Otak Bulus Lelaki

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Nur Rahmawati, S.H.
Bab 8 Kalimat ‘Aku Sayang Kamu’ Lebih Murah dari Diskon Online

CemerlangMedia.Com, FAKSI — Ada masa ketika kata “Aku sayang kamu” adalah sesuatu yang berat, penuh pertimbangan, dan tidak diucapkan kecuali dengan niat yang jelas. Tapi sekarang? Harganya sudah jatuh. Bahkan lebih murah dari voucher diskon yang tiap hari mampir di notifikasi HP.

Karena jujur saja…
Lelaki zaman sekarang ada yang bibirnya manis macam madu, tapi niatnya pahit kayak ampas kopi semalam.

Kata Manis yang Diproduksi Massal. Beberapa lelaki itu seperti pabrik gula: produksi manisannya jalan terus. Yang bedanya, kalau gula ada izin produksi, ini tidak.

Mereka dengan entengnya bilang:
“Aku sayang kamu.”
“Kamu beda dari yang lain.”
“Aku nyaman sama kamu.”
“Aku serius, kok.”
“Aku cuma sama kamu…”

Dan semua itu bisa mereka copas ke dua, tiga, bahkan empat wanita berbeda, tanpa rasa salah sedikit pun. Kata-kata ini bukan lagi ekspresi hati, tapi strategi.

Bukan lagi ketulusan, tapi alat pendekatan.
Bukan lagi perasaan, tapi permainan.
Seolah-olah mereka tahu betul titik lemah perempuan: perhatian, pengakuan, dan perasaan dihargai. Begitu yang satu goyah, jebakan pun bekerja.

Karena Ujian Wanita Itu pada Perasaan, dan Ujian Lelaki Itu pada Wanita. Mereka sangat paham bahwa wanita sering luluh bukan oleh logika, tapi oleh rasa. Itulah kenapa sebagian lelaki memilih jalan pintas: mainkan rasa → ambil kepercayaan → kendalikan hati.

Sementara wanita karena ingin merasa dicintai, sering tidak sadar bahwa yang ia dengar bukan “sayang”, tapi “tipu.”

Allah sudah mengingatkan:
“Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya…” (QS. Al-Kahfi: 28)

Kadang lelaki yang paling manis bicaranya justru yang paling kuat dikuasai nafsu.

“Sayang” Versi Mereka Tidak Butuh Tanggung Jawab. Lelaki yang benar-benar sayang akan menunjukkan dengan tindakan, bukan sekadar teks. Tapi yang sedang kita bahas di bab ini?
“Sayang” versinya itu sangat murah, karena tidak ada kewajiban setelahnya.

Tidak ada niat menikah.
Tidak ada rencana masa depan.
Tidak ada usaha memperbaiki diri.
Tidak ada keberanian menemui orang tua.
Tidak ada keseriusan berbicara masa depan.

Yang ada hanya:
sayang via chat,
rindu via stiker,
perhatian via emoji,
dan kenyamanan via telepon tengah malam.

Ketika disuruh memperjelas hubungan?
Mereka hilang sinyal.
Mendadak “sibuk”.
Mendadak “belum siap”.
Mendadak “trauma masa lalu”.
Padahal saat ngucapin “aku sayang kamu”, kok siap banget?

Kata Manis: Murah. Waktu Wanita: Mahal. Inilah tragedi yang sering terjadi:
Wanita percaya → buka hati → buka harapan → lalu terluka. Karena wanita yang sudah terlanjur jatuh hati, biasanya nggak sadar bahwa ia sedang membeli “cinta palsu” dengan harga yang terlalu mahal: waktu, perasaan, air mata, dan martabat.

Sedangkan lelaki yang hanya main-main?
Modalnya cuma jempol dan kuota internet.
Aneh kan?

Yang tulus sering yang paling hati-hati mengucapkan kata cinta.
Yang main-main? Justru paling berani.

Kenapa Mereka Berani Melakukan Itu?
Karena mereka tahu:
Wanita suka merasa spesial
Wanita suka dipuji
Wanita suka dilindungi
Wanita suka diyakinkan
Wanita suka diberikan harapan manis

Dan mereka juga tahu, selama kata-kata itu bisa membuat wanita bertahan, mereka bisa mendapatkan: perhatian, kenyamanan, teman mengobrol, bahkan keuntungan lain yang lebih jauh, tanpa perlu komitmen.

Mereka hanya memberi 10% (kata-kata), tapi meminta 90% (perasaan). Dan wanita sering tidak sadar bahwa transaksi itu sangat timpang.

Beda antara Lelaki Manis dan Lelaki Serius. Lelaki yang serius tidak mengumbar kata cinta. Dia menjaga ucapannya karena tahu setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.

Lelaki yang main-main mengumbar kata cinta seperti broadcast: sembarang, berulang, dan tidak peduli siapa penerimanya.

Perbedaan paling jelas?
Yang serius datang dengan niat.
Yang main-main datang dengan rayuan.

Yang serius bertanya:
“Bagaimana aku bisa menikahimu?”
Yang main-main bertanya:
“Kamu lagi mikirin siapa?”

Yang serius menghargai waktu.
Yang main-main menyia-nyiakan perasaan.

Jangan Percaya Kata, Lihat Arah Kakinya. Wanita terlalu sering salah fokus: mendengar bibir, bukan melihat langkah. Padahal petunjuk paling jujur adalah perbuatan, bukan ucapannya.

Jika dia benar-benar sayang, dia akan: menjaga batas, menjaga ibadah, menjaga waktumu, menjaga kehormatanmu, mendekati keluargamu, merencanakan masa depan, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang ia ucapkan.

Kalau dia hanya manis di obrolan, tapi dingin saat ditanya keseriusan…
kamu sedang disayangi di chat, bukan dalam hidupnya.

Penutup: Jangan Jadi Murah Harganya karena Kata yang Murah. Kalimat “Aku sayang kamu” memang menyenangkan. Tapi sayang… tidak semua yang manis itu sehat.

Gula bikin diabetes. Rayuan bikin luka. Jadi, kalau ada lelaki yang datang dengan kata manis, tapi langkahnya kosong? Jangan buru-buru percaya.

Cinta itu bukan soal seberapa sering dia mengucapkan “sayang”, tapi seberapa jauh dia berani melangkah untuk membuktikan. Sebab kalau hanya ingin kata manis, marketplace juga punya: “Diskon Besar-Besaran 90%!!!” tapi kamu tahu itu cuma trik jualan. Begitu pula lelaki yang menjual sayang tanpa masa depan.

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) CM/Na]

Views: 48

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *