Retakan Rindu yang Berserak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
Twitter
Telegram
Pinterest
WhatsApp

#30HMBCM

Oleh: Yulianaturrahmah AY

CemerlangMedia.Com, FAKSi — Angin laut dari arah barat membawa aroma garam dan debu yang menempel di setiap sudut Gaza. Kota itu seperti tubuh yang dipaksa bertahan meski seluruh sendinya sudah retak. Namun, di balik kehancuran yang merayap sampai ke celah-celah rumah yang tersisa, ada satu hati yang terus menyalakan cahaya harapan. Hati seorang pemuda bernama Saleh Mohammed.

Di malam-malam yang semakin panjang setelah setiap serangan, Saleh selalu berdiri di depan rumah yang tinggal separuh. Ia menatap langit yang berpendar oranye oleh sisa ledakan.

“Ya Allah … kuatkan aku. Kuatkan Gaza,” bisiknya.

Dan selalu, setelah itu, ia menyebut satu nama yang tidak pernah hilang dalam doanya:

“Ya Rabb … kembalikan kakakku. Kembalikan Yusuf.”

**

Yusuf. Kakak Saleh, tempat ia belajar membaca Al-Qur’an, tempat ia bersandar ketika dunia terasa terlalu keras. Yusuf ditangkap dua tahun lalu dalam serangan tengah malam yang memporak-porandakan rumah mereka. Setelah itu, keberadaannya hilang di balik tembok penjara Zionis yang tidak pernah memberi kabar.

Di hati Saleh, dua tahun itu seperti dua abad.

Setiap hari yang ia jalani, ia mengisinya dengan kerja. Mengangkat puing, mengevakuasi korban, mengantarkan roti ke tenda-tenda, menghibur anak-anak yang trauma. Tapi di dalam dadanya, sebuah rindu terus mengalir tanpa jeda.

Sering, ketika malam terlalu sunyi, ia menempelkan wajah pada syal abu-abu milik kakaknya.

“Kaifa haluk, akhi .…?” bisiknya, walau ia tahu tidak akan ada jawaban.

**

Suatu pagi yang dinginnya menusuk sampai tulang, kabar itu datang.

Nafiz, sahabatnya sejak kecil, berlari ke arah Saleh dengan napas terputus-putus.

“Saleh! Kau harus dengar ini!”
“Ada apa?”
“Pertukaran tawanan… jumlahnya besar. Dan ….” Nafiz menelan napas, matanya bersinar, “aku dengar nama Yusuf disebut.”

Saleh terpaku. Dunia di sekitarnya seperti ikut berhenti bergerak.

“Jangan … jangan bercanda denganku, Nafiz .…”
“Aku tidak pernah se-serius ini.”

Saleh menahan napas. Dadanya naik turun cepat. Ia memegang tembok yang sudah retak agar tubuhnya tidak jatuh.

“Yusuf .…” suaranya patah, “.…kakakku?”

Nafiz mengangguk, memegang kedua bahunya.
“Ya, Saleh. Nama itu ada dalam daftar pembebasan.”

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun kehilangan, Saleh menangis sambil tertawa. Tangannya bergetar hebat.

“Alhamdulillah … Alhamdulillah .…”
Ia menengadah ke langit. “Ya Rabb, Engkau benar-benar mendengar doaku .…”

**

Hari yang dijanjikan itu tiba lebih cepat dari dugaan siapa pun.

Saleh membantu relawan lain menyiapkan jalur penyambutan di dekat pos perlintasan. Ia memeriksa ulang syal kakaknya yang ia simpan di dada, memastikan aromanya belum hilang. Ia tak sabar membalutkan syal itu kembali di leher orang yang paling ia rindukan.

“Selesai?” tanya Nafiz.
“Selesai.”
“Kau siap untuk memeluk Yusuf?”
Saleh tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lebih dari siap.”

Ia menatap langit, seolah bicara dengan Allah.

“Rabbku … jika ini hari kepulangan kakakku, izinkan aku menyambutnya dengan hati yang penuh syukur.”

**

Tetapi Gaza selalu menyimpan babak-babak takdir yang tidak pernah bisa ditebak.

Dalam perjalanan menuju jalur pertemuan, suara keras memecah angin. Roket menghantam tanah beberapa meter di depan mereka. Debu tebal meledak, mengubur pandangan. Tubuh Saleh terhempas keras ke tanah.

“SALEH!” Nafiz berteriak.

Ketika debu mereda, Nafiz berlari, berlutut, dan mengangkat kepala Saleh ke pangkuannya. Darah mengalir dari sisi tubuh pemuda itu, menggenangi tanah yang sudah lebih dulu kenyang oleh luka.

“Saleh! Dengarkan aku! Kau harus tetap hidup! Yusuf sedang dalam perjalanan pulang!” Nafiz mengguncangnya sopan, hampir putus asa.

Saleh menghembuskan napas pelan. Senyumnya muncul. Senyum yang anehnya, begitu damai.

“Aku … bahagia .…” ia berbisik lemah.

“Jangan bicara begitu!” Nafiz memegang wajahnya.

Saleh menatap sahabatnya dengan mata yang berkilau, bukan oleh nyeri, tapi oleh ketenangan yang dalam.

“Nafiz … sampaikan pada Yusuf … aku… pulang dulu .…”
Air mata keluar dari sudut matanya.
“Dan … aku menunggunya … di sisi Rabbku.”

Kepalanya miring perlahan ke samping, senyumnya masih tertinggal di wajahnya. Nafiz memekik lirih, memeluk tubuh sahabatnya yang semakin dingin.

**

Beberapa jam kemudian, rombongan tawanan yang dibebaskan memasuki Gaza. Mereka disambut dengan takbir, tangis, pelukan, dan rintihan syukur. Di antara mereka, Yusuf berjalan lebih cepat dari lainnya.

“Saleh?”
Ia mengedarkan pandangan. Hatinya resah.
“Di mana adikku? Dia pasti datang .…”

Namun setiap orang yang ia tanyai menunduk.

Sampai akhirnya Nafiz muncul dari kerumunan, wajahnya basah oleh air mata yang tak sempat ia sembunyikan. Yusuf mengerti sebelum Nafiz sempat berbicara.

“Tidak .…” suaranya seperti serpihan kaca.
Nafiz menggenggam lengan kakak itu.
“Yusuf … aku … maafkan aku .…”

Yusuf hampir jatuh, tetapi Nafiz menahannya.

“Aku ingin melihatnya,” kata Yusuf dengan suara yang patah.

Di dalam ruangan kecil, jenazah Saleh terbaring dengan wajah tenang, ditutup kain putih yang rapi. Yusuf mendekat dengan langkah yang seakan menusuk bumi.

Ia berlutut. Tangannya gemetar ketika menyentuh pipi adiknya.

“Saleh .…” suaranya pelan, “adik kecilku … engkau menungguku, ya?”
Yusuf menundukkan kepala ke dada saudaranya.
“Aku yang seharusnya melindungimu … bukan kau yang pergi dulu.”

Ia menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu per satu ke wajah Saleh.

“Aku menghabiskan dua tahun memikirkan bagaimana aku akan memelukmu ketika aku kembali … tapi kau … kau pergi sebelum aku sempat menghapus rasa rindumu .…”

Yusuf tersengal, memukul dadanya pelan.

“Saleh! Bukankah aku selalu bilang kau tidak boleh mendahuluiku?”
Ia mencengkeram kain kafan itu.
“Dengar aku, wahai adikku … aku tidak marah kau menjadi syahid. Tidak. Aku bangga. Lebih bangga daripada kata-kata mana pun di dunia ini. Tapi hatiku … ya Allah, hatiku hancur .…”

Ia menatap wajah Saleh yang damai seolah sedang tidur.

“Kau tahu, Saleh.… aku ingin datang padamu dengan hadiah dari penjara. Bukan seperti ini … bukan untuk melihatmu sudah pergi .…”

Lalu Yusuf membelai rambut adiknya, suaranya menjadi lebih lembut, nyaris seperti doa.

“Jika Allah menuliskan bahwa engkau pergi dulu … maka aku ridha. Kau pergi dengan senyum. Kau kembali kepada Rabbmu dengan kemuliaan yang tidak diberikan pada banyak orang.”
Ia menempelkan keningnya ke kening adiknya.
“Dan aku … aku akan melanjutkan perjuanganmu.”

Yusuf menarik napas panjang, menggenggam tangan itu kuat-kuat.

“Tunggulah aku, Saleh. Di tempat yang tidak ada roket, tidak ada tangisan, tidak ada penjajah … hanya ada damai dan cahaya yang Allah janjikan.”

Untuk pertama kalinya sejak bebas, Yusuf tersenyum. Senyum yang pahit, tapi penuh iman.

**

Malam itu, Gaza menyimpan dua kepulangan:
kepulangan seorang kakak kepada tanah kebanggaannya,
dan kepulangan seorang adik kepada Rabb yang telah memanggilnya dengan penuh rahmat.

Dan di balik peristiwa itu, Gaza mengingatkan dunia akan satu kebenaran pahit:
bahwa tak ada perang yang akan selesai,
tak ada luka yang akan tertutup,
tak ada bumi yang akan sembuh,
selama umat Islam masih tercerai-berai,
selama mereka dipisahkan oleh garis-garis buatan,
selama sistem Allah tidak ditegakkan untuk menyatukan satu umat di bawah satu kepemimpinan.

Gaza akan tetap menangis
hingga hari pembebasan besar itu tiba.
Hari ketika umat kembali menjadi satu tubuh,
satu kekuatan,
satu tameng yang tidak bisa ditembus oleh kezaliman mana pun.

Dan pada hari itu,
Saleh, syahid muda Gaza,
akan tersenyum dari tempatnya yang tinggi,
melihat bahwa perjuangan yang ia tinggalkan
akhirnya menemukan kemenangan yang dijanjikan Allah.

Tamat

(*Naskah ini original, tidak disunting oleh editor CemerlangMedia) [CM/Na]

Views: 30

Disclaimer: Www.CemerlangMedia.Com adalah media independent yang bertujuan menampung karya para penulis untuk ditayangkan setelah diseleksi. CemerlangMedia.Com. tidak bertanggung jawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis atau konten yang disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik yang tersedia di web ini, karena merupakan tanggung jawab penulis atau pengirim tulisan. Tulisan yang dikirim ke CemerlangMedia.Com tidak boleh berbau pornografi, pornoaksi, hoaks, hujatan, ujaran kebencian, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email  : cemerlangmedia13@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *