#30HMBCM
Oleh: Nurhy Niha
CemerlangMedia.Com — Rindu yang tak pernah usai, rasanya waktu berhenti kala itu. Ayah, aku bingung bagaimana melanjutkan hidup. Ibu bahkan sampai dirawat karena tidak mau makan beberapa hari. Aku takut sendirian, rasanya sepi dan sunyi sekali.
Semua tak sama lagi tanpa ayah. Setiap pagi ayah selalu mengantarkanku sekolah. Sekarang aku pergi sendiri, berangkat lebih pagi berjalan kaki menyusuri langkah demi langkah menuju sekolah.
Melihat anak-anak lain diantarkan ayahnya makin membuat hati ini sakit. Dulu aku juga sama seperti mereka, tapi sekarang aku sendiri.
Aku tidak semangat belajar, rasanya ingin pergi ke tempat asing. Pergi ke tempat yang tidak pernah aku datangi dan tidak ada yang mengenaliku.
Aku malas sekali selalu ditanya tentang kepergian ayah. Rasanya ingin aku tutup mulut semua orang itu. Apakah mereka tidak tahu, rasanya menyakitkan mengulang cerita tentang ayah.
Aku hanya tahu ayah meninggal, kalau ditanya meninggal karena apa, bingung menjelaskannya.
Aku ingin bertemu ayah walau hanya dalam mimpi. Bertanya padanya kenapa meninggalkanku secepat ini. Kenapa tidak mengajakku juga? Aku merindukannya setengah mati.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, semua tetap menyakitkan. Aku dan ibu membiasakan diri hidup tanpa ayah. Sesekali nenek mengunjungi kami dan menginap beberapa hari di rumah.
Suatu hari aku izin pulang lebih cepat. Saat tiba di rumah, aku mendengar percakapan ibu dan nenek.
“Mah, aku masih bingung Mas Elo bisa mengakhiri hidupnya.”
Deg, ayah mengakihiri hidup. Aku pikir ayah meninggal karena tidak kuat menderita penyakit. Tenyata ayah mengakhiri hidupnya..
Kenapa bisa? Ayah mengakhiri hidupnya. Ayah selalu terlihat kuat dan bahagia ketika bersamaku. Pikiranku melayang saat kami menghabiskan waktu bersama dalam canda tawa.
“Van, Mamah curiga, Elo mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan bullying dari teman-teman kantornya,” jawab nenek.
“Bullying? Aku rasa tidak Mah, Mas Elo tidak pernah mengeluhkan teman kantornya,” ujar mamah.
“Sayang, Mamah tau Elo, dari dulu sering diejek karena bentuk badannya. Sejak kecil, teman sekolanya memanggil Elo gajah,” nenek menjelaskan.
“Oh iya, Mas Elo pernah cerita tentang panggilan gajah itu, tapi sepertinya Mas Elo sudah berdamai dengan panggilan itu dan cerita kalau panggilan itu seperti puji dalam olokan,” ibu menjelaskan.
Ibu melanjutkan ceritanya, ”Waktu kecil memang marah saat dipanggil gajah, tapi seiring dengan berjalannya waktu, sudah bisa menerima panggilan itu karena gajah itu keren. Badannya besar, tapi pandai berenang, ditambah umurnya panjang.”
“Iya, Sayang, itu Mama yang mengajarkan Elo untuk berdamai dengan panggilan itu dan ibu sengaja membuatnya sibuk belajar agar fokus pada pelajaran dibanding ejekan teman-temannya,” nenek menambahkan.
“Lalu kenapa Mama curiga Mas Elo mengakhiri hidupnya karna bullying teman kantornya?” Tanya ibu penasaran.
“Elo pernah cerita saat acara family gathering, dia jatuh ketika outbound dan semua orang yang ada di sana menertawakannya. Saat melihat Elva, Elo merasa hancur sebagai seorang ayah. Putri kesayangannya melihat ayahnya ditertawakan semua orang,” nenek menjawab.
“Pantas setelah acara itu Mas Elo jadi murung dan sering menyendiri. Aku pikir karna kelelahan, jadi aku membiarkannya menyendiri,” lanjut ibu.
Aku bingung mendengar percakapan ibu dan nenek. Ayah mengakhiri hidupnya karena ejekan temannya atau karena hancur diejek temannya di depan aku. Mungkin ayah pikir aku kecewa dan malu karena ayah ditertawakan semua orang di sana.
Aku makin bingung dan pusing sampai kesadaranku hilang.
Bruk … aku jatuh pingsan dan menghentikan percakapan ibu dan nenek.
Saat aku kembali pada kesadaranku, aku melihat nenek dan ibu dengan tatapan cemas.
“Sayang, kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan sayang?” Tanya ibu sambil mengusap rambutku.
Air mataku turun dan aku diam membisu Tidak sanggup berkata-kata.
Ibu memelukku dan kami menangis bersama. Lama sekali kami saling diam seolah tau pikiran masing-masing. Sampai nenek memecah keheningan di antara kami.
“Waktunya makan, kita makan ya, biar ada tenaga untuk bahas ayah.”
Apa yang akan nenek bicarakan tentang ayah, apakah nenek tau aku menguping pembicaraan tadi? Apakah aku kuat mendengar cerita lainnya? Apa yang harus aku lakukan. Rasanya belum siap, aku masih syok.
“Sayang, kita makan, mau Ibu suapin atau kamu makan sendiri?” Tanya ibu lembut.
“Aku mau makan sendiri,” jawabku sambil melangkah ke meja makan.
Kami makan dalam keheningan, seolah akan ada bom yang siap untuk meledak.
Setelah semua selesai makan, kami berkumpul di kamar ibu.
Nenek mengusap foto ayah dan mulai bercerita.
“Elo lahir dengan bobot yang cukup berat sampai nenek harus dioperasi karena bayi sulit untuk ke luar. Sama seperti kamu Sayang, kalian adalah bayi yang lahir di atas rata-rata bayi normal, makanya kamu adalah mini me ayahmu,”
Nenek menghela nafas lalu melanjutkan cerita.
“Elo memang bisa dikatakan bongsor, untuk usianya badannya tinggi besar, jadi banyak temannya yang memanggilnya gajah. Apalagi Elo tidak punya saudara, jadi sedikit sensitif. Awalnya, ejekan itu membuat sakit hati sampai tidak mau ke luar rumah dan pergi sekolah selama beberapa minggu. Kami sampai membawanya pada psikolog karena cukup mengganggu aktivitas dan tumbuh kembangnya.”
“Kami melakukan beberapa terapi dan menjadi support system yang Elo perlukan sampai akhirnya Elo mau bersosialisasi dengan teman-temannya.”
“Elo bisa menerima dengan santai panggilan gajah itu dan berdamai dengan teman-temannya.”
“Elo tumbuh menjadi anak yang pintar dan penuh percaya diri. Menjadi energi positif untuk sekelilingnya, bahkan Elo selalu menentang perundungan dalam hal apa pun.”
“Elo pernah bertanya, apa yang mama rasakan ketika melihat anaknya dirundung?” lanjut nenek.
Apakah ayah sedih melihat aku sering diejek karena bentuk tubuhku? Tapi ayah selalu menyemangatiku dan selalu bangga padaku, apa pun yang aku lakukan. Aku memang tak sepintar ayah, tapi aku memiliki suara yang merdu seperti ibu. Ya , walau kadang aku sering sedih karena kalah lomba menyanyi. Ayah tak pernah marah malah kita selalu bernyanyi bersama, meski suaranya tidak begitu bagus.
“Sayang, apakah kamu bahagia punya ayah seperti ayahmu?” Tanya nenek mengagetkanku.
“Ya, tentu aku bahagia punya ayah seperti ayah,” jawabku sambil menangis.
Ingatan tentang kebersamaanku bersama ayah kembali muncul dan sekarang ayah tidak ada bersamaku lagi.
Nenek memelukku. Ibu hanya diam melihat aku dan nenek berpelukkan.
“Sayang, ayahmu sudah tiada, tapi kenangannya akan tetap hidup. Ayah pergi karena memang waktunya ayah pergi. Ingatlah semua kenangan baik ayahmu dan doakan ayah.”
“Soal kenapa ayah meninggal, nenek tidak tahu pasti, yang perlu kamu ingat, ayah menyayangimu dan ayah selalu bangga padamu.”
“Seperti nenek yang ingin melihat putranya tumbuh dengan baik, ayahmu juga menginginkan kamu tumbuh dengan baik, bila kamu merasakan apa yang ayahmu rasakan nenek dan ibu selalu ada untuk menjadi tempat pulangmu, Sayang,” lanjut nenek sambil memelukku erat.
Aku sedih sekaligus bahagia karena punya keluarga yang selalu ada untukku.
Ayah, yang aku tau ayah pergi karena memang sudah waktunya ayah pergi dan aku selalu bangga pada ayah.
(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]
Views: 26






















