sudah pegal, dari tadi berdiri di depan pintu.”

“Mama sudah tertidur, lagian kamu, kenapa pulang selarut ini? Kamu tahu kan, ini jam berapa? Lihat ini, jam 3 pagi, hampir Subuh, kamu baru pulang.” Omelan mamanya Nanda.

“Ah… sudah diam! Aku tidak mau mendengar omelan Mama, kepalaku pusing, mau tidur.” Nanda berjalan sempoyongan menuju kamarnya, lalu tertidur tanpa sempat membuka sepatu atau membersihkan diri terlebih dahulu.

Nanda adalah anak semata wayang. Ia sangat dimanja sama orang tuanya karena mamanya memiliki penyakit miom, jadi sulit untuk memiliki keturunan lagi. Jadi, apa pun keinginan Nanda, selalu dituruti kedua orang tuanya.

Hampir setiap hari Nanda pulang larut malam hingga mendekati waktu Subuh. Nanda bekerja di perusahaan ayahnya, tetapi ia tidak sungguh-sungguh bekerja, hanya formalitas saja. Kadang di kantor ia sering tidur karena sering pulang larut malam.

Tiap hari Nanda pergi ke klub malam. Nanda juga sering gonta ganti pacar, paling lama berpacaran hanya tiga bulan, setelah itu putus dan berganti pacar baru lagi. Mamanya setiap hari mengomel karena kelakuannya, tetapi omelan mamanya hanya masuk telinga kanan lalu keluar lagi.

Ayahnya sudah menyerah dengan kelakuan Nanda. Beberapa kali ayahnya memberi hukuman kepada Nanda seperti berupa pukulan hingga penyitaan kartu kredit sudah dilakukan, namun hasilnya nihil, Nanda tetap pada kebiasaan buruknya.

Pernah ayahnya mengusir Nanda tanpa uang sepeser pun. Namun, mamanya menyusulnya dan memohon pada suaminya agar memaafkan anaknya karena hanya Nanda satu-satunya anak mereka. Merasa ada tameng, sikap Nanda pun makin menjadi. Tidak ada yang ia takuti sama sekali dalam hidupnya.

Uang adalah segalanya, selama ada uang ia bisa membeli apa pun yang ia inginkan. Hingga suatu hari, ia merasa bosan dengan kehidupan malam dan pergaulan bebasnya. Ia merasa hidup itu terlalu mudah, apa pun yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan.

Di kantornya, ada karyawan baru. Ia adalah asisten pribadinya. Karena Nanda sering tidak menyelesaikan tugas-tugasnya hingga ayahnya harus menyediakan asisten untuk membantu, bahkan sampai menggantikan tugasnya. Tidak ada karyawan yang tahan dengan sikap Nanda yang arogan, egois, dan pemarah. Setiap tiga bulan sekali, karyawannya sering minta resign atau ia yang memecat karyawan tersebut.

“Selamat pagi, Pak, nama saya Hamza, mulai hari ini saya yang akan mendampingi bapak.” Sapaan karyawan baru pada Nanda.

“Oh, kamu anak baru ya, kerjakan semua pekerjaan saya, saya mau pergi keluar. Saat saya kembali, harus sudah selesai semua.” Nanda pergi meninggalkan ruangannya dan pergi ke klub bersama teman-temanya.

Hamza menunggu bosnya hingga waktu pulang pun tiba dan bosnya tak kunjung datang, dan akhirnya Hamza pulang meninggalkan kantor. Saat hendak menuju ke parkiran kantor, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Hamza mengangkat teleponnya, “Halo, Hamza, kamu di mana? Jemput Nanda sekarang, dia mabuk bersama teman-temannya. Saya dan istri saya sedang ke luar kota, saya titipkan Nanda padamu. Nanti saya kirim alamat klubnya via chat.” Lalu ayah Nanda menutup teleponnya.

Setelah itu Hamza bergegas menuju ke alamat klub yang diberikan ayahnya Nanda. Sesampainya di sana, Nanda sedang berbaring di sofa sendiri, teman-temanya meninggalkan Nanda di sofa dalam keadaan tak sadarkan diri. Hamza lalu membawa Nanda ke rumah sakit di bantu oleh satpam klub.

Nanda di bawa ke UGD. Dokter jaga bilang jika ia sedikit saja terlambat membawanya ke sini, sang pasien bisa lewat. Hamza lega. Ia tepat waktu membawa bosnya ke UGD.

Setelah masa kritis lewat, Nanda dipindahkan ke ruang rawat inap. Selama di ruang rawat inap, Hamza selalu membaca Al-Qur’an setelah salat lima waktu.

Nanda akhirnya sadar, ia melihat Hamza salat dan membaca Al-Qur’an. Tiba-tiba air mata menetes dari dua bola mata Nanda. Entah perasaan apa ini, hati dan pikiran Nanda merasa tenang saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an yang dibaca Hamza. Setelah selesai membaca Al-Qur’an, Hamza bangkit dari hamparan sajadah dan melipatnya.

Saat berbalik, Hamza kaget melihat bosnya sudah siuman.
“Alhamdulillah, bos sudah sadar, apakah bos mau minum atau mau makan?” Tanya Hamza pada bosnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Hamza, bosnya malah balik bertanya.

“Kamu sedang apa tadi dan bacaan apa yang kamu baca tadi?” Tanya Nanda pada Hamza.

“Oh, itu tadi saya sedang salat lalu lanjut berzikir dan berdoa terus membaca Al-Qur’an,” jawab Hamza.

Lalu Nanda bertanya, “Kenapa kamu memilih agama Islam, kenapa tidak agama yang lain saja, Islam itu radikal, penuh kekangan. Ini gak boleh, itu gak boleh, kaya di penjara, hidup jadi tidak bebas.”

“Lalu, kehidupan bebas yang bos lakukan, apakah bos merasa bahagia? Kenapa bos mabuk setiap hari dan mempermainkan para gadis?” Jawab Hamza.

“Kamu benar, aku mabuk hingga terjerat dengan godaan obat-obatan terlarang karena aku merasa hampa. Gak tau harus berbuat apa, hidup rasanya membosankan,” sahut Nanda.

“Itu karena bos, hidup tidak punya tujuan, Islam mengajarkan dunia itu hanya tempat sementara, tempat yang kekal adalah di akhirat. Manusia itu berasal dari Allah, dan diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nys, kemudian akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia ini. Jadi, tujuan hidup kami ya, untuk beribadah meraih rida Allah Swt.,” jawab Hamza.

“Tapi orang Islam kenapa miskin-miskin,” tanya Nanda.

“Karena tujuan kami bukan mengumpulkan harta kekayaan, tapi mengumpulkan bekal untuk di akhirat. Tapi tidak semua orang Islam miskin, di Arab sana banyak orang Islam kaya raya. Dahulu ada sahabat Nabi yang kaya raya, namanya Abdurahman bin Auf, saking kayanya ia, hingga ketika akan masuk surga ia harus merangkak karena lama masa hisabnya. Harta kekayaan itu ujian,” jawab Hamza.

Selama di rumah sakit, Nanda banyak bertanya tentang Islam. Hingga saat sedang bekerja pun ia masih bertanya tentang Islam kepada Hamza. Sampai sedikit demi sedikit, sikapnya pun mulai berubah. Sekarang ia jarang pergi ke klub, ia juga pergi ke pusat rehabilitas narkotika selama tiga bulan, ia bertekad untuk bisa berhenti mengonsumsi obat terlarang itu.

Selama di pusat rehabilitasi, Nanda minta Hamza setiap hari menjenguknya dan berbincang tentang Islam. Hamza juga memberi bosnya buku-buku tentang Islam dari buku tentang para nabi hingga buku yang mengupas proses beriman kepada Allah Swt..

Setelah tiga bulan, Nanda pulang ke rumahnya, ia mencium tangan orang tuanya, kedua orang tuanya saling pandang memandang karena untuk pertama kalinya Nanda mencium tangan mereka. Terakhir, Nanda mencium tangan orang tuanya hanya ketika Nanda masih balita. Nanda juga lebih perhatian kepada orang tuanya. Dia bertanya kabar mereka dan meminta maaf atas sikapnya selama ini.

Orang tua Nanda begitu terharu dengan perubahan sikap Nanda yang sopan dan kalem. Esok harinya, Nanda berangkat ke kantor, kali ini ia mengerjakan tugas-tugasnya. Nanda hanya meminta Hamza untuk menemaninya dan terus memberitahu lebih banyak tentang Islam.

Satu bulan kemudian, Nanda mantap log in ke Islam. Awalnya ia belum memberitahu orang tuanya, ia takut orang tuanya marah. Sejak mengenal Islam, Nanda jadi sangat menghormati kedua orang tuanya, khususnya ibunya. Apa pun yang ibunya katakan, pasti ia turuti asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Hingga waktu weekend tiba, mamanya ingin mengajak Nanda untuk makan siang, mama menuju kamar Nanda dan tanpa mengetuk pintu langsung masuk. Betapa terkejutnya mamanya Nanda saat melihat anaknya sedang salat di kamarnya. Mama menunggu Nanda selesai salat.

Saat mama melihat Nanda selesai salat, mama bertanya kepada Nanda. “Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang?” Tanya mama.

“Mah, maaf, Nanda masuk Islam tidak memberitahu Mama dan Papa. Nanda takut Mama dan Papa marah.” Nanda meminta maaf sambil mencium tangan mamanya sambil bersimpuh di kaki mamanya.

Di luar dugaan, ternyata mamanya tidak marah dengan Nanda.

“Oh, jadi Islam yang membuatmu jadi berubah. Mama tidak marah, Nak, malah Mama senang. Ajari Mama dan Papa tentang Islam juga.” Sahut mamanya. Setelah tiga bulan, Nanda mengajari Islam kepada orang tuanya, akhirnya orang tuanya Nanda pun masuk Islam.

Nanda senang, akhirnya Nanda dan orang tuanya bisa belajar dan menjalani bulan puasa pertama bersama orang tuanya. Bahkan, Nanda dan orang tuanya berencana melakukan umrah di bulan Ramadan. Akhirnya, keluarga Nanda menemukan jalan keimanan lewat karyawan barunya bernama Hamza.

Selesai

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 42

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *