#30HMBCM
Penulis: Nur Rahmawati, S.H.
Bab 9 Nafsu yang Menyamar Jadi ‘Kebutuhan Biologis’
CemerlangMedia.Com, FAKSi — Pembenaran syahwat atas nama ‘fitrah lelaki’. Ada satu kalimat yang sering dijadikan tameng lelaki ketika ingin melakukan hal-hal yang Allah larang:
“Ya maklum, aku ini lelaki. Punya kebutuhan biologis.”
Seakan-akan dengan mengucapkan itu, semua dosa bisa berubah jadi pahala. Seakan-akan syahwat bisa langsung naik pangkat jadi “fitrah mulia yang harus dihormati.”
Padahal kalau mau jujur, banyak dari yang mereka sebut “kebutuhan biologis” itu sebenarnya cuma nafsu yang didandani rapi, diberi parfum, lalu diberi nama yang lebih sopan.
Nafsu Berjalan dengan Jas, Bawa Sertifikat ‘Fitrah Lelaki’ Ada gaya baru zaman sekarang:
syahwat dipoles biar kelihatan seperti urgensi moral.
Contoh:
“Aku butuh ditemani, namanya juga laki.”
“Laki itu visual, wajar kalau gampang tergoda.”
“Allah ciptakan kami punya syahwat, berarti harus disalurkan.”
“Ini kebutuhan, bukan nafsu. Kamu nggak ngerti, ya?”
Hebat sekali. Nafsu bukan dihindari, tapi malah dirayakan. Bukan dilawan, malah dijadikan slogan hidup.
Padahal “fitrah lelaki” itu bukan alasan untuk berbuat buruk, tapi tanda bahwa lelaki diuji lebih berat dalam mengendalikan keinginan.
Allah sudah bilang:
“Adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surga-lah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41).
Jadi, kalau dibilang “fitrah lelaki itu kuat syahwat”… iya, benar. Tapi fitrah lelaki yang benar adalah menahan nafsu, bukan memanjakannya.
Nafsu yang Berlagak Ilmiah. Ada juga versi lain: yang membungkus nafsu dengan istilah ilmiah.
Contoh:
“Ini hormon testosteron.”
“Ini insting primal.”
“ni sifat biologis dari zaman purba.”
“Ini dorongan genetik alami.”
Lucunya, yang ngomong begitu biasanya nggak pernah baca jurnal. Tapi gaya bicara udah kayak profesor.
Padahal ilmiah atau tidak, kalau ujung-ujungnya buat mencari pembenaran zinah kecil, ya tetap sama: hanya akal bulus.
Kebutuhan biologis itu benar adanya. Tapi menuntut pemenuhan kebutuhan itu di luar pernikahan? Itu bukan “biologis”, itu biadab logis.
Nafsu yang Suka Menyamakan Diri dengan Hewan. Kalau sudah buntu argumen, ada satu jurus pamungkas:
“Hei, laki itu kayak singa. Kalau lihat mangsa, ya ingin.”
Maaf nih…
Kalau kamu membandingkan diri dengan singa, berarti kamu mengaku tidak punya akal dan aturan.
Hewan tidak dihisab.
Lelaki iya.
Hewan mengikuti naluri.
Lelaki diberi syariat.
Allah memuliakan manusia, tapi sebagian lelaki malah menurunkan dirinya ke tingkat insting.
Yang lebih lucu lagi:
Kalau soal ibadah, mereka lemot.
Kalau soal syahwat, mereka tiba-tiba jadi penceramah paling semangat.
Nafsu yang Mengutip Dalil Sesuai Selera
Ini bagian yang bahaya. Ada lelaki yang mengutip dalil bukan untuk taat, tapi untuk membenarkan apa yang ia inginkan.
Contoh:
“Nabi menikah banyak, itu sunah.”
“Laki boleh poligami.”
“Syahwat itu wajar, pernikahan untuk mencegah zina.”
Padahal konteks dan sifat mereka jauh dari sunnah. Yang dibawa cuma dalih, bukan adab. Karena kalau benar mengikuti sunnah, mereka harusnya: menahan pandangan, menjaga kehormatan wanita, tidak merayu tanpa akad, tidak menyakiti perasaan perempuan, dan tidak membuka pintu maksiat.
Tapi yang diambil hanya bagian yang sesuai selera. Selebihnya? Dibuang.
Nafsu yang Berlagak Jadi Korban. Ada juga yang model drama Korea:
“Aku tuh sebenarnya korban dari syahwatku sendiri…”
Korban?
Korban kok semangat banget nge-chat tengah malam.
Korban kok rajin minta foto.
Korban kok punya waktu untuk semua perempuan yang dia incar.
Lelaki yang benar-benar korban nafsu akan berjuang untuk keluar. Bukan membuat episode baru setiap pekan.
Fitrah Itu Adalah Ujian, Bukan Alasan
Seharusnya begini:
Fitrah lelaki: punya syahwat kuat
Tugas lelaki: mengelolanya dengan kehormatan
Caranya: menikah, menahan pandangan, menjaga batas
Bukan:
Fitrah lelaki: pengin
Solusinya: cari pembenaran
Korbannya: perempuan yang percaya
Jika setiap syahwat dianggap sebagai “kebutuhan wajib”, dunia sudah kacau.
Keinginan itu seperti api:
kalau tidak dijaga, membakar; kalaudikendalikan, menghangatkan.
Stop Menyamarkan Nafsu dengan Bahasa Religius Satu-satunya masalah bukan syahwat lelaki. Yang jadi masalah adalah pembenaran syahwat dengan nama-nama mulia: fitrah, biologis, kebutuhan, sunah, hormon.
Itu sama seperti:
* mengganti label racun jadi “minuman herbal”,
* mengganti nama hutang jadi “sedekah”,
* atau menyebut maling sebagai “pengambilan aset darurat”.
Bahasa boleh halus, tapi hakikatnya tetap sama:
nafsu yang meminta legalitas.
Fitrah Tidak Pernah Menghalalkan Dosa. Kalau ada lelaki yang benar-benar merasa punya kebutuhan biologis besar, Islam sudah menyediakan saluran yang mulia: pernikahan.
Kalau dia tidak siap menikah?
Berarti dia harus siap menahan diri.
Karena Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk mengikuti syahwat. Yang Allah perintahkan adalah mengendalikan, memuliakan, dan mengarahkan.
Jadi lain kali ada yang bilang:
“Ini kebutuhan biologis lelaki.”
Jawab dalam hati:
“Kalau itu benar kebutuhan, kamu pasti akan memuliakan perempuan, bukan memanfaatkan.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 47






















