Karya: Nila Saadah Al Karomah
Siswi SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan
CemerlangMedia.Com — Seoul City, 13 September.
Hari ini genap usiaku 15 tahun. Namaku Alynsia Grace Amara, siswi kelas 11 di Rose’ Highschool. Sejak kecil aku dikenal rajin belajar, terutama pada sejarah dan arkeologi. Aku bercita-cita menjadi arkeolog, meski banyak teman menertawakan.
“Ngapain jadi arkeolog? Lebih baik jadi pebisnis kaya aku!” sindir seorang teman.
Aku hanya diam. Hatiku sakit, tetapi aku tahu, setiap mimpi punya jalannya sendiri.
Senin Pagi.
“Duh, aku kesiangan!” Aku mematikan alarm pukul 4.20 pagi, lalu segera berwudu dan salat Subuh. Setelah itu, aku bersiap ke sekolah.
“Alyn, sarapan dulu!” panggil Mama setengah berteriak.
“Iya, Ma!” jawabku sambil terburu-buru. Jam sudah menunjukkan pukul 5.48, aku harus cepat karena hari ini jadwalku menjadi petugas upacara sebagai pembaca visi misi sekolah.
Aku mengayuh sepeda sekuat tenaga. Syukurlah, aku tiba tepat waktu. Upacara berjalan lancar, lalu bel masuk berbunyi. Aku segera menuju kelas XI-1, kursi paling depan dekat meja guru.
Belum sempat duduk, salah satu sahabatku sudah menyapaku.
“Alyn, lihat dong, tugas fisika pekan lalu,” pinta Cia.
Cia adalah sahabat dekatku. Dia mempunyai nama panjang Ciarra Ellowen. Ia selalu membawa buku catatan kecil berisi coretan cerita dan imajinasi. Cita-citanya menjadi penulis novel, meski keluarganya sederhana. Ayahnya pedagang kecil, sedangkan ibunya buruh cuci. Banyak orang meremehkannya, tetapi ia tetap teguh.
“Kenapa nggak cari di AI, Google, ChatGPT, atau Gemini, kan ada,” candaku.
“Ah, nggak percaya aku. Salah semua nanti!” jawabnya bersungut. Aku hanya menyerahkan buku tugasku.
Tidak lama, Keysa Alverina, bisa di panggil Keysa, sahabat kami yang lain ikut duduk bersama. Keysa adalah gadis ceria, tenang, dan pandai fotografi. Namun di balik tawanya, ia menyimpan luka. Orang tuanya bercerai saat SMP, membuatnya lebih pendiam dari dahulu.
“Yuk, ke kantin?” ajakku.
“Lapar banget, ayo lah!” seru Cia.
Kami bertiga berjalan bersama. Inilah kebiasaan kami, selalu bersama, saling mendukung walau berbeda jalan.
Waktu berlalu. Hari Minggu, kami joging bersama. Setelah singgah di rumah Cia, aku pulang untuk membantu pekerjaan rumah, menyapu, mencuci, melipat, menyetrika. Malam harinya, aku rebahan di kasur, lalu menerima pesan ajakan dari Cia dan Keysa untuk berkumpul di atap rumah Cia.
Di sanalah tempat favorit kami. Itu sudah menjadi tempat sakral, atau bisa disebut markas. Di bawah langit malam, kami berbagi mimpi.
“Aku ingin suatu hari menggali reruntuhan kota kuno,” kataku penuh semangat.
“Aku akan menulis novel yang bisa jadi rumah bagi pembaca,” ucap Cia menatap catatannya.
“Aku mau memotret gajah di Afrika atau beruang kutub. Kamera ini akan jadi mataku melihat dunia!” ujar Keysa sambil mengangkat kameranya.
Kami tertawa, lalu berjanji untuk saling mendukung apa pun yang terjadi. Namun, jalan mimpi tidaklah mudah. Aku sering dibandingkan dengan kakak laki-lakiku, Kevan. Yaps, Kevan Gracetio. Seorang dokter bedah yang sukses.
“Belajarlah seperti kakakmu, masa depan jelas. Bukan cita-cita gali tanah begitu,” kata ayah, membuat hatiku remuk seperti kaca yang terbanting dari ketinggian.
Cia pun berjuang. Naskah pertamanya ditolak penerbit. “Tulisannya terlalu formal, biasa dan juga tidak menarik!” Ia sering kalah lomba, bahkan pernah dituduh plagiat karya orang lain.
Keysa juga tidak kalah pahit. Ayahnya menikah lagi, ibunya sibuk. Pulang larut malam, tidak ada yang peduli. Ia belajar menelan kesepian, meski hatinya hancur.
Suatu sore, aku melampiaskan frustrasi. “Kita cuma bermimpi. Aku tidak mungkin jadi arkeolog tanpa restu orang tua. Cia, kau penulis yang tidak dianggap dan Keysa, kau bahkan tidak punya keluarga yang mendukung!”
Kata-kata itu memecah hati Cia dan Keysa. Cia menangis, Keysa pergi diam-diam. Sejak saat itu, persahabatan kami renggang. Kami menempuh jalan masing-masing.
Aku diterima di jurusan arkeologi setelah berdebat dengan keluargaku. Namun, aku tetap merasa dibandingkan dengan Kevin.
Cia masuk jurusan sastra dengan beasiswa sambil bekerja di toko buku. Ia menulis setiap malam meski lelah. Keysa tidak kuliah. Ia bekerja sebagai asisten fotografer, belajar dari bawah meski sering diremehkan.
Namun, hidup terus menguji. Aku gagal ekspedisi pertama, dimarahi dosen pembimbing. Cia ditolak banyak penerbit, bahkan hampir membakar naskahnya. Keysa kehilangan foto satwa langka karena kameranya hilang, ia dihina, diejek karena dianggap tak profesional. Kami sama-sama hancur.
Tahun berganti. Suatu hari, sebuah pameran seni dan buku digelar di kota. Cia memberanikan diri menjual novel cetakannya sendiri. Tidak disangka, banyak pengunjung tertarik. Keysa datang membawa foto-fotonya dan orang-orang kagum dengan semua itu. Mereka semua terpukau seperti menemukan karya seni yang selama ini mereka cari.
Aku yang ragu akhirnya datang juga. Saat mata kami bertemu, semua luka terasa larut, hilang terbawa arus.
“Maafkan aku,” kataku berlinang air mata.
“Kita semua pernah hampir menyerah, tetapi lihat, kita masih berdiri,” jawab Cia menggenggam tanganku.
Keysa menambahkan, “Kita mungkin tak punya keluarga sempurna, tetapi kita punya satu sama lain.”
Malam itu, kami kembali duduk bersama di atap rumah Cia. Kami tertawa, menangis, dan berjanji untuk tidak saling melepaskan lagi.
Tahun-tahun berikutnya, mimpi kami perlahan tercapai. Aku ikut ekspedisi arkeologi luar negeri dan menemukan artefak penting. Cia berhasil menerbitkan novel di penerbit besar, karyanya dibaca jutaan orang. Keysa menjadi fotografer alam liar, karyanya dimuat di majalah internasional. Meski sibuk, kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu.
Pesan Moral:
Tidak ada jalan menuju mimpi yang mulus. Ada yang lahir dengan dukungan, ada yang berjuang sendirian, ada yang menghadapi keluarga yang hancur. Namun, sahabat sejati akan selalu menjadi rumah, tempat kembali ketika segalanya runtuh.
Sesibuk apa pun, jangan pernah putus komunikasi. Persahabatan sejati bukan tentang seberapa sering bersama, melainkan seberapa kuat tetap saling mendukung di tengah badai kehidupan.
The End. [CM/Na]
Views: 21






















