Mejikuhibiniu: Menggenggam Pelangi Bersamamu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Diana Rahayu
Bab 1 Menjemput Tulang Rusuk

CemerlangMedia.Com — Semua berawal dari kalimat sederhana di depan ibu, “Kedatangan saya ingin mengkhitbah ukhty Alya sebagai calon istri saya.” Tenang, mantap, dan penuh keyakinan, kalimat tersebut meluncur dari sosok lelaki asing yang bertamu ke rumah. Aku pun terlonjak, sungguhkah lajangku kini akan berakhir? Di saat usia hampir mendekati angka 30, sosok pangeran tanpa kuda datang di depan ibu untuk meminta izin mengarungi lautan dunia bersamaku.

Sosok itu tak cukup sempurna di mataku. Memang parasnya bolehlah di angka 80, tapi penampilan culun tetap tak bisa ditutup dengan mode jalan membusung dada. Tabrakan warna coklat pramuka dari celana kedodoran yang berpadu kemeja biru, makin menunjukkan level asal keluarga lelaki itu. Tanpa cincin, tanpa buket bunga, tanpa sepaket hantaran ataupun buah tangan, lelaki itu penuh percaya diri memintaku menjadi calon istrinya.

Bukan karena terpaksa di injury time usia menikah, akhirnya aku memilihnya. Tetapi lebih karena kematangan sikap dan ketenangannya menghadapi keluargaku yang beraroma sedikit borjuis. Keyakinannya bahwa jodoh adalah ketentuan Allah Swt. membuatnya tak ragu untuk melangkah. Sebagai hamba, dia hanya menjalani ikhtiar berusaha di ruang waktu yang mampu dijalaninya.

Siapa lelaki itu? Aku tak lama mengenalnya. Dia adalah teman dari suami teman kuliahku dulu. Meski kondisinya tak sepadan dalam gaya dan standar hidup keluargaku, tapi aku meyakini satu hal bahwa dia seorang lelaki yang bertanggung jawab. Kisah perjalanan hidupnya sebagai anak bungsu yang turut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan es batu dan keripik singkong semasa sekolah menengah, membuatku mantap menjadikannya calon imamku. Ditambah dia bukanlah lelaki biasa yang kosong dari agama, maka dengan hujah apa aku harus menolaknya?

Pernikahan adalah perjalanan sepanjang sisa hembusan napas. Ibarat pneumonia, sungguh kita tak ingin dalam perjalanan pernikahan terjadi dyspnea (sesak napas) akibat ketidaksiapan dua pasangan menjalani hubungan pernikahan sebagai suami istri. Lebih menakutkan lagi, jika sampai terjadi respiratory failure (gagal nafas) di tengah perjalanan usia pernikahan, hingga ujungnya harus ada kata perpisahan dengan pasangan. Na’udzubillah min dzalika.

Semua dari kita pasti menginginkan kisah pernikahan sekokoh pernikahan baginda Rasulullah Muhammad saw.. Suami istri menjadi sahabat yang saling membantu untuk taat, saling percaya, saling mendukung dan saling menguatkan di sepanjang garis panjang kebersamaan dalam rumah tangga. Namun, apakah persiapan menuju kesana sudah kita siapkan secara matang? Ataukah hanya mengikuti arus air yang mengalir?

Realitanya, apa pun yang mengalir bersama aliran air tanpa bisa melawan arusnya hanyalah benda mati atau sampah. Meski kadang ada ikan yang mengikuti arus, itu hanya terjadi ketika ikan melakukan migrasi ataupun menghemat energi, sambil menunggu makanan yang datang terbawa arus untuk dimakannya. Perilaku hewan ini dipengaruh oleh insting bertahan hidup yang Allah swt. ciptakan padanya. Pada kehidupan ikan Salmon, dia harus melawan arus bertaruh nyawa untuk melanjutkan kehidupan generasinya.

Binatang saja bisa mempertahankan generasi hanya berdasar insting yang Allah Swt. berikan, apalagi manusia yang sudah seharusnya lebih dari binatang karena dibekali akal. Maka, sebuah pernikahan haruslah dipersiapkan dan dipahami sebagai sebuah amanah fitrah melanjutkan keturunan. Allah Swt. tatkala memberikan potensi pada manusia untuk melanggengkan keturunan melalui pernikahan, melengkapinya dengan seperangkat aturan yang akan menuntun pasangan pada kemuliaan dan keberkahan rumah tangga.

Kewajiban nafkah yang Allah Swt. bebankan pada suami terhadap istri dan keluarga haruslah terwujud dalam bentuk tekad dan kesungguhan lelaki yang akan menikah untuk mempersiapkan dirinya bekerja. Dia tak akan malu meski hanya berjualan es batu atau kerpik singkong. Semua akan dilakukannya dengan penuh tanggung jawab sebagai wasilah nafkah untuk keluarga.

Begitupun kewajiban kepengurusan rumah tangga yang Allah Swt. bebankan pada istri terhadap suami dan anak-anaknya, akan mewujud dalam pengabdian tulus seorang perempuan. Dia tidak akan terjebak pada rasa rendah narasi satir sebagai babu saat menyelesaikan pekerjaan rumah, tetapi dia lakukan sebagai wujud taat dan cinta pada amanah syariat Islam yang berujung pahala.

Memang benar, perjalanan pernikahan adalah sepanjang sisa napas kita. Maka persiapannya pun tak boleh hanya seujung tarikan napas. Mulailah berbenah memantaskan diri untuk mendapatkan pasangan terbaik. Pasangan yang mampu memegang tangan dan jiwa kita untuk tetap kokoh dalam badai terpaan kehidupan kapitalistik dan sekuler saat ini. Pasangan yang mengerti arti hidup hanya untuk beribadah kepada Allah Swt..

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia)

Views: 26

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *