Pintu Kebebasan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com, FAKSI — Angin malam menampar wajah Zainab ketika ia berdiri di depan tenda darurat. Bau obat-obatan, darah kering, dan debu beton bercampur jadi aroma yang sudah terlalu akrab. Gaza seperti mayat hidup. Berdiri, tetapi nyaris tanpa jiwa.

Di kejauhan, suara drone meraung seperti monster logam yang lapar. Tiap putaran baling-balingnya seperti menghitung detik yang tersisa bagi mereka yang belum menjadi angka.

Hana menggenggam tangan ibunya erat. Jari-jari kecil itu dingin, tetapi masih punya cahaya yang tak padam.

“Ummi … besok ada makanan?”

Zainab merunduk, mengusap rambut Hana yang kusut.

“Insya Allah, sayang,” jawabnya.

Kalimat itu jujur. Bukan karena keadaan, tetapi karena ia menggantungkan segalanya pada Allah.

**

Sudah tiga minggu, Gaza digerogoti bukan hanya oleh bom, tetapi oleh kelaparan.

Di radio solar yang baterainya sudah hampir mati, suara seorang relawan UNRWA terdengar retak,

“Lebih dari 6000 truk makanan, obat, dan tenda .… menunggu di perbatasan. Tapi penjajah menutup pintu. Tidak ada yang boleh masuk.”

Kata-kata itu seperti paku yang menembus jantung warga Gaza.

Dunia melihat. Dunia menangis. Dunia mengutuk.

Tapi pintu itu tetap terkunci. Pintu yang bagi Zainab lebih mirip nisan raksasa.

**

Reruntuhan rumah-rumah berbaris seperti gigi patah. Suara tangis anak-anak bercampur dengan azan dari masjid yang tinggal setengah.

Zainab melihat seorang ibu lain memeluk tubuh anaknya yang tak bernyawa.

Tidak ada darah. Anak itu mati bukan oleh bom, tetapi oleh dehidrasi.

“Ya Allah.…” bisik Zainab.

“Berapa banyak lagi yang harus gugur sebelum pintu itu dibuka?”

Tetua kamp menggeleng.

“Sampai penjajah puas, Nak. Sampai dunia kembali sibuk dengan urusannya sendiri.”

Zainab menatap langit kelabu.

Kalau umat Islam bersatu, apakah Gaza harus menunggu sampai begini?

**

Relawan lain membawa kabar:

“Di luar sana … jutaan muslim menangis melihat Gaza. Mereka turun ke jalan. Mereka berdoa. Tapi mereka tidak bisa mengubah apa pun.”

Zainab terdiam. Bukan karena tidak percaya. Tapi karena ia tahu: air mata tidak menggerakkan tank.

Doa tidak menggetarkan perbatasan jika umat tidak memiliki kekuatan politik atau militer.

“Karena negeri-negeri mereka terpisah, Zainab,” kata relawan itu pelan.

“Bendera mereka berbeda. Pemimpin mereka sibuk dengan kursi masing-masing. Tidak ada yang bisa memerintahkan satu pasukan pun untuk membela Gaza.”

Hana memegang jubah ibunya.

“Ummi … kenapa kita sendirian?”

Zainab menjawab lirih, “Karena umat Islam dipecah-pecah, Sayang.”

**

Malam itu, ketika langit luar seperti dikutuk warna merah, sebuah kabar datang dari radio:
“Pintu perbatasan dibuka! Beberapa truk mulai masuk!”

Jeritan bahagia pecah di kamp. Orang-orang saling berpelukan. Beberapa sujud syukur di tanah berdebu.

Zainab tercengang. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, jantungnya berdegup sebagai jantung manusia. Bukan jantung yang hidup hanya untuk bertahan.

“Ummi! Berarti kita bisa makan?” Hana memeluknya.

Zainab mengangguk, meski matanya masih penuh ragu.
“Insya Allah, Sayang.”

Dan untuk sesaat, Gaza penuh harapan. Untuk sesaat, mereka merasa hidup kembali.

Namun sesaat itu tidak lama.

**

Beberapa jam kemudian .…

Relawan yang sama berlari masuk ke kamp dengan wajah pucat.

“Berhenti! Jangan berharap terlalu jauh!”

Orang-orang berhenti tersenyum. Hening menelan kamp.

“Truk yang masuk .… hanya 15 dari 6000 lebih. Itu pun hanya untuk pencitraan media. Setelah itu … mereka menutup pintu lagi.”

“Tidak .…” gumam seseorang.

“Apa … apa maksudnya?” tanya seorang bapak tua.

Relawan itu gemetar.

“Ini jebakan emosional. Mereka ingin dunia berpikir mereka ‘baik’. Dan … serangan udara meningkat setelah itu.”

Seolah ingin membuktikan kata-katanya,
DUUUMMMMM!
Bumi bergetar.
DUMMMMMM!
Jeritan terdengar.
Serangan kembali lebih brutal.

Pintu dibuka sebentar. Bukan untuk memberi hidup, tetapi untuk mematahkan harapan yang tersisa.

Orang-orang Gaza runtuh dalam tangis.
Beberapa marah.
Beberapa pingsan.

Zainab berdiri terpaku.
Wajahnya tidak lagi menangis. Tapi mengeras.

**

Sambil memeluk Hana kuat-kuat, Zainab berbisik,

“Pintu ini tidak pernah benar-benar dibuka, Sayang. Selama kunci ada pada penjajah, kita adalah tawanan.”

Ia menatap reruntuhan. Ia menatap langit yang kembali dibelah misil.

Dan ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini ia rasakan jauh di dalam dada: Bantuan tidak pernah bebas.

Perbatasan bukan soal kemanusiaan. Umat Islam di luar sana menangis, tetapi tanpa satu kepemimpinan, tangisan itu hanya gema yang hilang di udara.

“Ini bukan tentang makanan, Hana .…” suaranya bergetar, tapi kuat.

“Ini tentang kekuasaan. Dan selama umat kita tercerai, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa memaksa pintu ini terbuka.”

Hana mendongak. “Lalu siapa yang bisa membuka pintu itu, Ummi?”

Zainab mengelus pipinya.

“Umat Islam sendiri. Bila mereka kembali bersatu di bawah hukum Allah. Bila mereka punya satu suara, satu komando, satu kekuatan yang mampu mengusir penjajah.”

**

Malam itu, ketika Gaza kembali diguncang ledakan, Zainab melangkah keluar tenda.

Ia berdiri di bawah langit yang koyak.

Angin kencang meniup jilbabnya, membawa debu reruntuhan.

Ia tidak lagi merasa kecil.

Ia tahu, penderitaan Gaza bukan hanya akibat kebengisan Zi*nis. Tapi karena ketiadaan satu perisai besar yang seharusnya melindungi umat.

Ia menatap perbatasan yang gelap jauh di sana.

“Suatu hari .…” bisiknya.

“Pintu itu akan terbuka bukan karena mereka memberi izin .…” Ia menggenggam tangan Hana.

“….tapi karena umat Islam kembali memiliki satu tangan yang mampu mengguncang dunia.”

Angin membawa kata-katanya ke antara puing-puing.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Gaza merasakan harapan yang bukan hanya perasaan … tetapi kesadaran.

Tamat

(*Naskah ini tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 22

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *