Oleh: Yeli Amelia
Siswi SMAN1 Mentaya Hilir Selatan
Cemerlangmedia.Com — Fajar baru saja merekah, langit perlahan berwarna jingga keemasan. Cahaya matahari menembus celah pepohonan, menyinari embun yang masih menggantung di dedaunan. Di tepi bukit kecil, seorang gadis berdiri sambil menatap cakrawala. Senyumnya samar, matanya berkaca-kaca.
Namanya Lira. Ia selalu datang setiap pagi ke bukit itu sejak kepergian kakaknya setahun lalu. Kakaknya sering berkata bahwa matahari pagi adalah simbol harapan baru. Dan Lira percaya, sinar itu mampu menguatkannya.
Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Di sana, tertulis pesan terakhir kakaknya:
“Hidup seperti matahari, Lira. Selalu terbit meski malam begitu gelap. Jangan pernah menyerah karena setiap hari adalah kesempatan baru.”
Membaca itu, hatinya terasa hangat sekaligus perih. Ia berbisik lirih pada sinar yang menyinari wajahnya, “Kak, aku rindu. Aku sedang belajar kuat, seperti yang kau ajarkan.”
“Indah, ya?” Sebuah suara pelan membuatnya menoleh. Seorang pemuda berdiri tak jauh, membawa kamera di lehernya. Senyumnya ramah.
“Ya… indah sekali,” jawab Lira singkat.
Pemuda itu melangkah lebih dekat. “Aku selalu percaya, matahari adalah guru. Ia mengajarkan bahwa meski tenggelam, ia akan kembali terbit. Selalu ada harapan.”
Lira menatapnya heran, tetapi hatinya tersentuh. “Namamu siapa?” tanyanya akhirnya.
“Raka,” jawabnya sambil tersenyum. “Kalau kamu?”
“Lira.”
Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu kembali di bukit itu. Kadang hanya diam menatap matahari, kadang berbagi cerita. Raka bercerita tentang mimpinya menjadi fotografer alam, sementara Lira tentang keinginannya membangun taman baca untuk anak-anak desa.
Suatu pagi, Raka bertanya, “Lira, apa yang kamu cari dari matahari ini?”
Lira terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku mencari alasan untuk terus bangkit. Setelah kakak pergi, aku sering merasa hilang arah. Tetapi sinar matahari selalu membuatku percaya kalau hidup harus terus berjalan.”
Raka tersenyum tipis. “Kakakmu pasti bahagia melihatmu berusaha kuat. Ingat, luka memang tak mudah sembuh, tetapi sinar matahari akan selalu datang menghapus gelap.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lira merasa sedikit lega. Ia menyadari bahwa kehilangan tidak selalu harus dilawan dengan tangis, tetapi bisa disambut dengan cahaya baru.
Suatu pagi yang cerah, Lira menutup catatannya dengan kalimat:
“Matahari adalah janji. Ia mengajarkanku bahwa meski gelap menelan malam, selalu ada cahaya yang akan kembali bersinar.”
Ia menoleh pada Raka yang duduk di sampingnya. “Terima kasih sudah menemaniku,” katanya tulus.
Raka hanya tersenyum. “Setiap orang butuh cahaya, terkadang cahaya itu datang dari matahari, terkadang dari seseorang yang mau duduk menemanimu.”
Lira tersenyum, menatap matahari yang kian meninggi. Kini, cahaya pagi bukan lagi sekadar pemandangan indah, melainkan semangat baru untuk melanjutkan hidup. [CM/Na]
Views: 52






















