Prahara di Selat Malaka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Penulis: Yulweri Vovi Safitria
Bab 1 Bayang-Bayang di Semenanjung

CemerlangMedia.Com, NOVEL — Mala mengayuh sepedanya dengan terburu-buru menyusuri ruas jalan perkampungan. Dengan wajah ramah, gadis itu menyapa setiap warga yang ditemuinya.

Senyum di wajah Mala tak mampu menutupi hatinya yang sedang resah. Kedatangan laki-laki itu ke sekolahnya membuat Mala dan teman sesama guru merasa tidak nyaman. Hidup mereka terasa terancam. Sejenak, Mala larut dalam lamunannya.

Mala tidak sanggup membayangkan nasib masyarakat pulau kecil seperti mereka akan tergusur untuk memuaskan hasrat para pengusaha. Mimpi indah yang telah ia bangun bersama anak didiknya terancam buyar jika proyek raksasa itu tetap dilaksanakan.

Gadis itu menghempaskan sepeda birunya begitu saja sembari mengucap salam. Sang ayah yang sedang memperbaiki pukat di samping rumah semi permanen milik mereka, kaget melihat tingkah putri semata wayang.

“Buru-buru sekali, Nak, ada apa?” tanya sang ayah dengan logat Melayu tanpa beralih dari pukat yang ada di hadapannya.

“Mak, di mana, Pak?” ucap Mala balik bertanya.

“Ada di dalam. Ada apa? Tidak seperti biasanya kamu terburu-buru,” ucap sang ayah penuh tanda tanya.
Gadis itu memberi kode kepada sang ayah agar segera masuk. Mau tidak mau, laki-laki itu menghentikan pekerjaannya yang hampir selesai. Ia merasa ada hal penting yang ingin dibicarakan Mala.

Mala duduk di kursi kayu yang anyamannya mulai longgar, napasnya masih memburu. Di ruang tamu yang hanya beralaskan semen itu, suasana mendadak terasa menyesakkan. Sang Mak yang baru saja muncul dari dapur dengan tangan masih basah bekas mencuci piring, tertegun melihat wajah pucat putri semata wayangnya.

“Tadi di sekolah, Pak, ada orang pakai kemeja rapi datang. Gayanya perlente, tetapi omongannya dingin,” Mala memulai cerita dengan suara yang bergetar.

“Dia bilang, sekolah kita masuk dalam zona inti pembangunan. Bukan cuma sekolah, Pak. Katanya, seluruh pesisir ini akan disulap jadi kawasan industri kaca terbesar di Asia Tenggara.”

Sang Ayah, yang biasa disapa Pak Hamid, menghela napas panjang. Ia duduk di kursi seberang Mala, tangannya yang kasar karena puluhan tahun menarik pukat kini saling bertaut.

“Jadi, yang dibilang orang-orang di kedai kopi itu benar. Mereka tidak main-main.”

“Mereka menawarkan ganti rugi, Pak. Tapi mereka menyebutnya ‘ganti untung’. Padahal, bagi kita, apa artinya uang kalau rumah dan sejarah kita di tanah ini hilang?” Mala menatap ayahnya lekat-lekat.

“Lalu bagaimana dengan anak-anak didik Mala? Mereka baru saja semangat-semangatnya belajar tentang kelautan, tentang bagaimana menjaga selat ini agar tetap memberi makan untuk kita. Kalau mereka dipindahkan ke rusun di kota, mereka kehilangan jati diri sebagai anak laut.”

Pak Hamid terdiam. Baginya, Selat Malaka bukan sekadar hamparan air. Di sanalah tertanam ari-ari nenek moyang mereka. Di sanalah doa-doa dipanjatkan setiap kali perahu didorong ke air. Prahara yang selama ini hanya dianggap angin lalu, kini benar-benar mendarat di teras rumah mereka.

“Tadi sore,” Mak menyela dengan suara lirih, “Mak dengar Pak RT dikunjungi orang-orang itu juga. Katanya, kalau kita setuju pindah bulan depan, ada bonus tambahan. Tapi kalau melawan, prosesnya akan dipersulit lewat jalur hukum. Mereka bawa-bawa surat tanah dari zaman Belanda yang katanya menunjukkan tanah ini milik negara.”
Mala mengepalkan tinjunya. “Itu akal-akalan mereka, Mak! Kita sudah di sini sebelum negara ini punya nama. Kita punya hak ulayat.”

**
Keesokan harinya, kabut di Selat Malaka terasa lebih tebal dari biasanya. Mala mengayuh sepedanya menuju dermaga, bukan ke sekolah. Ia mendengar akan ada pertemuan besar di balai desa.

Di sepanjang jalan, suasana kampung yang biasanya riuh dengan gelak tawa nelayan yang baru pulang, kini berubah menjadi bisik-bisik penuh kecurigaan. Tetangga yang biasanya akrab kini saling pandang dengan tatapan penuh tanya; siapa yang sudah menerima uang dan siapa yang masih bertahan?

Di balai desa, kerumunan warga sudah memuncak. Di depan mereka, berdiri seorang pria muda berkacamata hitam dengan jam tangan emas yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Ia adalah perwakilan dari konsorsium pengembang proyek yang disebut sebagai “Gerbang Samudra Malaka”.

“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian,” pria itu berbicara melalui pengeras suara yang sember.

“Kami tidak datang untuk mengusir. Kami datang untuk membawa kemajuan. Bayangkan, anak-anak kalian tidak perlu lagi berjemur di bawah matahari untuk memancing ikan. Mereka akan bekerja di pabrik-pabrik megah, mengenakan seragam, dan mendapat gaji bulanan yang pasti.”

Mala merangsek maju ke depan kerumunan. Keberaniannya sebagai seorang guru terpanggil. “Lalu bagaimana dengan laut kami? Pabrik-pabrik itu akan membuang limbah ke selat. Ikan-ikan akan pergi dan kami akan menjadi buruh di tanah kami sendiri. Anda bilang ini kemajuan, tetapi bagi kami, ini adalah pemusnahan massal secara perlahan terhadap budaya Melayu pesisir!”

Suasana mendadak hening. Pria berkacamata itu menatap Mala dengan senyum sinis yang tipis. “Dik, Anda ini guru, kan? Harusnya Anda paham hukum ekonomi. Dunia terus berputar. Malaka adalah jalur tersibuk di dunia, sangat mubazir jika hanya digunakan untuk mencari ikan teri.”

“Kami tidak makan aspal dan beton!” teriak seorang nelayan tua dari belakang, yang kemudian diikuti sorakan setuju dari warga lainnya.

Ketegangan meningkat ketika beberapa aparat mulai merapat ke arah panggung, menjaga sang pejabat dari amuk massa yang mulai panas. Mala merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ia melihat di kejauhan, beberapa alat berat sudah mulai terparkir di batas desa, seperti monster baja yang siap menerkam saat gelap tiba.

Sore itu, saat matahari mulai tenggelam di cakrawala Malaka, Mala berdiri di tepi pantai. Air laut yang tenang tampak seperti cermin raksasa yang menyimpan sejuta rahasia. Ia tahu, perjuangan ini baru saja dimulai. Prahara ini bukan hanya soal tanah, tetapi soal harga diri sebuah bangsa yang hidup dari napas samudra.

Di bawah remang senja, Mala melihat bayangan hitam besar melintas di kejauhan selat—kapal-kapal tanker raksasa yang terus melaju tanpa peduli pada jeritan orang-orang kecil di pesisir.

Ia mengambil sebilah ranting, menuliskan kata “BERTAHAN” di pasir pantai yang basah, sebelum ombak datang menghapusnya pelan-pelan. Mala sadar, ia harus menggalang kekuatan. Jika mereka tidak bersatu, sejarah mereka akan tenggelam dalam pusaran ambisi yang bernama pembangunan. [CM/Na]

Views: 9

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *