Ketika Langit Ikut Menangis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com — Langit sore itu mendung pekat. Kota Batam seolah menahan tangis. Di pelataran gedung tinggi berlogo keemasan, Alya berdiri terpaku, memeluk amplop putih dengan jemari bergetar. Hujan belum turun, tetapi hatinya sudah lebih dulu basah.

Tulisan di sudut amplop itu sederhana: “Surat Pemutusan Hubungan Kerja.” Tinta hitam, tegas, tanpa empati.

Alya menunduk lama. Gamis abu yang membalut tubuhnya terasa berat oleh angin sore yang membawa debu, dan dunia seolah berputar pelan di sekelilingnya. Sunyi dan asing.

Ia tak menyangka, ketaatan yang ia jaga dengan penuh hati akan membuatnya kehilangan semua yang ia punya: pekerjaan, rasa dihargai, bahkan arah hidup. Perusahaan fashion tempatnya bekerja selama empat tahun terakhir dulu seperti rumah kedua.

Sampai ia mulai berhijrah. Sejak memutuskan mengenakan gamis dan kerudung lebar, banyak hal berubah. Klien tak lagi memintanya tampil di depan, rekan kerja menjauh perlahan, dan atasannya mulai bicara dengan nada dingin.

“Ly, tolong pahami ya … bidang kita itu soal penampilan,” ujar Pak Rudi suatu siang.

“Kalau kamu terlalu … konservatif begini, susah nanti dipercaya. Dunia mode nggak bisa diatur pakai dalil.”

Kalimat itu menampar, tetapi Alya menahan air mata.

“Saya paham, Pak. Tapi saya cuma ingin kerja tanpa melanggar apa yang saya yakini.”

Sampai akhirnya, hari itu tiba. Surat pemecatan diserahkan tanpa jeda, tanpa diskusi.

Alasannya singkat: “Tidak sejalan dengan arah kreatif perusahaan.”

Dan seolah belum cukup, ketika Alya melangkah keluar dari gedung, ponselnya bergetar keras. Nomor Mbak Retno, tetangga ibunya di kampung terpampang di layar.

“Mbak Alya? Ibu baru saja dilarikan ke IGD. Kondisinya drop.”

Dunia runtuh seketika.

Perjalanan panjang harus ditempuh segera. Kampung halaman, bukanlah jarak yang dekat. Tangis Alya pecah.

Hujan deras mengguyur kota kelahiran. Alya duduk di ‘mobil travel’ dengan air mata yang tak reda.

Kantong plastik di pangkuannya hanya berisi beberapa dokumen dan mushaf kecil, bekal terakhir dari meja kerjanya. Hanya tas ransel hitam, berisi baju-baju melengkapi perjalannya menuju Mak Jah.

“Ya Allah …” lirihnya, “Kenapa di waktu yang sama, Kau ambil segalanya dariku? Pekerjaan … dan mungkin … Ibu?”

Tangisnya pecah tanpa suara.

Di luar jendela, kilat menyambar. Ia teringat wajah ibunya, Mak Jah, wanita paruh baya yang sudah lama sakit-sakitan di kampung.

Selama ini, hanya Alya yang bekerja menanggung biaya pengobatan dan kebutuhan hidup mereka.
Mereka tak punya siapa-siapa lagi. Tak ada saudara dekat, tak ada tabungan yang berarti.

Kini, sumber nafkah itu terhenti. Dan di dadanya muncul bisikan getir. “Untuk apa kau bertahan dengan semua ini? Kalau saja kau mau sedikit longgar, pasti semuanya tak akan begini.”

Bisikan itu halus, tetapi tajam. Menembus dinding hati yang mulai retak.

Di rumah sakit, tubuh ibunya terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan. Alya menggenggam tangan tuanya erat-erat. “Mak, bangun ya, Mak … Alya di sini .…”

Tak ada jawaban. Hanya suara mesin yang berdenyut pelan.

Dokter datang memberi kabar singkat, “Kondisi Ibu stabil untuk sementara. Tapi harus rawat inap, dan mungkin perlu operasi ringan. Biayanya akan cukup besar, Mbak.”

Kata “biaya” terasa seperti belati. Alya tercekat. Tabungan di rekeningnya bahkan tak cukup untuk seminggu ke depan.

Ia duduk di kursi tunggu, memeluk lutut, kepala tertunduk. Dalam kepalanya muncul bayangan masa lalu, atasan yang pernah berkata, “Kalau kamu mau tampil seperti dulu, aku jamin posisimu aman. Dunia ini butuh orang fleksibel, bukan fanatik.”

Dan entah kenapa, suara itu kembali terdengar nyaring dalam benaknya malam itu. Lalu disusul bisikan halus dari dalam diri, “Tuhanmu mungkin tak peduli. Kau taat, tetapi malah disulitkan. Bukankah lebih baik kau kembali seperti dulu? Simpan dulu gamismu agar bisa kerja lagi. Demi ibumu….”

Tangan Alya gemetar. Di pangkuannya, kerudung syar’i yang ia lipat untuk salat isya tampak menatapnya balik, seolah menuntut jawaban.

Air matanya jatuh tanpa henti. “Ya Allah … aku lelah … Aku cuma ingin Ibu sembuh. Apa salah kalau aku menyerah sebentar saja?”

Dalam hening, ia nyaris membuka ikatan kerudungnya. Namun tiba-tiba, notifikasi pesan muncul di layar ponselnya. Dari Mela, sahabatnya di grup kajian “Muslimah Bahagia” —forum tempat ia biasa berdiskusi dan saling menguatkan.

[Ukhti, kalau hari ini berat, ingat … Allah nggak pernah janji jalan taat itu mudah. Tapi Dia janji, setiap air mata di jalan itu akan diganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah]

Alya menatap layar lama. Pesan itu terasa seperti tamparan lembut, mengembalikan kesadarannya dari jurang keputusasaan.

Tangannya bergetar, tetapi kali ini ia genggam kembali kerudungnya, menekapkannya ke dada. “Aku nggak akan lepas ini, Ya Allah. Sekalipun dunia menertawakanku.”

Beberapa hari kemudian, bantuan datang dari arah yang tak disangka. Sahabat-sahabat dari Forum “Muslimah Bahagia” datang menjenguk Mak Jah. Tak sekadar menjenguk, mereka sudah menyiapkan donasi kecil untuk membantu biaya pengobatan ibunya.

Salah satu anggotanya yang berprofesi sebagai dokter, bahkan datang tak hanya menjenguk, tetapi juga membantu mengurus administrasi rumah sakit tanpa meminta imbalan.

Alya menangis dalam sujudnya malam itu. “Ya Allah … aku malu. Aku sempat ragu pada-Mu. Padahal Engkau tak pernah lalai menjaga kami.”

Di sela sujud, ia teringat doa Ustazah Wina di kajian yang dulu, “Kadang, Allah tidak ingin kita kuat. Ia hanya ingin kita bergantung. Karena saat kita merasa mampu, kita lupa untuk bersujud.”

Dan malam itu, di ruang kecil yang hanya diterangi cahaya dari jendela rumah sakit, Alya bersujud lama. Sujud yang basah oleh air mata, tetapi hangat oleh harapan baru.

Seminggu kemudian, ibunya mulai pulih. Tubuhnya masih lemah, tetapi senyumnya sudah kembali.

“Alya … Maaf ya, Mak cuma nyusahin….”

Alya menggenggam tangannya.

“Jangan gitu, Mak. Selama Alya hidup, Mak nggak pernah nyusahin.”

Mak Jah menatap gamis yang dikenakan anaknya.

“Alya … kamu masih pakai baju panjang itu, ya?”

Alya tersenyum lembut.

“Iya, Mak. Alya cuma ingin menjaga yang Allah perintahkan. Meski kadang berat….”

Mak Jah mengangguk pelan. Air matanya menetes.

“Mak dulu pikir kamu aneh, Ly. Tapi sekarang Mak tahu, mungkin karena doa dan keyakinanmu itulah Allah nolong Mak lewat orang-orang baik itu.”

Alya menunduk, menangis di pangkuan ibunya. Pelukan itu lama … hangat … dan seolah menjadi pelukan dari langit untuk keduanya.

Epilog

Beberapa bulan berlalu. Alya kini bekerja mandiri di rumah, menjahit gamis dan khimar untuk para muslimah muda yang baru belajar berhijrah.

Setiap benang yang ia jalin menjadi pengingat perjalanan hidupnya … tentang kehilangan, keikhlasan, dan keteguhan.

Di Surau kecil dekat rumah, ia sering berbagi kisah kepada adik-adik remaja yang datang dengan mata berbinar. Ia tidak berceramah, hanya bercerita dengan lembut.

“Kadang, kita pikir Allah nggak adil. Tapi kalau kita sabar, kita akan lihat … ternyata yang hilang itu cuma dunia kecil, sementara yang kita dapat adalah ketenangan yang tak bisa dibeli.”

Mereka mendengarkan dalam diam. Di luar, senja menua perlahan. Langit kembali mendung, tetapi kali ini Alya tidak takut.

Ia menatap ke atas, tersenyum, dan berbisik pelan, “Terima kasih, Ya Allah … karena Engkau pernah membuatku kehilangan segalanya agar aku belajar bahwa cukup Engkau saja yang harus aku genggam.”

Tak ada ujian yang benar-benar menghancurkan, kecuali kita memilih menyerah. Karena surga bukan milik mereka yang tak pernah jatuh, tetapi milik mereka yang terus bangkit, meski dengan hati yang berdarah.

End

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 21

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *